Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #1

Papa dan Saya

Kalau saya diminta menyebut satu orang yang paling banyak mengajarkan saya tentang kehidupan, jawabannya tidak akan pernah berubah: Papa. Anehnya, saya tidak belajar banyak hal dari Papa melalui nasihat panjang atau percakapan serius. Sebagian besar justru saya pelajari melalui hal-hal sederhana yang kami lakukan bersama. Papa mengajari saya naik sepeda, mengenalkan saya kepada sepak bola dan Arsenal, mengantar saya berlatih di sekolah sepak bola, dan sesekali mengajak saya melakukan hal-hal kecil yang bagi seorang anak terasa seperti petualangan besar. Ketika masih kecil, saya tidak pernah benar-benar melihat Papa hanya sebagai seorang ayah. Bagi saya, Papa adalah teman bermain, teman menonton sepak bola, sekaligus orang yang selalu saya cari ketika saya ingin melakukan sesuatu.

Salah satu kenangan paling awal yang saya ingat adalah ketika Papa mengajari saya naik sepeda. Sepeda itu terasa terlalu besar untuk tubuh saya. Kedua kaki saya belum benar-benar bisa menapak tanah dengan sempurna, sementara tangan saya mencengkeram setang begitu kuat seolah-olah dengan memegangnya lebih erat saya bisa mencegah sepeda itu jatuh. Papa berdiri di belakang saya sambil memegang bagian belakang sepeda. “Pegang yang kuat,” katanya. Saya menurut. “Jangan takut.” Saya kembali mengangguk. Sepeda mulai bergerak perlahan. Untuk beberapa saat saya merasa sangat hebat. Saya bisa mengayuh sendiri, sementara Papa masih berada di belakang menjaga keseimbangan saya.

“Lihat ke depan!” teriak Papa.

Saya mengikuti perintahnya.

“Jangan lihat roda!”

Saya mencoba lagi. Beberapa meter kemudian, suara Papa terdengar dari belakang. “Coba sendiri.”

Saya belum sempat bertanya apa maksudnya ketika tangan Papa sudah tidak lagi memegang sepeda. Saya baru menyadarinya setelah sepeda mulai berjalan tanpa bantuan. Panik, saya mencoba mengendalikan setang yang bergerak ke kanan dan kiri. Semakin saya berusaha menguasainya, semakin sepeda itu kehilangan keseimbangan. Beberapa detik kemudian saya jatuh. Lutut saya membentur tanah dan rasa sakit langsung membuat saya menangis.

Yang membuat saya semakin kesal adalah Papa malah tertawa.

“Kenapa ketawa?” saya protes sambil menangis.

“Ya karena kamu jatuh,” jawabnya santai.

“Papa kok malah ketawa?”

Papa kemudian mendekati saya dan mengulurkan tangannya. Saya masih kesal dan tidak mau menerimanya. “Berdiri,” katanya. Saya berharap Papa akan mengangkat saya, tetapi ternyata tidak. Tangannya tetap terulur di depan saya. “Berdiri sendiri.”

Dengan air mata yang masih mengalir, akhirnya saya meraih tangan Papa dan berdiri. Papa membersihkan lutut saya yang kotor, kemudian berkata, “Jatuh itu biasa.”

“Kalau sakit?”

“Ya sembuh.”

“Kalau jatuh lagi?”

Papa tersenyum. “Ya bangun lagi.”

Lihat selengkapnya