Hari-hari setelah serangan jantung pertama Papa terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, rumah sakit menjadi tempat yang terlalu sering saya datangi. Bau obat, suara langkah kaki para perawat, bunyi alat-alat medis, dan wajah-wajah keluarga pasien lain perlahan menjadi sesuatu yang saya kenali. Saya mulai terbiasa melihat Papa terbaring di tempat tidur, meskipun sebenarnya saya tidak pernah benar-benar terbiasa melihatnya seperti itu.
Dokter mengatakan kondisi Papa cukup baik. Ia bisa pulih. Tidak ada alasan bagi kami untuk terlalu khawatir. Kalimat-kalimat itu seharusnya membuat saya tenang, tetapi sejak kejadian di kamar mandi beberapa waktu sebelumnya, ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Saya tidak lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Setiap kali berada di samping Papa, saya merasa ingin tinggal lebih lama. Setiap kali hendak pulang, saya seperti tidak ingin meninggalkannya terlalu cepat.
Saya mulai lebih sering duduk di samping tempat tidurnya. Kadang kami berbicara. Kadang kami hanya diam. Tidak selalu ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Saya sudah cukup bahagia hanya dengan mengetahui bahwa Papa masih ada di sana.
Papa sendiri berusaha menjalani semuanya seperti biasa. Ia masih bisa bercanda. Masih bisa menggoda saya. Bahkan dalam keadaan terbaring di rumah sakit, ia terkadang masih sempat membuat saya kesal dengan candaan-candaannya.
“Jangan pasang muka begitu,” katanya suatu kali.
“Muka saya kenapa?”
“Kayak orang mau kehilangan.”
Saya langsung diam.
Papa tertawa kecil.
Saya tidak tahu apakah ia sengaja mengatakannya untuk membuat saya takut atau sekadar bercanda. Tetapi kalimat itu membuat saya semakin sadar betapa besar ketakutan yang sebenarnya saya simpan.
Saya tidak ingin kehilangan Papa.
Bukan sekarang.
Bukan setelah kami baru saja menemukan jalan untuk kembali dekat.
Sejak Papa dirawat, banyak orang datang menjenguk. Saudara, teman, rekan kerja, dan orang-orang yang mengenal Papa bergantian datang ke rumah sakit. Setiap kali ada yang masuk ke ruangan, suasana yang sebelumnya tenang akan berubah. Ada salam, pertanyaan tentang keadaan Papa, doa, dan percakapan tentang banyak hal.
Tetapi ada satu kebiasaan Papa yang kemudian saya ingat dengan sangat jelas.
Setiap kali ada tamu datang, Papa sering meminta sesuatu.
“Nyanyi.”
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan.
Saya kira ia hanya ingin menghibur diri.
Namun semakin sering orang datang, semakin sering pula Papa meminta hal yang sama.
“Nyanyi lagu itu.”
Saya bertanya, “Lagu apa, Pa?”
Papa menyebut judulnya.
“Mujizat Itu Nyata.”
Saya terdiam sejenak.
Lagu itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Saya sudah pernah mendengarnya berkali-kali. Tetapi saat itu saya mulai memperhatikan bagaimana Papa meminta lagu tersebut.
Ia tidak memintanya dengan nada seperti seseorang yang sekadar ingin mendengarkan lagu.
Ada sesuatu dalam caranya menyebut judul itu.
Seolah-olah lagu tersebut memiliki arti khusus baginya.
Ketika ada yang mulai menyanyikan, Papa biasanya mendengarkan dengan tenang. Kadang matanya terpejam. Kadang ia ikut tersenyum. Kadang ia hanya menatap langit-langit ruangan.
Saya duduk di sampingnya dan ikut mendengarkan.
Lama-kelamaan lagu itu menjadi seperti bagian dari hari-hari kami di rumah sakit.
Ada tamu datang.
Papa meminta lagu itu.
Kami bernyanyi.
Kemudian suasana kembali tenang.
Begitu berulang.
Dan tanpa saya sadari, lagu tersebut mulai memiliki tempat tersendiri di dalam ingatan saya.
Saya tidak tahu bahwa suatu hari nanti, lagu itu akan menjadi lagu terakhir yang kami nyanyikan bersama Papa.
Saat itu saya belum tahu.
Bagi saya, itu hanya lagu yang Papa sukai.
Hari-hari di rumah sakit justru membuat hubungan kami semakin dekat.
Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya memiliki alasan untuk benar-benar berada di samping Papa.
Saya tidak datang karena kebetulan sedang lewat.
Saya tidak datang karena ada sesuatu yang harus saya urus.
Saya datang karena ingin bersamanya.
Kami mulai berbicara tentang banyak hal.
Tentang keluarga.
Tentang kehidupan saya setelah menikah.
Tentang anak yang sedang kami tunggu.
Tentang pekerjaan.
Tentang hal-hal kecil yang dulu mungkin tidak pernah sempat kami bicarakan.
Suatu kali Papa bertanya tentang calon cucunya.
“Sudah tahu laki-laki atau perempuan?”
“Belum tahu, Pa.”
Papa tersenyum.
“Yang penting sehat.”