P QRS & T

The Birght Ocean
Chapter #2

Bab II: Wanita Pukul Dua Pagi

Sudut Pandang: Satria Purnama

*********

Aku tidak menyangka jika orang-orang disini akan suka dengan coklat mint yang kubawa. Padahal aku berniat menyimpannya untukku seorang diri, tapi hanya dalam waktu kurang dari sehari, minuman saset itu sudah langsung habis tidak tersisa. Padahal teman-temanku yang bekerja di luar Rumah Sakit Sehat Nusantara selalu mengomentari rasanya yang seperti pasta gigi. Dikarenakan butuh segelas minuman untuk menemaniku begadang sepanjang malam, akhirnya kuputuskan saja untuk menyeduh secangkir teh panas yang ada. Namun betapa beruntungnya aku, ketika mendapati sebungkus saset terakhir dari coklat mint panas yang tergeletak begitu saja di atas dispenser.

Sekembalinya aku dari dapur IGD, sambil membawa secangkir coklat panas yang masih mengepul, aku mendapati Ariel yang sedang duduk seorang diri di tengah-tengah meja nurse station. Sementara itu, terlihat Bu Winda dan juga Lutfi di sisi lain ruangan, sedang sibuk memeriksa peralatan dan obat-obatan di IGD. Sepertinya mereka berdua sedang mendata kelengkapan alat dan obat untuk akreditasi mendatang.

Karena tidak tahu harus melakukan apa, aku pun langsung duduk di sebelah Ariel yang sedang sibuk sendiri dengan ponselnya. Begitu mendapati diriku di sebelahnya, lelaki itu langsung buru-buru mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku scrub-nya.

“Santai lah, Ariel!” Kataku, “Sekarang juga lagi gak ada pasien kok. Kalau mau main game, main aja lah! Gak ada kan yang ngelarang kalian main game di IGD? Asalkan kalian harus terus siaga aja setiap kali ada pasien yang datang.”

“Eh…, iya Dokter.” Ucap Ariel sedikit malu-malu. “Sebenarnya saya juga gak terlalu ingin main game sih. Cuma gabut aja, dan bingung harus ngapain.”

“Ya kalau bingung mau ngapain, kamu ikut Bu Winda sama Mas Lutfi check alat-alat di IGD lah!” Dengan sedikit canggung, Ariel langsung tertawa kecil. Yang entah mengapa, aku merasa dia hanya mencoba menghargai leluconku saja.

“Kalau boleh tahu, Dokter Satria ada rencana mau ambil spesialis atau sekolah lagi gak?”

“Heh,pertanyaan mainstream anak kedokteran itu!” Dan Ariel pun kembali tertawa. Hanya saja tawanya kali ini terdengar lebih tulus dan alami dari sebelumnya.

“Gak apa-apa lah, Dok. Daripada kita berdua cuma duduk sambil bengong semaleman. Mending kita basa-basi sedikit, biar seenggaknya ada kerjaan gitu.”

Sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan Ariel, aku menarik nafas dalam beberapa kali. Yang justru membuatku terdengar seperti orang yang sudah kehabisan nafas terakhir. “Jujur aja, gak ada rencana buat ambil spesialis atau sekolah lagi aku, Riel.”

“Emangnya kenapa, Dok?”

“Kaya…, gak mungkin aja buat dilakuin. Biaya buat spesialis di zaman sekarang tuh udah gak masuk akal aja. Apalagi buat aku yang pendapatannya di bawah sepuluh juta per bulan. Kalau buat sekolah lagi, aku emang gak ada niatan buat sekolah lagi.”

“Kalau dipikir-pikir…, bener juga ya, Dok. Buat masuknya aja udah banyak ngebakar uang, belum lagi biaya-biaya lainnya. Tapi, kalau misalnya ada kesempatan, kaya dapet beasiswa gitu atau mungkin dibayarin sama konglomerat, Dokter Satria mau ambil spesialis apa nantinya?”

“Apa ya? Mungkin yang santai-santai aja lah. Kaya ambil jantung, urologi, paru, atau mungkin ortopedi.”

“DOK! Tolong banget lah ini mah! Itu semua gak ada ringan-ringannya sama sekali.”

Dan aku pun hanya tersenyum tipis sambil menggeleng beberapa kali, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Ketika mataku tertuju pada pintu IGD yang berada tepat di hadapan kami berdua, aku baru saja menyadari jika salah satu daun pintunya terbuka lebar-lebar. Dilihat dari arahnya yang menghadap ke dalam ruangan, dapat disimpulkan jika ada seseorang dari luar yang berjalan masuk melewati pintu tersebut. Meskipun perhatian kami sempat teralihkan saat mengobrol, aku sangat yakin jika tidak mendengar seseorang membuka pintu tersebut.

Belum juga rasa penasaran tersebut terjawab, tiba-tiba saja aku merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukan. Tidak lama setelah itu, terlihat sesosok bayangan yang berjalan ke arah kami berdua. Setelah menunggu beberapa detik, bayangan tersebut mulai menampakan wujud aslinya. Dia adalah seorang gadis muda, kemungkinan berusia awal 20 tahun, bertubuh tinggi langsing, berambut hitam pendek sebahu. Seketika aku mencium aroma parfum yang begitu wangi dari tubuhnya. Walaupun udara pada malam ini terasa begitu menusuk, wanita tersebut mengenakan piyama yang sedikit terbuka. Selain itu, dia juga tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Kelihatannya gadis itu sedang terburu-buru, sehingga dirinya tidak sempat berpakaian dengan benar.

Begitu melihatku, gadis itu langsung berjalan terburu-buru menghampiri kami berdua. Aku dan Ariel pun berdiri di balik meja nurse station untuk menyambutnya. “Ada yang bisa kami bantu, Mbak?” Tanyaku.

“Mas! Pak! Eh…, Dokter!” Ucapnya dengan begitu panik. “Tolong, Kakak saya…, dia ngalamin kecelakaan.”

“Eh…, emangnya Kakak Mbak ngalamin kecelakaan gimana?”

“Tangannya Dok…,tangannya habis disayat pisau sama kakak ipar saya. Sampai darahnya keluar banyak. Tadi lukanya udah ditutup sama keponakan saya, tapi darahnya masih gak berhenti keluar, Dok. Dok tolongin! Dokter bisa kan bantu Kakak saya?”

“InsyaAllah, saya usahain buat bantu kakaknya Mbak. Tapi sebelumnya, Mbak tenang dulu! Sekarang Mbak susul kakak Mbak dulu, terus bawa kakaknya kesini, biar bisa segera kita tangani.”

Tanpa mengucapkan apapun, perempuan itu hanya mengangguk paham. Lalu tiba-tiba saja, dia langsung berlari meninggalkan kami berdua begitu saja. Awalnya aku merasa tidak ada yang aneh soal kejadian barusan. Hanya seorang gadis muda yang mengkhawatirkan kondisi kakaknya. Namun ketika melihat ke arah Bu Winda dan Lutfi, mereka berdua masih tengah sibuk memeriksa lemari peralatan di IGD. Bahkan Lutfi sempat tertawa cekikian beberapa kali, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa barusan. Padahal sepengetahuanku Bu Winda dan Lutfi adalah salah satu perawat di IGD yang sangat cekatan. Apalagi jika kedatangan pasien yang berlari histeris seperti barusan,

“Riel, kamu liat perempuan tadi kan?” Tanyaku dengan penuh rasa curiga.

“Liat lah Dok!” Jawabnya. “Masa perempuan segede gitu gak keliatan sih?”

Dadaku terasa begitu lega, setelah mendengar jawaban dari Ariel. Itu artinya, sosok perempuan yang kami temui tadi bukanlah sekedar halusinasi belaka. Mungkin saja Bu Winda dan Lutfi terlalu sibuk melakukan pengecekan alat-alat, sehingga mereka berdua tidak menyadari kehadiran perempuan tadi.

Lihat selengkapnya