Oxygen Paradox

White Blossom
Chapter #22

#22 Seorang Pembunuh


⦈⦊︽⦉⦇

Lysandra menoleh ke arah langit yang jauh, membuat Kieran yang ada di dekatnya juga ikut menoleh. Mata ruby pria itu fokus ke arah Lysandra yang terus menatap langit gelap di kejauhan. Aquilin, Verya dan Laraen yang sedang sibuk dengan diskusi mereka juga ikut berhenti.

“Ada apa, Lysandra?” tanya Aquilin mengikuti arah pandang Lysandra. 

Langit hitam pekat yang bergemuruh dengan petir merah, membuat semua orang yang ada di sana terhenyak. Bukankah sebelumnya cuaca tampak baik-baik saja?

“Itu dari distrik Garda,” ujar Kieran membuat Lysandra menoleh ke arahnya. 

Laraen kembali memandang langit gelap yang bergerak mendekati mereka. “Tempat yang akan kita datangi sepertinya sudah dilanda badai. Di sana gempa juga masih berlangsung, kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik jika ingin mendatangi tempat itu.”

Aquilin mengangguk, lalu melirik Verya yang tetap diam di belakangnya. Mata kuning emas wanita itu fokus ke punggung Lysandra yang masih menatap jauh.

Kenapa tidak minta maaf saja sih! Buang sikap egois dan angkuhmu itu Verya! Batin Aquilin mulai kesal dan menyenggol bahu Verya membuat wanita itu menoleh ke arahnya.

“Apa?” tanya Verya pelan dan melotot ke arah Aquilin yang menghela napas. Aquilin tidak bersuara dan hanya menghela napas, sedangkan Laraen yang ada di dekat keduanya hanya diam.

Sejak Lysandra bertanya secara terang-terangan tentang keberadaan saudaranya hari itu dan pertanyaan Kaspar yang berhasil membuat Lysandra bungkam, Kieran memutuskan untuk membawa mereka semua ke distrik Garda.

Bukan tanpa alasan Kieran menyarankan mereka mendatangi distrik tersebut. Selain untuk memeriksa keadaan di sana, Kieran juga ingin menindaklanjuti laporan dari beberapa Garda yang mengatakan adanya aktivitas mencurigakan di beberapa gua sekitar pegunungan. Daerah yang seharusnya bebas dari aktivitas manusia itu kemungkinan besar ditempati oleh orang-orang sebagai markas rahasia.

“Kami menemukan beberapa lorong baru, Kapten. Bukan lorong yang pernah kita semua buat untuk latihan! Selain itu juga ada ruang seperti penjara di sana!”

Laraen mengusap wajah saat teringat pembicaraan antara Kieran dengan salah satu Garda di bawah komandonya. Laraen yang waktu itu tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut hanya diam di tempat. 

“Semuanya sudah siap! Kita hanya perlu melapor ke jendral untuk berangkat!”

Laraen kembali sadar dari pikirannya saat mendengar suara Kieran. Beberapa Garda yang ada di sekitar mereka mengangguk saat bertemu pandang dengan Kieran. Sebagian besar dari mereka sudah menyadari situasi yang terjadi dan sudah mendapat perintah dari Kaidirien untuk memantau setiap wilayah yang kemungkinan menjadi markas Neasten.

Lihat selengkapnya