Outsider

Susanti
Chapter #28

Bagian 28 - Poem

“Kriiing!”

Urgh, suara nyaring itu! Suara bel rumahku ternyata tidak mengusik Tom maupun Gloria. Mereka masih fokus menatap layar TV. Memainkan game konsol RPG yang dipilih Gloria. Itu sudah hampir dua puluh menit. Apakah mereka tidak lelah?

“Kriiiing!”

Suara bel kembali terdengar. Kukeringkan tanganku dengan cepat di sink. Mataku melirik pada tumpukan piring yang telah kubersihkan. Kemudian berlanjut ke meja makan. Mata elangku menangkap Gloria menolehkan kepalanya padaku. Meskipun sedikit menggerutu, aku berucap lembut padanya.

“Ibu mengerti. Ibu yang akan membukanya.”

Gadisku tersenyum kecil dan melanjutkan permainannya. Mulutnya kembali mengoceh pada Tom. Sungguh! Aku tidak mengerti satu pun ucapannya.

“Kriiiing!”

Suara bel kembali terdengar. Aku masih enggan mempercepat langkahku. Sembari melewati ruang tengah, aku bergumam.

“Mungkin itu Jose. Kau memiliki janji dengannya, Gloria?”

“Nope!”

Masih menatap layar, Gloria menjawabku cepat. Terdengar asal di benakku. Aku menyadari sesuatu. Dia lebih memilih berceloteh dengan Tom daripada menanggapiku.

“Urgh! How could you do that?”

Well, it’s legal. I won’t let you run easily this time.”

“Urgh! Get this!”

“Hey, it’s cheating!”

“Nope! I am allowed to do that.”

Hatiku berdesir menyelimuti kecemburuanku. Ketakutanku tumbuh. Gloria mungkin lebih memilih Tom daripada diriku. Wait, what is this? A cherry blossom feeling? It's mixed up! Mekar dan gugur dengan cepat. Berbanding terbalik dengan suhu rumahku yang konsisten.

Bukankah ini bagus? Perasaan campur aduk ini … pasti mewarnai hatiku. Selama ini, kurasa hatiku cenderung abu-abu.

Aku tak menghendaki sakura gugur lebih cepat. Meskipun terdengar serakah, kutepiskan kenyataan yang menamparku. Itu cukup mengganggu benakku. Maksudku ... Tom dan Hannah lebih dekat daripada sebelumnya.

Tidak hanya itu saja. Kenyataan lain juga menerorku. Kenyataan akan hubunganku dengan June. Entah bagaimana, itu … menjadi semakin rumit. Terlebih saat mendapatinya berdiri tepat di depan mataku.

Bel nyaring itu berisi June! Dia berdiri tegap di sana. Di balik pintu yang kubuka.

“Oh!”

Seharusnya aku tidak membuka pintu. Seandainya saja IKEA menjual alat pengendali waktu. Aku pasti sudah memborongnya.

June tersenyum lebar saat tatapan kami bertemu. Dia berucap dengan cepat. Mulutku sedikit terbata saat menanggapinya.

“Oh, hey! Maaf datang malam-malam. Aku … mengganggumu?”

“Umh … aku pikir … kita sudah setuju untuk …”

“Aku tahu. Kali ini saja, please. Aku memiliki pekerjaan di sekitar sini. Jadi … aku pikir tidak masalah mampir sebentar.”

Aku mengabaikan ucapan June. Hanya mataku yang menyipit. Menatapnya dengan kesal. Lelaki itu menggarukkan kepalanya. Seolah memahami bahwa aku menolak kehadirannya. Wajahnya menyeringai saat kembali berucap.

“Oh, aku juga memiliki sesuatu untuk Gloria.”

Kugerakkan pandanganku pada kedua tangannya. Itu dipenuhi beberapa paper bag berwarna merah.

“May I?”

“Itu … terserah putriku. Dia yang akan memutuskan.”

“Aku mengerti. Jadi, bolehkah aku masuk?”

Tubuhku bergeming. Mengabaikan kembali rengekan June. Tatapanku seharusnya membuatnya mengerti. Namun, menyerah bukan pilihannya kali ini.

“Hanya sebentar saja, hum?”

“June … this is just not right. Tidak hanya untukku dan putriku. Kau ...”

Lihat selengkapnya