Sudut Pandang: Rismaully Putri Hutami
*********
Sambil duduk seorang diri di ujung meja nurse station, aku terus menggerutu kesal soal jaga IGD pada pagi ini. Supaya tidak terlalu memikirkan keberadaan Dokter Tora dan juga Ghea di tempat ini, aku pun mencoba menyibukan diri. Dengan mengerjakan laporan kasus yang harus siap dalam beberapa hari lagi. Walaupun disini terasa begitu dingin, dan rasanya aku ingin muntah setelah mencium aroma pengharum ruangan rasa jeruk, aku terus meyakinkan diriku jika disini adalah tempat yang paling sempurna untuk menjaga kewasanku dari kedua manusia tersebut.
“Sendirian aja nih, Dokter Ully.” Tiba-tiba saja Mbak Riana datang entah darimana, dan langsung duduk tepat di sebelahku. “Lagi sibuk ngapain sih, Dok?”
“Eh…, iya nih Mbak Ana.” Jawabku, “Lagi sibuk buat laporan kasus. Soalnya kan mau dipresentasiin di depan dokter-dokter spesialis. Jadi gak kebayangkan kan malunya kaya gimana, kalau pas maju nanti masih banyak yang kurang.”
“Santai aja kali, Dok Ully. Dokter-dokter spesialis disini tuh baik-baik kok orangnya.”
“Dokter spesialisnya sih emang pada baik sih, Mbak. Tapi dokter umumnya tuh yang bener-bener anomaly orangnya, apalagi yang jaga IGD…,” Tanpa melanjutkan perkataanku, aku hanya melirik pelan ke arah Dokter Tora. Mbak Riana yang langsung paham akan maksud dari ucapanku, hanya tertawa cekikian sambil menyikut dada kananku dengan pelan.
“Dok, tolong banget ini mah, kalau ngomongin orang tuh, ya jangan terlalu terangan-terangan kaya gitu lah! Tapi yang dokter omongin sebenernya emang fakta sih. Disini tuh emang sumber racunnya Rumah Sakit Sehat Nusantara.”
“Nah, itu dia Mbak. IGD disini tuh emang sumber dari segala jenis toksik.”
“Ya tapi untungnya aja masih ada orang-orang yang agak warasan disini, kaya Si Bapak, Koh Abraham, Mbak Laras, Mbak Sekar, sama Si Mas Satria. Kalau aja gak ada mereka-mereka, bisa kacau lah IGD kita ini.”
“Iya iya, bener banget Mbak. Kalau aja mereka gak ada…, udah gak ketolong lagi IGD disini. Tapi anehnya ya Mbak, mereka yang rada-rada anomaly itu, justru kebanyakan orangnya pada pinter-pinter loh kalau aku perhatiin.”
“Bukannya yang begitu mah udah biasa ya, Dok? Maksudnya orang-orang yang otaknya encer atau paling enggak kinerja tugasnya bagus, biasanya suka seenaknya aja. Karena ngerasa paling superior, jadinya mereka yakin kalau posisinya di tempat kerja bakalan aman.”
“Bener juga sih, Mbak. Apalagi kalau bapaknya sekarang ngejabat jadi dirut rumah sakit. Makin seneng aja dia buat masalah disini.”
“Sepet aja terus orangnya, Ly! Sampai telinga merah kepanasan gara-gara kalian berdua omongin terus.” Seketika saja aku dan Mbak Riana dibuat terkejut, akan keberadaan Kak Satria yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan kami berdua. Ditambah lelaki tersebut berdiri tegak sambil berkacak pinggang, seolah-olah dia hendak mengkonfrontasi kami berdua.”Kalian berdua ini yah, makin didengar, makin gak beres aja omongannya. Apalagi kamu, Ully, ngomong pas lagi satu ruangan sama orangnya. Gak sekalian langsung di depan telinganya, atau pake microphone IGD? Biar seisi rumah sakit tahu kalian lagi ngegibahin siapa.”
Aku tidak tahu harus merespon apa, jadi kuputuskan saja untuk tertawa mengejeknya. “Ya habisnya Kak, aku kesel banget tahu. Udah mah dokter jaganya Si Dokter Tora, terus temen jagaku Si Ghea lagi.”
Kali ini giliran Kak Satria yang tertawa mengejekku, sambil menepuk kepalaku beberapa kali. “Namanya juga dunia kerja, Ly. Pasti ada aja momen dimana kita harus kerja bareng sama orang yang gak cocok sama kita. Lagian mereka juga disana gak ganggu kamu kan? Jadi ya udah lah, biarin aja!
Ngomong-ngomong, dari tadi aku bosen banget di kamar jaga. Jadinya mau beli yang seger-seger di De’matcha, kalian pada mau ikut pesen juga gak?” Kemudian Kak Satria menyerahkan ponselnya padaku, dengan layarnya yang masih menyala dan memperlihatkan varian minuman khas De’matcha di aplikasi PickMe.
Belum juga aku mengeluarkan suara, Dokter Tora tiba-tiba saja datang menghampiri kami bertiga. Dengan gayanya yang sok akrab itu, lelaki tersebut langsung merangkul tubuh Kak Satria yang lebih tinggi besar darinya. Yang dimana hal tersebut membuatku merasa seperti melihat seekor kera yang bergelantungan di atas pohon.
“Sat, Sat, aku mau minta tolong dong sama kamu.” Ucap Dokter Tora. Mendengar suaranya saja sudah membuatku merasa ingin memukul wajahnya.
“Heh! Emangnya kamu minta tolong apaan sih, Bang?” Tanya Kak Satria. Jika kuperhatikan dari intonasinya, aku merasa Kak Satria juga sepertinya merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang ini.
“Aku ada urusan penting yang gak bisa ditunda, kita tukeran jaga sekarang ya. Kamu gantiin aku jaga di IGD hari ini, jadinya aku yang gantiin kamu jaga di ruangan sekarang. Nanti aku kasih bayaran lebih deh.” Tanpa menunggu Kak Satria merespon, lelaki sialan itu pun langsung berjalan cepat meninggalkan ruang IGD.
Aku berharap Kak Satria akan langsung mengumpat kesal, membanting barang-barang yang ada di dekatnya, atau setidaknya menggorok leher Dokter Tora dari belakang, hingga dia batuk darah. Namun aku benar-benar dibuat kecewa setelah mengetahui realitanya. Dimana Kak Satria hanya menatap kesal ke arah pintu yang baru saja dilewati oleh Dokter Tora, terdiam selama beberapa detik, menarik nafas perlahan sambil menahan emosi, dan langsung duduk di salah satu kursi kosong yang ada di hadapan kami. Namun pada akhirnya dia tetap mengucapkan sebuah kata kasar, walaupun diucapkan dengan begitu lembut. Seolah-olah itu bukanlah sebuah umpatan kasar.
Walau baru menjalankan program internship di tempat ini selama kurang dari sebulan, aku sudah bisa paham betul dengan kekesalan yang dirasakan oleh Kak Satria. Manusia paling sabar sekali pun juga pastinya tidak akan tahan berlama-lama dengan manusia-manusia semacam itu. Manusia yang sudah diperbudak oleh ego mereka sendiri. Dimana mereka sudah tidak lagi memiliki empati dan juga rasa bersalah kepada orang lain sama sekali. Secara logika, orang-orang seperti itu seharusnya tidak akan cocok bekerja sama dalam tim, dan bisa dikeluarkan dari tempat kerja kapan pun. Tapi kenyataan pahitnya, mereka adalah jenis manusia yang pintar menjilat dan mencari muka, hingga keberadaan mereka di tempat ini biasanya lebih dipertahankan ketimbang orang lain.
Selama beberapa menit, Kak Satria hanya menarik nafas dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Kemudian dia pun berdiri, dan mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa kekesalannya pada kami. Benar-benar tipikal Kak Satria yang kukenal selama ini. Seorang lelaki yang terlihat galak dan sinis, namun pada kenyataanya adalah orang yang berhati lembut namun people pleaser. “Nanti biar aku laporin aja soal kelakuan Si Bang Tora ke Si Bapak.” Ucapnya, sambil mencoba untuk tersenyum di hadapan kami berdua. “Kalian jadinya mau ikut pesen minuman di De’matcha gak?”
“Oh iya, boleh deh Mas Satria.” Jawab Mbak Riana, yang kemudian meraih ponsel dari tangan Kak Satria dengan lemah lembut. Walaupun aku bukan seorang cenayang atau memiliki bakat untuk membaca seseorang, aku merasa jika Mbak Riana tidak benar-benar ingin membeli minuman yang ditawarkan oleh Kak Satria. Ada kemungkinan jika perempuan itu hanya sedang berusaha untuk membuat suasana terasa lebih cair. saja
Entah Tuhan dan alam semesta sedang bekerja sama untuk memberinya cobaan, atau sekedar kebetulan belaka. Namun bagaimanapun juga, aku benar-benar merasa kasihan pada Kak Satria. Pasalnya, sewaktu Dokter Tora berjaga di IGD selama hampir tiga jam, tidak ada satu orang pasien pun yang datang untuk berobat. Namun begitu Kak Satria terpaksa menggantikannya untuk berjaga disini, ketenangan yang kami rasakan selama berjam-jam itu pun langsung hilang hanya dalam hitungan detik. Beberapa saat setelah dia mengambil alih tempat tersebut, tiba-tiba saja IGD berubah menjadi pasar malam hanya dalam waktu kurang dari dua jam.
Awalnya mungkin terasa biasa aja, dimana hanya satu hingga dua orang yang datang setiap lima sampai sepuluh menitnya. Namun semakin lama, arus orang-orang yang berdatangan terasa semakin cepat, hingga tidak terasa jika seluruh tempat tidur yang berada di IGD sudah penuh dengan para pasien. Saking banyaknya pasien yang datang ke tempat ini, beberapa orang bahkan diminta tolong untuk mengambil beberapa tempat tidur ekstra dari ruangan lain. Sebenarnya mayoritas dari mereka adalah pasien-pasien dengan kategori triase hijau dan kuning, namun tetap saja akan terasa begitu melelahkan jika harus berhadapan dengan belasan pasien sekaligus hanya dalam hitungan menit.
Untungnya saja tim IGD pada pagi hari ini berisi orang-orang yang cekatan dan sangat bisa diandalkan. Begitu sadar jika arus pasien yang datang mulai tidak terkendali, mereka mulai memposisikan diri mereka dan tahu akan tugas masing-masing. Setiap kali ada pasien yang datang, Mbak Riana dengan sigapnya langsung menentukan tirase pasien tersebut, membawanya ke tempat tidur yang masih tersisa, dan langsung melakukan pemeriksaan tanda vital serta mengajukan beberapa pertanyaan singkat. Bu Winda yang bertugas di bagian administrasi, segera menulis dan mencatat laporan yang diberikan oleh Mbak Riana. Tidak lupa juga wanita tersebut mendaftarkan para pasien sesuai dengan triase, kategori usia, jenis penyakit, dan juga penjamin biaya. Sementara itu Mbak Andien dan Mas Lutfi bertugas sebagai pelaksana tindakan. Dimana mereka yang melaksanakan segala jenis tindakan yang diarahkan oleh Dokter Satria dan kami berdua, seperti penyuntikan obat, pemasangan infus, hingga pembersihan luka.
Walaupun bukan dokter tetap di tempat ini, aku dan Ghea juga dibuat pusing tujuh keliling karena banyaknya pasien disini. Kak Satria yang sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan semacam ini, hanya bisa menggelengkan kepala dengan penuh pasrah namun sedikit kesal. Dengan tenangnya, yang entah membuatku jadi mengkhawatirkannya, dia meminta kami untuk menangani pasien yang berada di zona hijau dan sebagian zona kuning. Sementara dirinya sendiri akan menangani sebagian pasien lainnya yang berada di zona kuning, serta dua orang pasien di zona merah. Untuk para koasisten yang sedang ikut bertugas, Kak Satria memberi mereka kelonggaran untuk membantu siapa saja yang dirasa membutuhkan bantuan, kecuali untuk dirinya sendiri. Karena saat ini lelaki itu sedang tidak ingin diikuti oleh siapa pun. Supaya bisa lebih fokus dalam menangani pasien yang sedang dalam keadaan kritis tersebut.
Karena terlihat kebingungan, aku pun langsung menarik tangan Wulan yang saat itu tidak tahu harus berbuat apa. “Daripada bingung, kamu bantuin aku aja ya, Wulan!” Ucapku.
“Eh…, iya Dok.” Kata Wulan, tanpa adanya perlawanan sama sekali.
Tanpa banyak basa-basi, kami berdua pun langsung menghampiri seluruh pasien yang di zona hijau satu per satu. Sebagian besar pasien yang berobat pada pagi hari ini datang dengan keluhan yang terbilang umum, seperti demam akut, nyeri perut, nyeri kepala, dan juga batuk pilek. Awalnya aku sempat berpikir, jika penyakit-penyakit seperti itu seharusnya bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti klinik maupun puskesmas. Namun ketika melihat ponsel untuk mencari beberapa informasi di internet, aku baru saja sadar, jika sekarang adalah akhir pekan.
Dalam waktu sekitar tiga hingga lima menit, aku berjalan dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain. Melakukan sesi tanya jawab hingga pemeriksaan fisik secepat yang kubisa. Keberadaan Wulan di sisiku benar-benar memudahkan pekerjaanku. Gadis tersebut melakukan tanya jawab kepada beberapa orang pasien yang belum diperiksa. Sehingga aku tidak perlu repot-repot bertanya sampai sedetail itu, dan hanya mengkonfirmasi ulang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Wulan. Dia juga membantuku mencatat beberapa diagnosis dan juga rencana terapi setiap pasien. Agar diriku tidak lupa atau melakukan kesalahan ketika memberi laporan kepada Kak Satria nanti.
Seusai memeriksa sekitar delapan orang pasien dalam waktu kurang lebih 15 menit, kami pun segera menghampiri Kak Satria untuk melapor. Setelah memperhatikan dan mengamati laporan yang kami berikan, Kak Satria setuju dengan semua perencanaan terapi yang aku usulkan. Lalu lelaki itu pun mempersilahkanku untuk memberi arahan kepada para perawat untuk terapi yang akan diberikan disini, dan juga menuliskan resep pulang bagi pasien yang hendak melakukan rawat jalan. Tanpa berlama-lama, aku pun langsung menuliskan resep-resep tersebut dengan kecepatan kilat. Begitu semua arahan selesai ditulis, aku pun meminta tolong kepada Wulan untuk menyerahkan tumpukan kertas resep tersebut kepada Mbak Andien. Sekaligus meminta tolong padanya, agar dirinya membantu perempuan tersebut. Sementara itu aku kembali menyelesaikan resep pulang yang tersisa. Setelahnya, aku akan langsung membantu Mbak Andien untuk melakukan tindakan.
Ketika sedang menulis resep terakhir, Mbak Riana tiba-tiba saja datang menghampiriku. “Dokter Ully, maaf.” Ucapnya, “Pasien di bed nomor 11 belum diperiksa dari tadi.”
“Nomer 11?” Tanyaku balik, yang kemudian melirik ke arah tempat tidur tersebut. “Bukannya itu bagiannya Si Ghea ya, Mbak?”
“Iya Dok, dari tadi saya udah minta tolong ke dia. Cuma Dokter Gheanya terus bilang nanti-nanti. Katanya dia lagi nungguin balesan konsul dari Dokter Bintang.”