Sudut Pandang: Satria Purnama
*********
Waktu di jam tanganku sudah menunjukan pukul 13:48. Jika saja air yang bocor dari lantai atas tidak merembes turun melalui langit-langit kamarku, pastinya aku sudah berada di tempat ini 45 menit lebih awal. Meskipun demikian, tidak ada satu orang pun yang benar-benar bisa disalahkan atas kejadian barusan. Pemilik gedung tidak wajib memantau seluruh pipa air yang ada di apartemennya untuk setiap detik, dan pasangan muda yang tinggal di lantai atas juga tidak pernah mengharapkan kejadian tersebut sama sekali. Bahkan mereka sudah berbaik hati dengan menawarkan jasa bersih-bersih untuk kamarku.
Setibanya di depan ruangan dokter jaga ruangan, aku tidak mendapati satu orang pun di dalam sana. Padahal biasanya aku selalu menemukan Dokter Bagas yang sedang sibuk dengan laptopnya pada jam-jam seperti ini. Namun belum juga aku melangkah masuk ke dalam sana, pintu kamar mandi sudah lebih dulu terbuka dari dalam, dan memperlihatkan Dokter Bagas yang melangkah keluar dari dalam sana.
Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap satu sama lain dengan perasaan sedikit canggung. Dokter Bagas yang menyadari hal tersebut, langsung memutar bola matanya dengan malas sembari menggeleng kesal. “Kaya lagi bertamu ke rumah orang aja kamu, Sat!” Ucapnya, “Cepetan masuk!” Lalu pria tersebut duduk di meja kerja dan mulai membuka laptopnya seperti biasa.
“Kalau gitu…, aku masuk ya Dok!” Balasku, sambil tertawa kecil cekikian.
“Iya ya, masuk aja Sat!” Tanpa melihat ke arahku, Dokter Bagas terus menatap ke arah laptopnya. Aku pun segera berjalan ke arah sebuah lemari besi yang berada di sisi lain ruangan, dan mencari-cari slot yang masih kosong.
“Oh iya Sat, aku boleh nanya sesuatu ke kamu gak?” Rasanya tidak sopan jika aku berbicara sambil membelakangi Dokter Bagas, tapi barang-barangku akan terjun bebas jika aku tidak segera mendorongnya ke dalam. Jadi kuputuskan untuk merapikan isi lemariku terlebih dahulu, sebelum berbicara dengan pria tersebut.
Dalam waktu kurang dari satu menit, aku langsung berbalik ke arah Dokter Bagas. Yang ternyata sudah menunggu jawabanku dari tadi. Namun untungnya saja pria itu masih terlihat begitu tenang di kursinya. “Boleh-boleh aja. Emang Dokter mau nanya apaan?”
“Bukan nanya juga sih sebenernya, cuma mau minta pendapat dari kamu soal anak-anak iship periode ini. Mereka kan udah dua minggu nih kerja di Rumah Sakit Sehat Nusantara. Kalau menurut kamu pribadi, ada unek-unek yang mau disampein gak soal kinerja dokter-dokter internship yang sekarang?”
“Jujur aja, aku belum bisa jawab sih, Dok. Dokter sendiri juga tahu kan, kalau mereka baru dua minggu disini. Tapi so far so good sih, mereka-mereka pada aktif buat bantu-bantu, dan gak pernah takut buat nanya-nanya kalau ada yang masih bingung. Emangnya kenapa Dok?”
“Sebagai pendamping, kan udah jadi tanggung jawabku buat mastiin keberadaan mereka gak mempersulit kinerja dokter-dokter yang lagi bertugas. Tapi kalau aku perhatiin, kamu kayaknya deket banget sama Si Rismaully. Kalian emang udah saling kenal ya sebelumnya?”
“Udah bukan kenal lagi, Dok, kita udah temanan lebih dari sepuluh tahun! Kakaknya Si Ully itu sahabat baik aku dari zaman kita masih SMP. Ya otomatis aku jadi deket juga sama itu anak. Kebetulan juga Si Ully kan lulusan Universitas Sumpah Pemuda, dan sejak kuliah kita berdua jadi malah makin nempel kaya bakteri neisseria gonorrhoeae.” Seketika Dokter Bagas langsung tertawa lepas bercampur kesal, setelah mendengar candaanku. “Sampe-sampe banyak yang ngira kalau kita berdua kakak adek. Yang lebih parah lagi, banyak yang ngira kita pacaran.”
Dokter Bagas pun kemudian mengangguk paham setelah mendengar penjelasaku, “Emang gak ngeheranin juga sih. Kelakuan kalian berdua tuh emang bener-bener kayak kakak adek banget.” Seketika aku pun tertawa geli mendengarnya. Walaupun terdengar sedikit menyebalkan, sebenarnya aku 100% setuju dengan apa yang diucapkan pria tersebut. “Seenggaknya hubungan di dokter iship sama dokter umum jadi gak kaku-kaku amat lah ya.”
“Ya…, bisa juga sih. Ngomong-ngomong, ada operan pasien ruangan gak, Dok?”
Kemudian Dokter Bagas mengintip ke arah buku catatan kecil dari dalam saku snelinya, kemudian menggeleng pelan. “Sejauh ini aman-aman aja kok, Sat. Cuma tadi ada pasiennya Dokter Bintang, atas nama Pak Rusly dari Bangsal Kaltim, ngeluh mual sama muntah udah lebih dari enam kali dari pagi. Pasiennya udah di-visit sama Dokter Bintang sendiri, dan dikasih ondansetron extra 8 miligram. Terus Dokter Bintang minta tolong buat di-follow lagi sebelum pemberian ondansetron berikutnya. Terakhir dikasih sih sekitar jam sepuluhan, berarti nanti kamu visit lagi aja jam enaman, Sat! Cuma itu aja operannya.”
“Oke Dok, makasih buat operannya. Saya mau pergi keliling ruangan dulu ya kalau gitu.”
“Ok Sat! Kalau semisalnya ada apa-apa atau perlu sesuatu, aku masih disini sampai jam empatan ya!”
“Lama banget Dok sampai jam empat, emangnya mau ngapain disini?”
“Biasa lah Sat, ngerjain tugas rutin dokter kepala ruangan. Nyusun laporan pasien ruangan buat laporan akhir bulanan ke bagian manajemen.”
Setelah visit ke beberapa bangsal rawat inap, aku belum juga mendapati adanya keluhan-keluhan dari para pasien di ruangan. Jika kondisinya aman terkendali hingga jam sembilan malam nanti, aku bisa menghabiskan waktu dengan membaca buku sepanjang shift sambil ngemil atau bermain game. Ketika melangkah masuk ke dalam Bangsal Kaltim, aku langsung disambut hangat oleh aroma pisang goreng yang sepertinya baru saja diangkat dari penggorengan. Setelah berjalan melewati deretan ruangan yang ada di bangsal ini, aku merasa jika aroma pisang goreng tersebut tercium semakin kuat.
Janice yang sedang duduk seorang diri di meja nurse station, langsung menyambut kedatanganku dengan senyuman hangat di wajahnya. “Lagi jaga ruangan, Dok Sat?” Tanyanya.
“Iya nih Ci, sekarang jadwalnya aku buat jaga sore ruangan.” Jawabku, “Btw kok disini ada harum pisang goreng ya. Lagi ada yang makan pisang goreng emangnya?”
“Bukan Dok, itu Bu Sarah. Beliau lagi masak pisang goreng di ruang istirahat.”
“Lah…, masaknya pake apaan Ci? Emang disana udah ada dapur ya?”
“Rumah sakit kita belum sekaya itu, Dok.” Aku reflek tertawa begitu mendengarnya. “Bu Sarah bawa air fryer sendiri dari rumah. Jadi sekarang mereka lagi pada bikin pisang goreng pake air fryer di ruang jaga.”
“Kalau dicium dari baunya, kayanya enak sih. Oh iya Ci Janice, pasien atas nama Pak Rusly ada keluhan lagi gak sejak terakhir divisite sama Dokter Bintang?”
Kemudian Janice membuka rekam medis pasien, lalu membaca CPPT dan catatan keperawatan. “Aman kok Dok. Terakhir dikasih scopma plus jam 14:01 sama Bu Sarah, dan setelah itu pasiennya juga ga ngeluh apa-apa lagi. Tanda vital terakhir juga masih cukup bagus, tensi 121/88, nadi 87 kali, suhu 36.8, nafas 20 kali, sama saturasi oksigennya 98 %. Palingan advice dari Dokter Bintang…, minta tolong ke dokter umum di ruangan buat follow up pasiennya ketika hendak memberikan ondansetron berikutnya. Itu aja sih, Dok.”
“Jadi nanti aku balik lagi sekitar jam enam kan, Ci Janice ?”
“Iya Dok, nanti Dokter Satria balik lagi aja kesini waktu ondan berikutnya mau dikasih…, sekitar jam 18:20.”
“Ok Ci, kalau gitu aku balik ke kamar jaga ya.”
Dan Janice pun langsung mengangguk pelan sambil tersenyum kecil ke arahku. “Siap Dok Satria. Kalau ada apa-apa, nanti Janice langsung telepon ke HP dokter ya.”
Ketika berbalik ke arah pintu keluar, aku melihat tiga sosok yang berjalan cepat ke arah kami. Setelah mereka beberapa langkah lebih dekat, aku baru saja menyadari jika itu adalah Dokter Azhari, dengan Wulan dan Shania yang berjalan di belakangnya. Keberadaan mereka berdua di belakang sana, dengan postur tubuh tegap yang terlihat begitu kaku, membuat kedua gadis itu tampak seperti pengawal pribadi Dokter Azhari.
Sesampainya di meja nurse station, Dokter Azhari langsung menyapa kami berdua dengan nada bicaranya yang khas. Kemudian dia duduk di salah satu kursi, dan bertanya soal pasien-pasiennya kepada Janice. Dengan sigapnya, perempuan itu langsung mengambil lima tumpuk rekam medis yang sudah dia siapkan sebelumnya. Begitu menerima tumpukan rekam medis tersebut, Dokter Azhari mulai membaca isinya satu per satu, sambil sesekali mempertanyakan beberapa informasi kepada Janice. Di sisi lain, Shania dan Wulan masih berdiri mematung di belakang Dokter Azahari. Sembari menyimak setiap kata yang keluar dari mulut pria tersebut dan mencatatnya.
Awalnya aku berencana untuk segera angkat kaki meninggalkan Bangsal Kaltim, di saat Dokter Azhari sedang sibuk menganalisis tumpukan rekam medis tersebut. Tapi aku langsung urungkan niat tersebut, dan berjaga-jaga jika keberadaanku dibutuhkan di tempat ini.
“Shania, Wulan!” Panggil Dokter Azhari, yang membuat kedua gadis itu tampak sedikit tegang. “Pasien perempuan, berusia lima tahun, datang dengan keluhan mudah lelah, nyeri-nyeri badan, terutama pada area siku dan lutut, demam, sama ada bintik-bintik kemerahan. Menurut kalian, differential diagnosis-nya mengarah kemana? Coba kamu dulu aja, Shania!”
“Eh…, kalau ada anak kecil, demam, mudah lelah…, kemungkinan ke arah demam rematik akut, Dokter.” Jawab Shania dengan penuh keraguan dan rasa putus asa.
Tanpa banyak bereaksi, Dokter Azhari hanya mengangguk pelan. “Ok, setuju saya sama DRA. Diagnosis lainnya?”
“Atrial septal defect, Dokter?”
“Buat ASD…, ya masih bisa buat dipaksain masuk lah. Ada lagi yang lain? Coba sekarang giliran Wulan deh!”
“Myocarditis, Dokter.” Jawab Wulan.
“Boleh! By the way, ceritanya belum dilakuin pemeriksaan fisik dan penunjang ya. Jadi kalian cuma dapet informasi soal empat gejala yang tadi saya sebutin aja. Kira-kira, ada diagnosis yang mau ditambahin gak?”
“Peridicarditis?”
“Kalian belajar disini tuh biar jadi dokter umum, atau mau dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sih?”
“Eh…, dokter umum, Dokter.”
“Nah, kalau kalian berdua jadi dokter umum, kenapa kasih jawabannya itu-itu aja? Jangan mentang-mentang lagi di rotasi penyakit dalam minggu kardiologi, kalian fokusnya cuma ke penyakit-penyakit yang berhubungan sama jantung aja ya!” Tanpa diduga, Dokter Azhari langsung menatap ke arah wajahku. “Sat, coba tolong bantu kasih jawaban yang lain.”
Aku yang baru saja tersadar setelah melamun selama beberapa saat, hanya bisa melihat wajah mereka bertiga dengan bingung. “Tadi pertanyaanya apa Dok?”
“Aish, kamu mah! Kirain dari tadi nyimak apa yang kita omongin. Pasien perempuan, lima tahun, datang dengan keluhan mudah lelah, demam, nyeri-nyeri di lutut sama siku, terus ada kemerahan. Pemeriksaan fisik sama penunjang belum ada. Diagnosis bandingnya apa menurut kamu? Tadi Si Shania jawab DRA sama ASD. Jawaban Si Wulan myocarditis sama pericarditis. Kalau dari kamu sendiri, kira-kira jawabannya apa?”
“Kalau dari saya…, kayanya aku bakal jawab demam rematik akut juga. Tapi kalau gak boleh sama, mungkin dengue haemorrhagic fever aja lah Dok. Oh…, usianya tadi lima tahun ya? Kemungkinan lainnya bisa juga campak, rubella, atau gak hand foot mouth disease. Atau yang rada jauhan sedikit, septic arthritis, Dok.”