Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #8

Waktu yang Tidak Cukup

Tidak lama setelah saya menjadi seorang papa, telepon dari kakak saya datang. Saat itu saya masih menjalani hari-hari sebagai seorang ayah baru. Hidup saya dipenuhi banyak hal yang sebelumnya belum pernah saya alami. Ada bayi kecil yang membutuhkan perhatian hampir setiap saat, ada rumah tangga yang harus saya jalani, ada pekerjaan, dan ada begitu banyak hal yang membuat saya merasa hidup sedang bergerak cepat. Saya pikir setelah serangan jantung pertama, kondisi Papa sudah jauh lebih baik. Saya pikir masa terburuk sudah lewat.

Ternyata saya salah.

Telepon itu datang ketika saya sedang berada di Salatiga.

Saya masih ingat suara kakak saya di ujung telepon. Ada sesuatu yang berbeda. Suaranya terdengar terburu-buru dan berat.

“Adik, Papa masuk ICU.”

Saya terdiam.

“Kenapa?”

“Papa tadi jatuh di sekolah.”

Hanya beberapa kata.

Tetapi dalam hitungan detik, semua suara di sekitar saya seperti menghilang.

Papa.

Jatuh.

ICU.

Saya tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk mengetahui bahwa keadaan pasti serius.

Saya langsung bersiap.

Saya tidak sempat memikirkan banyak hal. Saya hanya tahu saya harus pergi ke Semarang. Saya harus melihat Papa.

Motor menjadi pilihan tercepat yang saya punya.

Saya berangkat dari Salatiga menuju Semarang dengan pikiran yang kacau. Jalan yang biasanya terasa biasa saja hari itu terasa terlalu panjang. Saya terus memikirkan Papa. Saya membayangkan ia terbaring di rumah sakit. Saya membayangkan wajahnya. Saya membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang berusaha saya singkirkan dari kepala.

Tetapi ada satu hal yang paling kuat dalam pikiran saya.

Kenapa Papa jatuh?

Saya tidak tahu jawabannya.

Dan saya ingin segera mengetahuinya.

Sepanjang perjalanan, saya mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa Papa akan baik-baik saja. Bukankah sebelumnya ia sudah mengalami serangan jantung dan berhasil melewatinya? Bukankah ia masih bisa bercanda? Bukankah beberapa waktu lalu kami masih berbicara tentang menjadi seorang ayah? Bukankah saya baru saja mulai menemukan kembali Papa?

Saya belum siap kehilangan dia.

Bahkan untuk membayangkannya saja saya tidak sanggup.

Saya mempercepat perjalanan.

Saya hanya ingin sampai.

Begitu tiba di rumah sakit, saya langsung mencari keluarga.

Saya menemukan kakak saya dan bertanya dengan napas yang masih berat, “Papa di mana?”

“Di ICU.”

Saya mengangguk.

Kemudian saya bertanya, “Kenapa?”

Kakak saya menjelaskan bahwa Papa sedang mengajar ketika tiba-tiba ada seorang murid yang membuatnya sangat jengkel. Entah apa yang dilakukan anak itu, tetapi Papa mengalami emosi yang sangat kuat. Setelah itu kondisi jantungnya memburuk dan ia jatuh.

Saya diam.

Untuk beberapa detik saya tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian sesuatu di dalam diri saya berubah.

Saya marah.

Sangat marah.

Saya tidak tahu apakah kemarahan itu muncul karena saya takut kehilangan Papa, karena saya merasa tidak berdaya, atau karena saya membutuhkan seseorang untuk disalahkan.

Mungkin semuanya.

Yang saya tahu, dalam kepala saya hanya ada satu pertanyaan.

“Siapa muridnya?”

Kakak saya menyebutkan bahwa ia tidak tahu secara pasti.

Saya kembali bertanya.

“Siapa namanya?”

Saya ingin tahu.

Saya ingin menemukan anak itu.

Saya ingin mendengar langsung apa yang terjadi.

Dan lebih dari itu, saya ingin melakukan sesuatu terhadapnya.

Saya tidak berpikir panjang.

Saya hanya berpikir bahwa seorang anak telah membuat Papa saya marah sampai akhirnya jantungnya kembali bermasalah.

Bagi saya saat itu, sesederhana itu.

Saya tidak peduli apakah anak itu sengaja atau tidak.

Saya tidak peduli apakah ia masih seorang anak sekolah.

Saya tidak peduli apakah ia memahami akibat dari tindakannya.

Yang saya tahu, Papa sekarang berada di ICU.

Dan saya ingin mencari orang yang saya anggap sebagai penyebabnya.

Saya berdiri di depan pintu ICU.

Ada rasa takut yang kembali muncul.

Saya teringat serangan jantung pertama Papa.

Saya teringat kamar mandi rumah sakit.

Saya teringat bagaimana saya menangis sendirian karena takut kehilangan dia.

Tetapi kali ini rasa takut itu bercampur dengan kemarahan.

Saya masuk.

Dan untuk sesaat saya tidak bisa bergerak.

Papa terbaring di sana.

Tubuhnya dipenuhi berbagai alat.

Wajahnya terlihat jauh lebih lemah daripada yang pernah saya lihat sebelumnya.

Saya ingin memanggilnya.

“Pa.”

Papa membuka mata.

Ia melihat saya.

Tetapi ia tidak bisa berbicara.

Saya mendekat.

“Pa, ini saya.”

Papa menatap saya.

Saya menunggu ia mengatakan sesuatu.

Tidak ada suara.

Kemudian saya baru menyadari bahwa Papa menggunakan sebuah papan untuk berkomunikasi. Ada huruf dan angka yang bisa ia tunjuk dengan jarinya.

Saya duduk di samping tempat tidurnya.

Tetapi kemarahan saya masih ada.

Saya masih memikirkan murid itu.

Saya masih ingin tahu siapa namanya.

Saya ingin mendapatkan jawaban.

“Pa,” saya berkata, “siapa nama murid yang bikin Papa sampai begini?”

Papa tidak menjawab.

Saya menunjuk papan.

“Yang tadi bikin Papa marah. Siapa?”

Papa hanya memandang saya.

Saya semakin gelisah.

“Namanya siapa, Pa?”

Ia tetap diam.

Saya mulai kehilangan kesabaran.

Dalam kepala saya sudah muncul berbagai macam kemungkinan. Saya membayangkan meminta bantuan teman-teman saya untuk mencari anak itu. Saya membayangkan bagaimana saya akan berhadapan dengannya. Saya membayangkan kemarahan saya sendiri.

Saya siap melakukan sesuatu yang mungkin akan saya sesali.

Tetapi saat itu saya tidak peduli.

Saya hanya melihat Papa sebagai ayah saya.

Dan saya merasa seseorang telah menyakitinya.

Saya kembali bertanya.

“Pa, siapa namanya?”

Papa tetap tidak menjawab.

Saya menunggu.

Tidak ada respons.

Saya mulai kesal.

“Papa enggak mau bilang?”

Papa menatap saya.

Kemudian saya berdiri.

“Ya sudah.”

Saya berniat pergi.

Mungkin saya pikir tidak ada gunanya bertanya kepada Papa yang sedang tidak mampu berbicara.

Mungkin saya merasa lebih baik mencari informasi dari orang lain.

Mungkin saya hanya sedang dikuasai amarah.

Saya membalikkan badan.

Namun sebelum saya benar-benar pergi, tangan Papa bergerak.

Ia meraih baju saya.

Saya berhenti.

Saya menoleh.

Papa masih memegang baju saya.

Saya melihat wajahnya.

Ada sesuatu dalam tatapannya.

Bukan kemarahan.

Bukan ketakutan.

Bukan pula permintaan untuk saya tetap tinggal.

Seolah-olah Papa ingin mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting.

Saya kembali mendekat.

Papa menunjuk papan.

Saya menunggu.

Jarinya bergerak perlahan.

Satu huruf.

Kemudian huruf berikutnya.

Saya mencoba membacanya.

GK USH PA DH MF.

Saya terdiam.

Saya melihat papan itu.

Kemudian melihat Papa.

Saya tidak langsung memahami.

Tetapi setelah beberapa detik, saya mengerti.

Enggak usah, Pa. Udah maafin.

Saya menatap Papa.

Amarah yang sejak tadi memenuhi kepala saya perlahan runtuh.

Saya tidak tahu apakah saya benar-benar layak disebut anaknya pada saat itu.

Saya datang dengan niat mencari seseorang untuk dihukum.

Sementara Papa, dalam keadaan bahkan tidak mampu berbicara, masih memikirkan agar saya tidak melakukan sesuatu karena kemarahan.

Saya menatapnya cukup lama.

Tiba-tiba saya teringat semua nasihatnya.

“Jangan gampang marah.”

“Kalau ada masalah, dibicarakan.”

“Jangan dibawa lari.”

Dan sekarang, ketika Papa sendiri sedang berada di ICU, ia masih mengajarkan hal yang sama.

Saya menarik napas panjang.

Saya duduk kembali di samping tempat tidurnya.

“Ya sudah, Pa.”

Lihat selengkapnya