P QRS & T

The Birght Ocean
Chapter #1

Bab I: Jaga IGD Pertama

Sudut Pandang: Nurshania Salman

*********

Aku sudah tidak peduli lagi, jika aku akan dimarahi habis-habisan oleh semua orang yang ada di IGD. Waktu di jam tanganku sudah menunjukan pukul 14:04. Meskipun baru lewat empat menit, terlambat tetap saja terlambat. Setelah berjalan cepat melewati beberapa lorong rumah sakit, dan hampir tersesat beberapa kali, akhirnya aku tiba di IGD. Kedatanganku pun langsung disambut hangat oleh udara dari pendingin ruangan yang menusuk kulit, serta aroma desinfektan yang membuat hidungku ingin menangis.

Sembari mengatur nafas, aku pun melakukan pemindaian cepat. Guna mencari seseorang berpakaian baju jaga berwarna maroon, yang merupakan dokter jaga di tempat ini. Setelah melakukan pengamatan beberapa kali, aku pun menemukan seseorang yang sedang kucari. Dia adalah seorang perempuan muda, yang sepertinya hanya berusia beberapa tahun lebih tua dariku. Berkulit coklat muda cerah, berambut hitam dengan bagian tepinya yang diwarnai coklat keemasan. Untuk ukuran wanita Indonesia berusia dewasa, tubuh perempuan itu terbilang cukup mungil, dan kalau boleh jujur, tubuh perempuan itu tampak sedikit menggemaskan bagiku. Saat ini perempuan itu sedang duduk di meja nurse station, sambil fokus dengan komputer yang ada di hadapannya.

Walaupun merasa tidak enak, karena mengganggu pekerjaanya, aku tetap memberanikan diri untuk menghampirinya. Karena mau bagaimana pun, kedatanganku sudah tidak bisa dimaafkan lagi, dan para koasisten yang hendak bertugas memang diharuskan untuk melapor pada setiap dokter jaga.

Dengan penuh keraguan dan rasa takut, aku berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah. Dari kejauhan, aku sudah bisa mendengar suara jarinya yang saling beradu dengan keyboard. Entah karena gerak-geriku yang dirasa mencurigakan, perempuan itu pun tiba-tiba saja menoleh ke arahku. Begitu mata kami saling bertemu, dia langsung tersenyum ramah ke arahku. “Ada yang bisa dibantu, Dek?” Tanyanya, dengan nada bicara yang terdengar santai dan bersahabat.

“Eh…, iya Dok.” Kataku, dengan telapak tangan yang mulai sedikit bergetar dengan sendirinya. “Izin memperkenalkan diri Dok, saya Nurshania Salman. Koasisten dari rotasi penyakit dalam minggu ke sepuluh.”

“Tunggu, ini jaga IGD pertama kamu ya?” Tanpa bersuara sedikit pun, aku hanya mengangguk pelan. “Maaf ya…, Nurshania, tapi aku bukan dokter jaga disini. Aku cuma dokter internsip yang lagi ikut jaga sore. Kalau mau lapor, kamu lapornya ke Dokter Satria ya!” Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah tempat tidur, yang kini tengah dikelilingi oleh tirai panjang. “Dokter Satrianya lagi periksa pasien di dalem sana, kamu duduk dulu aja disini.” Aku pun menuruti perintah perempuan tersebut, dan hanya duduk dalam sunyi..

“Ngomong-ngomong, salam kenal ya, Nurshania. Aku Rismaully Putri Hutami, tapi panggil Ully aja ya!”

“Oh iya, salam kenal juga Dokter Ully.”

Setelah menunggu selama hampir lima menit lamanya, tirai putih itu pun terbuka dari dalam. Dan langsung memperlihatkan seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang berjalan meninggalkan tempat tidur pasien, yang aku asumsikan adalah Dokter Satria. Awalnya kukira dia berusia jauh lebih tua dari Dokter Ully. Namun nyatanya, Dokter Satria tampak beberapa tahun lebih tua dari perempuan itu, mungkin sekitar 28 hingga 30 tahun. Ketika dia berjalan menuju meja nurse station, tampak David yang berjalan di sampingnya. Meskipun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, sepertinya kedua lelaki itu sedang mendiskusikan sesuatu yang cukup serius.

Sesampainya di meja nurse station, Dokter Satria duduk beberapa kursi di sebelah Dokter Ully. Dengan David yang masih berdiri di sisi lain meja. Begitu duduk, Lelaki itu menulis sesuatu di atas secarik kertas, dan menyerahkannya kepada David. Kemudian dia mulai menggunakan komputer yang berada di hadapannya.

Tanpa mengatakan sepatah kata, Dokter Ully hanya menggerakan alis dan bibirnya beberapa kali ke arahku. Yang sepertinya merupakan sebuah isyarat, jika ini adalah momen yang tepat bagiku untuk melapor ke Dokter Satria. Sambil mengumpulkan sedikit keberanian, aku pun beranjak dari kursi, dan segera menghampirinya. Aku tidak bisa menduga apa yang akan Dokter Satria lakukan atas keterlambatanku. Namun apapun konsekuensinya, akan kuterima dengan lapang dada.

“Selamat sore Dokter Satria.” Sapaku, yang entah terdengar atau tidak. Namun ajaibnya, Dokter Satria langsung menoleh ke arahku dengan wajah tanpa ekspresi. Lelaki itu tidak mengatakan sepatah kata pun, dan sepertinya membiarkan aku untuk selesai bicara, “Izin memperkenalkan diri Dokter, nama saya Nurshania Salman. Koasisten dari rotasi penyakit dalam minggu ketiga. Sebelumnya saya minta maaf karena datang terlambat, Dokter. Soalnya tadi saya baru selesai visit pasien di bangsal rawat inap, terus lanjut bimbingan sama Dokter Azhari di poli jantung.”

Tanpa kusangka, Dokter Satria langsung tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. “Selamat sore juga, Nurshania.” Balasnya, “Iya udah gak apa-apa, kalau kamu tadi emang lagi ada kegiatan sama konsulen. Saya Satria Purnama, dokter jaga disini. Sebelumnya kamu udah dapet operan atau arahan dari senior kamu belum, soal apa aja yang harus kamu lakuin kalau lagi jaga sama saya?”

“Eh…, maaf Dokter, saya gak dapet arahan yang spesifik dari senior saya. Mereka cuma bilang kita harus periksa pasien, bantu-bantu perawat, sama belajar tindakan kalau mau.”

“Sebenernya kurang lebih emang kaya gitu doang sih. Jadi kalau ada pasien yang datang, kamu langsung periksa mandiri dulu aja secara menyeluruh. Mulai dari anamnesis sampai pemeriksaan fisik. Buat tanda vital, biasanya udah langsung diperiksa sama perawat. Tapi kalau kondisi di IGD lagi gak kondusif, kamu wajib bantu mereka juga ya! Kalau pemeriksaanya dirasa udah cukup, langsung laporin aja hasil pemeriksaan yang kamu dapetin ke saya. Habis itu, kita periksa pasiennya bareng-bareng ya. Sampai disini, udah jelas belum? Atau mungkin ada yang mau kamu tanya dulu?”

“Enggak Dokter, penjelasan Dokter udah cukup jelas.”

“Ok, kalau udah jelas…, kamu boleh simpen barang-barang kamu di ruang koasisten ya. Kalau semisalnya mau makan atau sholat, nanti tinggal minta izin aja ke saya, ke para perawat, atau ke dokter internsip yang lagi jaga. Yang penting kamu harus kasih kabar!”

“Baik Dokter, makasih banyak buat arahannya. Saya izin ke kamar jaga buat nyimpen tas dulu ya, Dokter.”

“Oh iya, boleh.”


Setelah berada di IGD selama hampir satu jam, belum ada satu orang pun pasien yang datang berobat kemari. Beberapa orang pasien yang tadinya ada disini pun sudah mulai pulang atau diantar ke bangsal rawat inap masing-masing. Di waktu luang ini, para perawat tengah berkumpul dan bergosip bersama. Sementara itu Dokter Ully dan Dokter Satria tampak asyik ngobrol berduaan di sudut ruangan, sambil tertawa kecil sesekali. Sambil mengisi waktu kosong, aku meminta tolong kepada David untuk menjelaskan padaku, segala hal yang harus kuketahui disini. Mulai dari alur pelayanan pasien, sikap dan watak para dokter, hal-hal tabu yang tidak boleh dilakukan di tempat ini, hingga warung makan terbaik untuk membeli makan siang.

Ketika tengah menyimak penjelasan yang diberikan oleh David, pintu IGD pun terbuka dari arah luar. Dari balik daun pintu kaca bening tersebut, tampak seorang wanita dan pria paruh baya yang berjalan tertatih-tatih. Salah seorang perawat yang kebetulan berada tidak jauh dari pintu depan. langsung menyambut kedatangan pasangan paruh baya tersebut dengan ramah. Lelaki itu pun mengantar mereka berdua ke salah satu tempat tidur yang terletak di zona kuning, dan meminta Si Pria untuk membaringkan tubuhnya senyaman mungkin. Dengan cekatannya, dia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana, seperti nama lengkap, usia, serta keluhan utama. Sembari melakukan pemeriksaan tanda vital pada Pria yang tampak kesakitan itu. Tidak berselang lama, dia pun memasang selang oksigen kepadanya. Dan setelah tugasnya dirasa beres, perawat lelaki itu kemudian berjalan menghampiri Dokter Satria.

“Dok Satria…, ada pasien baru.” Kata perawat tersebut “Pasien atas nama Pak Bahar, usia 58 tahun, datang dengan keluhan nyeri ulu hati sejak satu jam yang lalu. Tensi 119/78, saturasi 94, nadi 98 kali, suhu 36.7 derajat, terus nafasnya 16 kali.”

“Ok, makasih banyak ya, Mas Lutfi.” Tanggap Dokter Satria. Yang kemudian langsung menatap tajam ke arahku. “Shan…, tolong kamu periksa dulu ya pasiennya! Kalau masih belum percaya diri, coba minta tolong ke Si David buat dampingin kamu!”

David yang berada di sebelahku, langsung menyanggupi permintaan Dokter Satria begitu saja. Tanpa berlama-lama, kami berdua pun menuju tempat tidur pasien. Walaupun ini bukanlah ujian OSCE, entah kenapa jantungku rasanya berdetak begitu kencang. Selain dikarenakan ini adalah pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan pasien sungguhan, aku khawatir, jika diriku akan membuat sebuah kesalahan fatal. Yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

Setibanya di tempat tidur, aku mendapati Pak Bahar masih menahan rasa sakitnya. Jika dilihat dari posisinya yang terus menahan ulu hatinya, aku menduga jika pria itu sedang mengalami gangguan lambung atau pun organ pencernaan lainnya. Begitu mataku bertemu dengan mata Pak Bahar, yang menunjukan sebuah penderitaan karena menahan rasa sakit, tubuhku tiba-tiba saja tidak bisa bergerak selama beberapa saat. Bahkan untuk mengucapkan salam pun aku tidak bisa. Seolah-olah sesuatu telah membuatku bergidik ngeri untuk mengucapkan sepatah kata saja.

“Selamat sore, Bapak, Ibu.” Sapa David dengan lemah lembut. “Saya David, dan ini Shania, kita berdua adalah dokter muda yang lagi berjaga di IGD pada sore hari ini. Sebelumnya, boleh saya tahu, saya sedang berbicara dengan bapak siapa? ”

Sambil merintih menahan rasa sakit, pria itu mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang. “Nama saya Bahar, Dokter.” Jawab Pak Bahar.

“Baik, Pak Bahar, kalau boleh tahu, sekarang keluhannya kenapa ya, Pak?”

“Perut saya sakit Dok, rasanya kaya diteken gitu.”

“Perut bagian mana, Pak?”

“Bagian sini, Dok.” Pak Bahar menunjukan area ulu hatinya yang dari tadi dia genggam sekuat tenaga.

Setelah beberapa saat, akhirnya jantungku kembali berdetak dengan cukup stabil. Karena dirasa sudah tenang, aku pun mencoba untuk membantu David melakukan tanya jawab. “Sakitnya kira-kira udah berapa lama Pak?” Tanyaku.

“Dari dulu juga perut saya sering sakit-sakitan kaya gini, Dok. Biasanya sih langsung hilang kalau dikasih obat lambung. Tapi yang sekarang gak ilang-ilang, padahal saya udah minum obat lambung.”

“Tapi sakitnya cuma di sana aja, Pak? Atau rasanya kerasa sampai ke tempat lain juga?”

“Samar-samar bahu sama dada juga ikutan sakit, Dok. Cuma gak sesakit yang di ulu hati aja.”

“Selain sakit di daerah perut atas, ada keluhan lain gak, Pak? Kaya mual muntah atau demam.”

“Palingan cuma agak mual aja sih, Dok. Tapi gak sampai muntah juga. Kalau gejala-gejala yang lain gak ada sih.”

“Kalau dulu bapak pernah sakit apa kira-kira?”

Lihat selengkapnya