Tahun 2010 adalah tahun ketika hidup saya berubah arah.
Saya masih berusia dua puluh tahun ketika akhirnya saya menikah. Usia yang, kalau saya pikir sekarang, sebenarnya masih terlalu muda untuk memahami betapa panjang perjalanan yang sedang saya mulai. Pada usia itu saya masih membawa banyak kebiasaan dari kehidupan saya sebelumnya. Saya masih belajar mengendalikan diri, masih belajar mengambil keputusan, masih belajar memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Tetapi kehidupan tidak selalu menunggu seseorang benar-benar siap.
Kadang kehidupan hanya memberikan kita sebuah tanggung jawab, lalu memaksa kita belajar sambil menjalaninya.
Begitu pula dengan saya.
Setelah menikah, saya tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri. Ada seseorang yang sekarang menunggu saya pulang. Ada seseorang yang harus saya jaga perasaannya. Ada kebutuhan yang harus dipikirkan, keputusan yang harus diambil, dan masa depan yang tidak bisa lagi saya jalani dengan cara sesuka hati.
Untuk pertama kalinya, saya mulai mengerti bahwa menjadi laki-laki dewasa bukan berarti bisa melakukan apa saja yang kita inginkan.
Justru sebaliknya.
Menjadi dewasa berarti mulai memahami bahwa tidak semua hal boleh dilakukan hanya karena kita menginginkannya.
Saya mulai belajar menahan diri. Mulai belajar bertanggung jawab. Mulai belajar bahwa ketika kita sudah memilih untuk hidup bersama seseorang, ada banyak keputusan yang tidak bisa lagi dibuat hanya berdasarkan kepentingan diri sendiri.
Saya masih sering melakukan kesalahan.
Saya masih belajar.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Saya mulai ingin menjadi orang yang lebih baik.
Mungkin karena sekarang saya memiliki alasan untuk berubah.
Menjadi suami ternyata membuat saya melihat Papa dengan cara yang berbeda.
Dulu saya tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Bagi saya, Papa hanyalah Papa. Ia selalu ada. Selalu terlihat kuat. Selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kalau saya sakit, ia tahu harus membawa saya ke mana. Kalau saya ingin bermain sepak bola, ia yang mengantar. Kalau saya membutuhkan sesuatu, ia akan berusaha mencarikannya.
Saya tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya.
Saya tidak pernah bertanya apakah ia lelah.
Saya tidak pernah bertanya apakah ia takut.
Saya hanya mengenalnya sebagai Papa.
Sekarang, setelah saya menikah, pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul dengan sendirinya.
Saya mulai mengalami sendiri betapa sulitnya mengurus kehidupan bersama orang lain. Hal-hal yang dulu terlihat sederhana ternyata membutuhkan banyak pengorbanan. Ada saat ketika saya lelah, tetapi tetap harus pulang. Ada saat ketika saya ingin melakukan sesuatu untuk diri sendiri, tetapi harus memikirkan kebutuhan keluarga lebih dahulu.
Kadang saya duduk sendirian setelah hari yang panjang dan berpikir, Ternyata begini rasanya menjadi seorang suami.
Lalu tanpa sadar saya teringat kepada Papa.
Kalau menjadi suami saja sudah sesulit ini, bagaimana dulu Papa menjalani hidup sebagai seorang suami sekaligus ayah?
Bagaimana ia membesarkan saya?
Bagaimana ia menghadapi kenakalan saya?
Bagaimana ia tetap pulang setiap hari meskipun mungkin ada masalah yang tidak pernah ia ceritakan kepada kami?
Saya tidak memiliki jawabannya.
Tetapi semakin saya memikirkan pertanyaan itu, semakin saya merasa bahwa selama ini saya tidak pernah benar-benar mengenal Papa sebagai seorang manusia.
Saya hanya mengenal Papa sebagai ayah saya.
Hubungan kami mulai berubah setelah saya menikah.
Tidak ada percakapan besar yang tiba-tiba menghapus semua jarak di antara kami. Tidak ada satu malam ketika saya meminta maaf atas semuanya lalu Papa memeluk saya dan mengatakan bahwa semua sudah selesai.
Hubungan kami kembali dekat dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Saya mulai lebih sering datang ke rumah.
Kadang saya datang hanya untuk makan.
Kadang saya duduk di ruang tengah bersama Papa.
Kadang kami berbicara tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun justru percakapan-percakapan kecil itulah yang perlahan membuat jarak di antara kami menghilang.
Suatu hari saya sedang duduk bersama Papa ketika pembicaraan kami tiba-tiba sampai pada urusan rumah tangga.
Saya tidak ingat lagi bagaimana percakapannya dimulai. Mungkin saya mengeluhkan sesuatu. Mungkin saya sedang bingung mengambil keputusan.
Saya akhirnya bertanya kepada Papa.
“Pa, kalau menurut Papa bagaimana?”
Papa melihat saya sebentar.
Kemudian ia menjawab seperti biasa, dengan caranya yang sederhana.
Saya tidak ingat persis semua kata-katanya. Tetapi saya ingat perasaan saya ketika mendengarnya.
Dulu saya tidak suka ketika Papa memberi nasihat.
Sekarang saya justru mencarinya.
Dulu saya merasa Papa terlalu banyak ikut campur dalam hidup saya.
Sekarang saya mulai menyadari bahwa ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya dengar darinya.
Dan saya melihat sesuatu di wajah Papa yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.
Ia senang.
Mungkin bukan karena saya meminta pendapatnya.
Mungkin karena anak laki-lakinya yang dulu begitu keras kepala akhirnya kembali datang kepadanya.
Sepak bola menjadi salah satu hal yang kembali mendekatkan kami.
Arsenal tetap menjadi Arsenal.
Klub yang mempertemukan kami ketika saya masih kecil itu ternyata masih menjadi salah satu bahasa yang paling mudah kami gunakan ketika tidak tahu harus membicarakan apa.