Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #5

Papa Menjadi Teman Lagi

Setelah saya menikah, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam hubungan saya dengan Papa. Saya tidak tahu kapan tepatnya perubahan itu dimulai. Tidak ada satu hari ketika kami tiba-tiba kembali menjadi dekat, tidak ada percakapan panjang yang menghapus semua jarak dari tahun-tahun sebelumnya. Kami hanya mulai lebih sering bertemu, lebih sering berbicara, dan lebih sering tertawa. Entah bagaimana, tanpa saya sadari, Papa perlahan menjadi teman saya lagi.

Mungkin karena setelah menikah saya memiliki kehidupan yang berbeda. Saya mulai memiliki cerita sendiri, ada hal-hal yang ingin saya tanyakan, ada masalah yang harus saya ceritakan, dan ada keputusan-keputusan yang kadang membuat saya bingung. Dulu saya merasa tidak membutuhkan Papa. Sekarang saya mulai mencarinya. Kadang saya datang ke rumah hanya untuk duduk bersamanya. Tidak selalu ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Kadang kami hanya menonton televisi, membicarakan sepak bola, membicarakan orang lain, atau sekadar tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat. Tetapi justru percakapan-percakapan sederhana itulah yang membuat saya merasa seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.

Suatu sore, saya duduk bersama Papa di ruang tengah. Saya baru beberapa waktu menikah dan masih belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan rumah tangga. Ada banyak hal yang ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan ketika masih lajang. Saya sedang bercerita tentang sesuatu yang terjadi di rumah ketika Papa tiba-tiba tertawa. “Baru menikah sudah mengeluh,” katanya. Saya ikut tertawa. “Bukan mengeluh, Pa. Saya bingung.” Papa menatap saya sambil tersenyum. “Bingung apa?” Saya menghela napas. “Ya... banyak hal.” Papa menggeleng pelan. “Namanya juga rumah tangga.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi entah mengapa terdengar seperti sesuatu yang sangat masuk akal. Dulu saya mungkin akan menganggap nasihat seperti itu sebagai ceramah. Sekarang saya justru ingin mendengarnya. Saya mulai bertanya tentang banyak hal: bagaimana menghadapi perbedaan pendapat, bagaimana mengatur keuangan, bagaimana menghadapi pasangan ketika sedang marah, dan bagaimana menjadi suami yang baik. Papa menjawab dengan caranya sendiri. Tidak selalu panjang, tidak selalu terdengar seperti nasihat yang ada di buku. Kadang malah sangat sederhana.

“Kalau sama istri jangan merasa harus selalu menang,” kata Papa.

Saya tertawa. “Kenapa?”

“Karena kalau kamu menang, kamu juga yang tidur sendirian.”

Saya tertawa lebih keras. Papa ikut tertawa. Itulah salah satu hal yang saya suka dari Papa. Bahkan ketika memberikan nasihat, ia selalu bisa menyampaikannya dengan candaan. Namun setelah kami tertawa, wajahnya kembali serius. “Yang penting jangan gampang marah. Kalau ada masalah, dibicarakan. Jangan dibawa lari.”

Saya mengangguk.

Papa melanjutkan, “Dan jangan merasa kamu paling benar hanya karena kamu suaminya.”

Saya kembali mengangguk. Entah mengapa kalimat terakhir itu tinggal cukup lama di kepala saya. Mungkin karena saya tahu Papa tidak sedang sekadar berbicara tentang rumah tangga saya. Ia sedang memberikan sesuatu yang dulu tidak pernah saya pahami ketika masih menjadi anak laki-lakinya.

Saya mulai melihat Papa dengan cara yang berbeda. Dulu saya melihatnya hanya sebagai ayah. Sekarang saya mulai melihatnya sebagai laki-laki yang pernah berada di posisi saya. Seorang laki-laki yang pernah menikah, pernah menjadi suami muda, pernah memiliki anak untuk pertama kalinya, pernah takut tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, pernah bingung mengambil keputusan, pernah marah, pernah salah, tetapi tetap menjalani semuanya. Saya mulai bertanya-tanya tentang masa lalu Papa, tentang bagaimana ia menjalani kehidupan ketika usianya masih muda, bagaimana ia menghadapi masalah, bagaimana ia membesarkan saya, dan bagaimana ia tetap pulang ke rumah setiap hari meskipun mungkin ada banyak persoalan yang tidak pernah ia ceritakan kepada kami.

Suatu kali saya bertanya kepadanya, “Pa, dulu waktu menikah umur berapa?”

Papa menyebutkan usianya. Saya menghitung sebentar, lalu tertawa. “Berarti waktu punya saya umur segini?”

Papa mengangguk.

“Berarti Papa muda juga.”

Papa langsung tertawa. “Ya jelas muda. Kamu kira Papa dari dulu sudah tua?”

Saya ikut tertawa. “Enggak. Saya baru kepikiran saja.”

Papa kemudian berkata, “Makanya sekarang kamu baru tahu susahnya.”

Saya mengangguk sambil tersenyum. “Iya juga.”

Percakapan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun setelahnya saya kembali memikirkan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah saya pikirkan. Papa tidak lahir sebagai Papa. Ia pernah menjadi anak. Pernah menjadi remaja. Pernah menjadi laki-laki muda. Pernah memiliki mimpi dan mungkin juga ketakutan-ketakutannya sendiri. Kemudian suatu hari ia menjadi suami, lalu menjadi ayah. Selama ini saya hanya mengenalnya dari satu sisi: sebagai Papa. Sekarang saya mulai mengenal manusia di balik sosok itu.

Sepak bola tetap menjadi salah satu cara termudah untuk membuat kami kembali seperti dulu. Kalau ada pertandingan Arsenal, kami punya bahan pembicaraan. Saya kadang sengaja menelepon Papa hanya untuk membicarakan pertandingan. “Pa, tadi lihat Arsenal?” “Lihat.” “Gimana?” “Ya begitu.” “Menurut Papa siapa yang paling bagus?” Papa menyebut nama seorang pemain, dan biasanya saya tidak langsung setuju. Kami kemudian berdebat, bukan perdebatan serius, hanya perdebatan kecil antara dua orang yang sama-sama merasa paling tahu tentang sepak bola.

Kadang saya menang, kadang Papa menang. Tetapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar peduli siapa yang menang. Kami hanya senang bisa membicarakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hubungan kami sejak saya kecil. Ada kalanya saya berpikir, mungkin sepak bola bukanlah hal yang membuat saya mencintai Papa. Mungkin sepak bola hanya menjadi alasan bagi kami untuk terus memiliki waktu bersama. Dulu saya duduk di sebelah Papa sebagai anak kecil. Sekarang saya duduk di sebelahnya sebagai seorang suami. Tetapi rasanya tetap sama: hangat, akrab, seperti tidak pernah ada jarak selama bertahun-tahun.

Ada satu kebiasaan Papa yang juga tidak pernah berubah. Ia suka menggoda saya. Kalau saya datang terlambat, ia akan bertanya, “Ini rumah siapa?” Saya menjawab, “Rumah Papa.” Ia langsung membalas, “Terus kenapa baru datang?” Saya tertawa. Kadang ketika saya sedang bercerita terlalu panjang, ia memotong, “Sudah, intinya apa?” Saya akan protes, “Papa ini kalau saya cerita jangan dipotong.” Ia hanya menjawab, “Cerita kamu kepanjangan. Makanya dipendekkan.” Kami kemudian tertawa bersama.

Hal-hal kecil seperti itu membuat saya sadar bahwa saya telah merindukan hubungan seperti ini. Saya pernah menghabiskan bertahun-tahun hidup jauh dari rumah. Saya pernah menganggap teman-teman lebih penting daripada keluarga. Saya pernah berpikir bahwa Papa terlalu banyak bertanya. Sekarang saya justru merasa beruntung masih bisa duduk bersamanya dan mendengar candaan-candaan yang dulu saya anggap biasa.

Sesekali Papa juga memberikan nasihat tanpa saya minta. Tentang menjadi suami, tentang bekerja, tentang bagaimana memperlakukan keluarga, dan tentang kehidupan. Kadang saya mendengarkan dengan serius. Kadang saya hanya menjawab, “Iya, Pa.” Kadang saya bahkan membantah. “Enggak begitu juga, Pa.” Papa biasanya hanya tersenyum dan berkata, “Ya sudah. Nanti kamu rasakan sendiri.”

Saat itu saya menganggap kalimat itu sebagai candaan. Saya tidak tahu bahwa sebenarnya Papa sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar nasihat. Ia sedang membagikan pengalaman hidupnya kepada saya, pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan dari buku, dari kampus, atau dari teman. Hanya dari seorang ayah kepada anak laki-lakinya.

Hubungan kami memang belum sepenuhnya seperti ketika saya masih kecil. Ada tahun-tahun yang sudah berlalu. Ada jarak yang pernah kami miliki. Ada hal-hal yang tidak pernah kami bicarakan. Tetapi saya tidak lagi terlalu memikirkan semua itu. Saya tidak lagi ingin menghitung berapa banyak waktu yang sudah saya buang. Saya hanya ingin menggunakan waktu yang masih ada. Saya ingin datang. Saya ingin berbicara. Saya ingin mendengarkan. Saya ingin kembali menjadi anak Papa.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya merasa mungkin semuanya akan baik-baik saja.

Saya sudah menikah. Saya mulai belajar menjadi suami. Saya mulai dekat lagi dengan keluarga. Saya dan Papa kembali bercanda. Kami kembali membicarakan sepak bola. Kami kembali memiliki percakapan-percakapan kecil. Tidak lama lagi saya juga akan menjadi seorang ayah. Rasanya seperti hidup akhirnya memberikan saya kesempatan kedua. Seolah-olah setelah bertahun-tahun berjalan ke arah yang salah, saya akhirnya menemukan jalan yang benar.

Saya mulai berpikir bahwa mungkin saya masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki semuanya. Masih banyak pertandingan Arsenal yang bisa kami tonton. Masih banyak kopi yang bisa diminum bersama. Masih banyak cerita yang bisa saya dengarkan. Masih banyak nasihat yang bisa saya minta. Masih banyak hal yang ingin saya lakukan bersama Papa.

Saya tidak tahu bahwa ketika seseorang sedang merasa hidupnya akhirnya kembali baik-baik saja, kehidupan kadang sedang menyiapkan sesuatu yang sama sekali tidak kita duga.

Beberapa bulan kemudian, telepon itu datang.

Papa mengalami serangan jantung.

Dan untuk pertama kalinya sejak saya mengenalnya, saya melihat Papa bukan sebagai laki-laki yang selalu kuat. Saya melihatnya sebagai seorang ayah yang bisa sakit, seorang manusia yang ternyata tidak kebal terhadap waktu.

Tiba-tiba semua waktu yang selama ini saya kira masih panjang terasa jauh lebih berharga.

Dan untuk pertama kalinya, saya takut kehilangan Papa.

BAB 11

Jantung Papa

Beberapa bulan setelah hubungan saya dan Papa mulai kembali hangat, telepon itu datang. Saya masih ingat perasaan ketika mendengar kabar bahwa Papa harus dibawa ke rumah sakit. Ada sesuatu yang langsung terasa berbeda. Selama ini Papa adalah orang yang hampir tidak pernah mengeluhkan sakit. Ia selalu terlihat kuat, bahkan ketika lelah. Kalau ada sesuatu yang terasa tidak enak badan, paling-paling ia hanya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Karena itu, mendengar bahwa Papa mengalami serangan jantung membuat saya seperti kehilangan pijakan.

Jantung.

Saya bahkan tidak pernah membayangkan kata itu akan dikaitkan dengan Papa.

Bagi saya, Papa adalah orang yang kuat. Ia adalah laki-laki yang dulu berlari mengantar saya ke mana-mana, yang mengangkat sepeda saya ketika saya belum bisa mengendarainya, yang membawa saya ke sekolah sepak bola, yang berani mengantar saya mengikuti seleksi meskipun Mama melarang. Ia adalah orang yang selama bertahun-tahun saya lihat seolah-olah tidak pernah bisa jatuh. Tiba-tiba sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa jantungnya bermasalah dan tubuh yang selama ini terlihat begitu kuat ternyata bisa menyerah juga.

Saya datang ke rumah sakit dengan pikiran yang berantakan. Di kepala saya muncul berbagai macam kemungkinan, tetapi saya berusaha menyingkirkannya. Saya terus mengatakan kepada diri sendiri bahwa Papa akan baik-baik saja. Dokter pasti bisa menanganinya. Ini hanya serangan jantung. Papa akan sembuh. Setelah itu semuanya akan kembali seperti biasa.

Saya membutuhkan keyakinan itu.

Saya belum siap untuk berpikir tentang kemungkinan yang lain.

Di rumah sakit, saya melihat Papa terbaring. Wajahnya terlihat berbeda dari biasanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya sadar bahwa laki-laki yang selama ini saya kenal sebagai sosok yang kuat ternyata bisa terlihat begitu rapuh. Saya berdiri di dekat tempat tidurnya dan mencoba bersikap biasa, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu saya takutkan.

“Papa gimana?” tanya saya.

Papa menjawab dengan singkat. Ia masih bisa tersenyum. Bahkan dalam keadaan seperti itu, ia masih sempat bercanda kecil.

Saya ikut tersenyum.

Saya ingin percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Kemudian dokter menjelaskan kondisi Papa kepada keluarga.

Ada sesuatu yang baru saya ketahui hari itu.

Jantung Papa ternyata tidak normal sejak ia masih kecil.

Saya terdiam.

Sejak kecil?

Lihat selengkapnya