Ada satu hal yang tidak pernah saya bayangkan ketika menjalani kehidupan saya pada tahun-tahun sebelumnya: bahwa suatu hari saya akan datang kepada Papa dan Mama bukan sebagai anak yang membawa kabar baik, melainkan sebagai seorang anak yang membawa sesuatu yang saya sendiri takut untuk mengatakannya.
Tahun 2010, saya mengetahui bahwa pacar saya hamil.
Ketika mengetahui hal itu, dunia saya seperti berhenti sejenak.
Bukan karena saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan. Justru karena untuk pertama kalinya saya harus melihat semuanya dengan sangat jelas. Semua pilihan yang selama ini saya anggap sebagai kebebasan tiba-tiba berdiri di depan saya dalam bentuk sebuah kenyataan yang tidak mungkin saya hindari.
Saya akan menjadi seorang ayah.
Saya masih muda.
Saya belum memiliki kehidupan yang benar-benar mapan.
Dan yang paling membuat saya takut bukan hanya tentang bagaimana masa depan saya nantinya, tetapi bagaimana saya harus mengatakannya kepada Papa dan Mama.
Saya mengenal Papa.
Saya tahu bagaimana ia mendidik saya.
Saya tahu bahwa apa yang terjadi bukan sesuatu yang mudah diterima.
Di kepala saya, berbagai kemungkinan mulai muncul.
Saya membayangkan Papa marah.
Saya membayangkan Mama menangis.
Saya membayangkan rumah menjadi tempat yang tidak lagi bisa saya datangi.
Bahkan saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Saya siap dimarahi.
Saya siap dihajar.
Saya siap mendengar Papa mengatakan bahwa saya telah mempermalukan keluarga.
Dan yang paling saya takutkan, saya siap jika Papa tidak lagi menganggap saya sebagai anaknya.
Ketakutan itu membuat saya menunda untuk mengatakannya.
Saya mencari keberanian berhari-hari.
Mungkin saya pernah berdiri di depan Papa dan ingin berbicara, tetapi kemudian mengurungkan niat.
Mungkin saya sudah menyiapkan kalimat di kepala berkali-kali.
Bagaimana cara mengatakan bahwa pacar saya hamil?
Bagaimana cara meminta maaf?
Bagaimana cara menghadapi Papa?
Saya tidak tahu.
Sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus bersembunyi.
Saya harus mengatakannya.
Apa pun yang terjadi setelah itu, saya harus menerimanya.
Saya datang kepada Papa dan Mama dengan perasaan yang mungkin belum pernah saya rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya benar-benar takut pulang.
Bukan takut karena saya telah melakukan sesuatu yang tidak diketahui mereka.
Justru karena saya tahu mereka akan segera mengetahuinya.