Blurb
Pa, Saya Sudah Datang
Saya pernah menjadi anak laki-laki yang paling dekat dengan Papa.
Dialah yang mengajari saya naik sepeda, membawa saya menonton *Power Rangers* diam-diam, mengantar saya bermain sepak bola, dan memperkenalkan saya kepada Arsenal. Bagi saya, Papa bukan sekadar seorang ayah. Ia adalah teman terbaik saya.
Tetapi saya tumbuh dewasa dan mulai pergi.
Ketika kuliah, saya memilih teman-teman, kebebasan, dan kehidupan di luar rumah. Saya jarang pulang. Hubungan saya dengan keluarga perlahan renggang, terutama dengan Papa. Saya merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki semuanya.
Sampai kehidupan memaksa saya berhenti.
Pada 2010, saya menikah di usia dua puluh tahun. Beberapa bulan kemudian, Papa mengalami serangan jantung. Untuk pertama kalinya, saya menyadari bahwa sosok yang selama ini saya anggap begitu kuat ternyata bisa hilang kapan saja.
Saya mulai menemukan kembali Papa.
Kemudian, di awal 2011, saya menjadi seorang Papa.
Untuk pertama kalinya, saya memahami perasaan Papa ketika saya lahir. Untuk pertama kalinya pula, saya melihat Papa bukan hanya sebagai ayah, tetapi sebagai seorang laki-laki yang dulu juga belajar menjadi seorang Papa.
Namun waktu tidak memberi kami kesempatan yang panjang.
Ketika Papa kembali masuk ICU, saya bergegas menemuinya. Saya datang dengan kemarahan, tetapi Papa justru mengajari saya tentang memaafkan. Beberapa bulan kemudian, ketika tubuhnya sudah tidak mampu bertahan tanpa bantuan alat, saya datang untuk terakhir kalinya.
Saya memeluknya dan berbisik,
**"Pa, saya sudah datang."**
Papa masih bisa mendengar saya.
Dengan sebuah papan huruf, ia meninggalkan tiga pesan terakhir:
**Jadi suami yang baik.**
**Jadi Papa yang baik.**
**Jaga Mama.**
Kemudian kami menyanyikan lagu *Mujizat Itu Nyata* untuk terakhir kalinya.
Papa pergi.
Dan saya harus belajar menjalani kehidupan tanpa orang yang selama ini menjadi tempat saya belajar tentang kehidupan.
Tentang menjadi suami.
Tentang menjadi Papa.
Tentang memaafkan.
Tentang pulang.
Bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya memahami bahwa mungkin saya memang tidak pernah sempat membuktikan kepada Papa bahwa saya telah berubah.
Tetapi setiap kali saya menjadi suami yang baik, Papa ada di sana.
Setiap kali saya menjadi Papa yang baik, Papa ada di sana.
Setiap kali saya menjaga Mama, Papa ada di sana.
Karena ternyata, orang yang kita cintai tidak selalu benar-benar pergi.
Kadang mereka hanya berhenti berjalan di samping kita.
Selebihnya, mereka hidup dalam cara kita berjalan.
Ini adalah cerita tentang seorang anak yang pernah pergi, seorang Papa yang tidak pernah berhenti mencintai, dan sebuah perjalanan panjang untuk menemukan jalan pulang.