Kebahagiaanku … apakah ini sebuah awal dari akhir? Mendapati Gloria berada di tengah keluargaku, hatiku penuh. Andai saja Poem juga bersama kami. Ah, masih bolehkah aku berharap demikian?
“Kau yakin tidak menginap saja?”
Suara Ibu membuatku terperanjat. Kuangkat kedua alisku saat aku menanggapi pertanyaannya.
“Ada meeting dengan investor. Aku tidak dapat menundanya lagi.”
“Oh, Spencer pasti dapat mengatasinya. Tidakkah cukup jika kau memberinya arahan secara daring?”
“Tidak untuk yang ini.”
“Oh, dear,”
Senyumku terasa getir mendapati Ibu yang menghela napas. Sungguh, itu justru semakin menambah beban berat di dadaku. Jika keadaan memungkinkan, aku lebih memilih menemani Gloria bersama orang tuaku. Sayang sekali, meeting dengan investor kali ini telah kutunda lebih dari tiga kali. Itu bisa saja menghilangkan kesempatan perusahaanku.
“Gloria, Ayah … akan menjemputmu besok. Tidak masalah, bukan?”
“Hum,”
Gadisku mengangguk. Namun, dapat kutangkap keraguannya. Oh, bagaimana meyakinkannya? Aku yakin ini juga tidak mudah untuknya. Tidak hanya denganku, baginya orang tuaku juga masih sosok yang asing.
Hanya empat hari sebelumnya sejak pertemuanku dengan Gloria. Bagiku ini seperti mimpi. Maksudku … kami menjadi sedekat ini. Bukankah itu terlalu cepat?
Entah di mana benang merah itu selama ini? Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Apakah keegoisanku yang menggenggamnya terlalu erat? Jika saja aku lebih berusaha keras mencari Poem, mungkin reuni kami dapat terjadi lebih cepat.
Pada akhirnya, hubungan takdir ini tak kuasa kutolak. Bahkan Poem maupun Gloria pun tak mampu menghindarinya. Maksudku, mungkin saja mereka tidak menginginkanku.
Meski sedikit gugup, tanganku menarik tubuh kecil putriku. Berharap pelukanku mampu sedikit meyakinkannya. Ajaibnya ... dia membalas pelukanku. Senyumku merekah atas sikapnya.
“Ayah akan menelepon.”
“Aku mengerti. Aku bukan anak kecil.”
Suaranya yang terdengar menggerutu membuatku terkekeh. Sikapnya sungguh menggemaskan.
“Great!”
Keesokan harinya, aku berhasil mengatur jadwalku. Tidak mudah untuk mendapatkan penerbangan pagi. Maksudku, I’m not a morning person. Aku selalu berrsemangat menyelesaikan pekerjaanku saat orang lain terlelap. Kali ini, aku harus bisa mengatasi pagi yang selalu menjadi musuhku. Demi putriku.
Oh, aku benar-benar terdengar seperti ayah sungguhan. Beginikah rasanya? Sungguh sulit diprediksi. Kebiasaanku runtuh begitu saja setelah kehadiran putriku. Look what you've done! Hanya dalam beberapa hari. Kau mengubah segalanya, Gloria.
Sejak semalam, aku telah membayangkan begitu banyak hal. Menghabiskan waktu dengan putriku tanpa gangguan. Mendengarkan semua celotehannya tentang Andromeda. Atau pertengkarannya tempo hari dengan teman sekolahnya di pameranku. Atau tentang Poem.
Ah, jika saja Poem berkenan bergabung bersamaku dan Gloria. Tubuhku merinding membayangkan puncak kebahagiaanku. Jantungku mungkin kesulitan menahan degupannya.
There is no doubt! Kehadiran Poem menjadi segalanya untukku. Always! Tatapan dinginnya membuatku tercekat. Terkunci dalam pandangan itu memacu adrenalinku. Emosinya membuatku sakit kepala. Keteguhannya menempatkanku di puncak roller coaster. Oh, aku akan mendapatkan semua itu kembali. Setelah tujuh belas tahun!
Kewarasanku pasti bermasalah. Ini sungguh menakutkan, bukan? Maksudku, tidak ada manusia normal yang menginginkan rumitnya hidup ini. Dilihat dari manapun, we were so complicated! Jika ada yang mampu menyelamatkan kami, dia adalah Gloria.
Oh, Gloria … putriku. Jika kau menginginkan seluruh isi dunia, aku pasti mengusahakannya. Kini, suaranya yang meninggi menarik benakku ke dunia nyata.
“Ibu!”
Itu terdengar dari kamar Poem. Kupercepat langkahku meskipun tubuhku lunglai. Saat berhasil memasuki kamar Poem, langkahku terhenti di wardrobe. Pintu yang tertutup di hadapanku tak sanggup kuraih. Itu hanya satu langkah dari tempatku berdiri. Sulit dipercaya!
Tubuhku membeku. Suara yang kudengar di balik pintu menelan kebahagiaanku. Kebahagiaan yang kukumpulkan beberapa hari ini. Kebahagiaan itu tak sanggup melawan suara Poem. Itu terdengar begitu parau.
Dapat kutangkap jika Poem berusaha menenangkan Gloria. Gadisku terdengar masih terisak. Cukup keras hampir-hampir membuat napasku berhenti.
“Oh, sorry. I’m sorry, darling. Ibu pasti mengagetkanmu. Maafkan Ibu, Gloria,”
“Berhenti … mem … buatku kha … watir,”