Awal tahun 2011, hidup saya berubah untuk kedua kalinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Beberapa bulan sebelumnya saya masih belajar menjadi seorang suami. Saya masih sering bingung bagaimana mengatur rumah tangga, bagaimana menghadapi perbedaan, bagaimana menjadi pasangan yang baik, dan bagaimana bertanggung jawab atas kehidupan yang sekarang tidak lagi hanya tentang diri saya sendiri. Lalu seorang bayi hadir dan tiba-tiba semua teori tentang menjadi dewasa terasa tidak ada artinya. Saya harus belajar dengan cara yang sebenarnya: menjadi seorang papa.
Saya masih ingat saat pertama kali menggendong anak saya. Tubuhnya begitu kecil. Jauh lebih kecil daripada yang saya bayangkan. Saya memegangnya dengan hati-hati, seolah-olah sedikit saja salah bergerak, sesuatu yang sangat berharga itu akan rusak. Saya melihat wajahnya dan untuk beberapa saat saya tidak tahu harus berkata apa. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Bahagia, takut, terharu, bingung, semuanya bercampur menjadi satu.
Saya adalah seorang papa.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ketika benar-benar mengucapkannya dalam hati, rasanya seperti dunia saya berubah.
Selama ini saya hanya tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak. Saya tahu bagaimana rasanya menunggu Papa pulang. Saya tahu bagaimana rasanya dimarahi. Saya tahu bagaimana rasanya diantar ke sekolah, dibangunkan tengah malam untuk menonton sepak bola, diajari naik sepeda, dibawa menonton Power Rangers, dan didukung ketika mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola. Saya tahu bagaimana rasanya memiliki seorang Papa.
Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, saya berada di sisi yang lain.
Saya memandang seorang anak dan menyadari bahwa sekarang ada seseorang yang suatu hari nanti akan memandang saya seperti saya memandang Papa.
Pikiran itu membuat saya diam cukup lama.
Saya melihat wajah anak saya sekali lagi. Tangannya kecil. Jarinya menggenggam tanpa sadar. Saya menyentuhnya pelan dan tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan dengan sungguh-sungguh.
Apakah Papa dulu merasakan hal yang sama ketika melihat saya?
Saya kemudian teringat cerita Mama.
Sejak kecil, Mama pernah beberapa kali menceritakannya. Tetapi seperti banyak cerita tentang masa kecil, saya tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Bagi saya, cerita itu hanya bagian dari kisah keluarga yang sudah terlalu sering saya dengar.
Mama pernah berkata bahwa ketika saya lahir, Papa adalah orang yang paling bahagia di rumah sakit.
Bukan sekadar bahagia.
Katanya Papa sampai berlari-lari di rumah sakit.
Berteriak kegirangan karena akhirnya mendapatkan seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki.
Saya.
Setiap kali Mama menceritakan hal itu ketika saya masih kecil, saya mungkin hanya tertawa. Kadang saya bahkan merasa malu karena membayangkan Papa berlari-lari seperti orang kesurupan hanya karena saya lahir.
Tetapi sekarang, ketika saya sendiri menggendong seorang bayi, cerita itu tiba-tiba memiliki arti yang berbeda.
Saya bisa membayangkannya.
Papa yang masih muda.
Papa yang mungkin baru saja mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan.
Papa yang mungkin belum tahu bagaimana menjadi seorang ayah.
Papa yang mungkin sama takutnya dengan saya.
Papa yang mungkin juga berdiri dengan tangan gemetar.
Lalu seseorang mengatakan kepadanya bahwa anaknya laki-laki.
Dan Papa berlari.
Tiba-tiba saya tersenyum sendiri.
“Jadi begitu rasanya, Pa?”
Saya tidak tahu mengapa kalimat itu keluar dalam hati saya.
Tetapi untuk pertama kalinya saya benar-benar memahami cerita Mama.
Papa bukan hanya senang karena mendapatkan seorang anak laki-laki.
Mungkin pada saat itu, seluruh dunia Papa terasa berubah seperti dunia saya ketika pertama kali melihat anak saya.
Saya mulai memandang Papa dengan cara yang berbeda.
Selama bertahun-tahun saya hanya melihatnya sebagai orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ketika saya kecil, Papa terlihat seperti seseorang yang memiliki semua jawaban. Kalau sepeda saya rusak, Papa tahu apa yang harus dilakukan. Kalau saya tidak bisa naik sepeda, Papa mengajari saya. Kalau saya takut bermain sepak bola, Papa menyemangati saya. Kalau saya ingin pergi ke suatu tempat, Papa mengantar saya.
Sebagai seorang anak, saya mengira menjadi Papa memang seperti itu.
Seolah-olah seorang ayah memang dilahirkan dengan kemampuan untuk mengetahui semuanya.
Sekarang saya sadar bahwa mungkin Papa juga pernah takut.
Mungkin Papa juga pernah bingung.
Mungkin ketika pertama kali menggendong saya, ia tidak tahu apakah ia akan menjadi ayah yang baik.
Mungkin ia juga pernah bertanya-tanya apakah dirinya sanggup membesarkan seorang anak.
Mungkin ia juga pernah membuat kesalahan.
Tetapi ia tetap melakukannya.
Ia tetap menjadi Papa.
Dan saya baru memahami itu setelah saya sendiri menjadi seorang ayah.
Malam itu, setelah anak saya tertidur, saya duduk sendirian dan memikirkan kehidupan saya.
Saya memikirkan tahun-tahun ketika saya begitu dekat dengan Papa.
Saya memikirkan tahun-tahun ketika saya pergi.
Saya memikirkan bagaimana saya pernah menganggap rumah sebagai tempat yang membatasi kebebasan saya.
Saya memikirkan semua malam ketika saya memilih teman daripada keluarga.
Dan sekarang saya memegang seorang anak yang suatu hari nanti mungkin akan membuat pilihan-pilihannya sendiri.
Saya tiba-tiba takut.
Bukan takut menjadi Papa.
Saya takut tidak mampu menjadi Papa seperti Papa saya.
Saya takut anak saya nanti tumbuh dan merasa bahwa saya tidak ada.
Saya takut suatu hari ia lebih memilih dunia di luar rumah dan melupakan saya.
Saya takut ia mengalami hal-hal buruk yang pernah saya alami.
Tetapi lebih dari semuanya, saya takut tidak bisa memberikan kepadanya apa yang dulu Papa berikan kepada saya.
Kasih sayang yang tidak pernah habis.
Kesabaran yang tidak selalu saya hargai.
Kehadiran yang dulu saya anggap sebagai sesuatu yang pasti.
Saya mulai memahami satu hal yang sangat sederhana.
Menjadi seorang ayah bukan hanya tentang mencari uang.
Bukan hanya tentang menyediakan rumah.
Bukan hanya tentang memastikan anak mendapatkan pendidikan.
Menjadi seorang ayah adalah tentang hadir.
Tentang mengantar.
Tentang menunggu.
Tentang mendengarkan cerita yang mungkin sebenarnya tidak penting.
Tentang menonton pertandingan yang sama berulang kali hanya karena anak kita menyukainya.
Tentang duduk di samping anak ketika ia takut.
Tentang berlari ketika anak memanggil.
Tentang tetap membuka pintu ketika anak itu pergi terlalu jauh.
Dan tiba-tiba saya sadar:
Papa sudah melakukan semua itu untuk saya.
Bahkan ketika saya tidak menyadarinya.
Bahkan ketika saya tidak menghargainya.
Bahkan ketika saya memilih untuk pergi.
Papa tetap menjadi Papa.
Saya kemudian teringat malam-malam ketika kami menonton Arsenal.
Dulu saya mengira Papa membangunkan saya karena ia ingin menonton pertandingan.
Sekarang saya berpikir mungkin alasannya lebih dari itu.
Mungkin Papa sebenarnya hanya ingin memiliki waktu bersama anak laki-lakinya.
Kalau hanya ingin menonton pertandingan, ia bisa menontonnya sendiri.
Tetapi ia membangunkan saya.
Menyiapkan dua telur rebus.
Membuat dua cangkir kopi.
Kemudian kami duduk bersama di depan televisi.
Saya baru mengerti bahwa pertandingan sepak bola itu mungkin hanya alasan.
Yang sebenarnya ingin Papa miliki adalah waktu.
Waktu bersama saya.
Dan sekarang, ketika saya memandang anak saya yang sedang tidur, saya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah saya mengerti.
Anak mungkin akan mengingat hal-hal besar dalam hidupnya.
Tetapi mungkin yang paling lama tinggal justru hal-hal kecil.
Ayah yang menggendongnya.
Ayah yang menunggunya.
Ayah yang datang ketika ia memanggil.
Ayah yang meluangkan waktu.
Saya ingin menjadi ayah seperti itu.
Saya ingin anak saya suatu hari nanti mengingat saya bukan hanya karena apa yang saya berikan kepadanya, tetapi karena saya hadir dalam hidupnya.
Dan saat memikirkan itu, saya kembali teringat Papa.
Beberapa waktu setelah anak saya lahir, saya bertemu Papa.
Saya membawa anak saya kepadanya.
Saya masih ingat bagaimana wajah Papa berubah ketika melihat cucunya.
Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Papa tersenyum lebar.
Ia melihat bayi itu cukup lama, lalu mengulurkan tangan.
Saya menyerahkan anak saya kepadanya.
Papa menggendongnya dengan hati-hati.
Dan tiba-tiba saya seperti melihat sebuah lingkaran yang lengkap.
Dulu Papa menggendong saya.
Sekarang Papa menggendong anak saya.
Dulu saya adalah anak laki-laki yang membuat Papa berlari-lari di rumah sakit karena kegirangan.
Sekarang saya berdiri di samping Papa sebagai seorang ayah yang baru saja memiliki anak laki-laki.
Tiga generasi berdiri dalam satu ruangan.
Papa.
Saya.
Anak saya.
Saya tidak mengatakan apa-apa.
Saya hanya memandangi mereka.
Papa menatap cucunya sambil tersenyum. Sesekali ia melihat saya, kemudian kembali melihat bayi itu.
“Sudah jadi Papa sekarang,” katanya.
Saya tersenyum.
“Iya, Pa.”
Papa tertawa kecil.
“Baru tahu susahnya?”
Saya ikut tertawa.
“Iya.”
Ia kemudian memberikan beberapa nasihat sederhana. Tentang bagaimana menggendong anak. Tentang bagaimana menjaganya. Tentang bagaimana seorang ayah harus sabar. Tentang bagaimana anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga waktu.
Saya mendengarkan semuanya.
Kali ini saya tidak merasa sedang dinasihati.
Saya merasa sedang menerima warisan.
Warisan yang tidak berupa uang.
Bukan rumah.
Bukan benda.
Tetapi cara menjadi seorang ayah.
Malamnya, ketika saya pulang, saya kembali memikirkan Papa.
Saya membayangkan dirinya bertahun-tahun yang lalu, ketika pertama kali melihat saya lahir.
Saya membayangkan wajahnya.
Saya membayangkan kegembiraannya.
Saya membayangkan ia berlari-lari di rumah sakit sambil berteriak bahwa ia mendapatkan seorang anak laki-laki.
Dan untuk pertama kalinya, saya merasa ingin kembali ke masa itu.
Bukan untuk mengubah apa pun.
Hanya untuk melihat Papa.
Untuk melihat wajah seorang laki-laki yang baru saja menjadi ayah.