Ada masa dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar sadar bahwa dirinya sedang berubah.
Tidak ada satu pagi ketika saya bangun lalu memutuskan bahwa mulai hari itu saya akan menjadi anak yang berbeda. Tidak ada pertengkaran besar yang membuat saya membenci rumah. Tidak ada satu kejadian yang membuat saya tiba-tiba berhenti menyayangi keluarga.
Saya hanya mulai pergi.
Sedikit demi sedikit.
Semuanya bermula ketika saya masuk kuliah.
Bagi saya saat itu, kuliah bukan hanya tentang pendidikan. Kuliah terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka menuju sebuah dunia yang selama ini belum pernah saya miliki. Untuk pertama kalinya saya merasa hidup benar-benar berada di tangan saya sendiri. Tidak ada lagi Papa yang bertanya saya pergi ke mana. Tidak ada lagi Mama yang menanyakan kapan saya pulang. Tidak ada lagi perasaan bahwa setiap keputusan harus saya ceritakan kepada keluarga.
Saya merasa sudah dewasa.
Padahal sebenarnya saya baru mulai belajar apa arti menjadi dewasa.
Saya mendapatkan kebebasan sebelum saya benar-benar memiliki kedewasaan untuk menggunakannya.
Lingkungan perkuliahan memperkenalkan saya kepada banyak orang baru. Teman-teman baru, tempat-tempat baru, kebiasaan-kebiasaan baru, dan kehidupan yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Kami bisa berkumpul sampai larut malam, tertawa tanpa memikirkan waktu, pergi ke berbagai tempat, dan melakukan banyak hal hanya karena kami ingin.
Awalnya semua itu terasa seperti petualangan.
Saya menikmatinya.
Saya menikmati menjadi bagian dari sebuah kelompok. Saya menikmati perasaan bahwa tidak ada lagi orang yang mengatur hidup saya. Saya menikmati saat-saat ketika tidak seorang pun bertanya mengapa saya pulang larut atau mengapa saya memilih menghabiskan malam di luar.
Dan perlahan, tanpa saya sadari, rumah mulai kehilangan tempatnya.
Dulu, ketika pulang sekolah, saya selalu mencari Papa.
Dulu saya bisa duduk berjam-jam di sampingnya menonton sepak bola. Dulu saya menunggu Papa mengantar saya latihan. Bahkan untuk hal-hal kecil, saya selalu merasa perlu berbagi cerita dengannya.
Tetapi kuliah mengubah semuanya.
Saya mulai lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Kalau ada pilihan antara pulang ke rumah atau tetap bersama mereka, saya semakin sering memilih teman.
Awalnya hanya satu malam.
Kemudian dua malam.
Lalu menjadi kebiasaan.
Saya mulai pulang semakin larut.
Kadang saya tidak pulang sama sekali.
Dan anehnya, pada waktu itu saya tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang salah.
Saya hanya merasa sedang menikmati masa muda.
Saya pikir saya punya banyak waktu untuk keluarga.
Saya pikir Papa akan selalu ada.
Saya pikir rumah akan selalu menjadi tempat yang sama.
Saya salah.
Ada suatu malam ketika saya pulang cukup larut.
Rumah sudah sepi.
Lampu ruang tengah masih menyala, tetapi tidak ada suara percakapan. Saya masuk pelan-pelan, berharap tidak ada yang bertanya dari mana saya.
Ternyata Papa masih bangun.
Ia duduk di ruang tengah.
Televisi menyala di depannya.
Saya tidak ingat apa yang sedang ditontonnya. Mungkin berita. Mungkin pertandingan. Mungkin hanya televisi yang sengaja dinyalakan untuk menemani malam.
Papa menoleh ketika mendengar suara pintu.
“Baru pulang?”
“Iya.”
“Dari mana?”
“Dari kampus.”
Papa mengangguk.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Hanya itu.
Saya kemudian berjalan menuju kamar.
Dulu percakapan seperti itu mungkin akan berlanjut. Papa mungkin akan bertanya tentang kuliah. Saya mungkin akan bercerita tentang teman-teman. Mungkin kami akan membicarakan sepak bola.
Tetapi malam itu tidak.
Saya masuk kamar dan menutup pintu.
Saya tidak memikirkan wajah Papa lagi.
Setidaknya saat itu.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya sering mengingat malam-malam seperti itu.
Bukan karena ada sesuatu yang istimewa.
Justru karena tidak ada apa-apa.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kata-kata kasar.
Tidak ada perpisahan.
Hanya seorang anak yang semakin jarang berbicara dengan ayahnya.
Dan seorang ayah yang mungkin tidak tahu bagaimana cara menarik kembali anak laki-lakinya yang perlahan menjauh.
Teman-teman menjadi dunia baru saya.
Bersama mereka saya bisa menjadi siapa saja.
Tidak ada yang mengenal saya sebagai anak Papa.
Tidak ada yang tahu bagaimana Papa dulu mengajari saya naik sepeda.
Tidak ada yang tahu tentang dua telur rebus dan dua cangkir kopi ketika kami menonton Arsenal tengah malam.
Tidak ada yang tahu tentang lapangan sepak bola dan mimpi saya menjadi pemain profesional.
Di depan mereka, saya hanya saya.
Dan saya menyukai perasaan itu.
Saya mulai membangun identitas baru.
Saya ingin terlihat bebas.
Saya ingin terlihat berani.
Saya ingin dianggap dewasa.
Masalahnya, saya mulai mengukur kedewasaan dari hal-hal yang salah.
Saya mengira semakin sedikit saya membutuhkan keluarga, semakin dewasa saya.
Saya mengira tidak perlu memberi kabar berarti saya sudah mandiri.
Saya mengira bisa pergi tanpa meminta izin berarti saya sudah bebas.
Padahal saya hanya sedang belajar bagaimana caranya menjauh.
Saya mulai sering menghabiskan malam di luar rumah. Kadang bersama teman-teman, kadang di tempat lain, kadang hanya mengikuti ke mana keadaan membawa saya.
Kalau telepon dari rumah masuk, kadang saya biarkan.
Kalau ada pesan dari Mama, saya baca nanti.
Kalau Papa bertanya kapan saya pulang, saya menjawab singkat.
“Nanti.”
Kata itu menjadi jawaban favorit saya.
Nanti saya pulang.
Nanti saya menelepon.