Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #9

Saya Ingin Papa Melihat Saya

Setelah Papa melewati masa kritisnya, ada satu keinginan yang perlahan tumbuh dalam diri saya. Keinginan itu sebenarnya sederhana, tetapi semakin hari terasa semakin besar. Saya ingin Papa melihat saya. Bukan sekadar melihat saya datang menjenguknya di rumah sakit, bukan sekadar melihat saya duduk di samping tempat tidurnya, tetapi melihat saya menjadi seseorang yang lebih baik. Saya ingin Papa melihat bahwa anak laki-laki yang dulu pergi dari rumah itu sudah kembali. Saya ingin Papa melihat bahwa saya sudah menikah, sudah memiliki seorang anak, dan sedang berusaha membangun keluarga saya sendiri. Saya ingin suatu hari nanti Papa melihat saya dan merasa bangga.

Masalahnya, pada saat itu saya sendiri belum merasa menjadi seseorang yang pantas dibanggakan. Saya masih sangat muda. Saya baru berusia dua puluh satu tahun, sudah menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah, tetapi di dalam hati saya masih merasa seperti anak laki-laki yang sedang mencari tahu harus menjadi siapa. Saya belum punya rumah sendiri. Saya belum punya kehidupan yang mapan. Saya belum memiliki pencapaian besar yang bisa saya tunjukkan kepada Papa. Belum ada sesuatu yang membuat saya bisa berdiri di depannya sambil berkata, “Pa, lihat. Saya sudah berhasil.” Saya masih dalam perjalanan, sementara di depan mata saya, waktu Papa justru terasa semakin tidak pasti.

Mungkin selama ini saya tidak pernah benar-benar memahami mengapa seorang anak begitu ingin membuat ayahnya bangga. Ketika masih kecil, saya ingin Papa bangga karena hal-hal sederhana. Saya ingin ia melihat ketika saya bisa naik sepeda, ketika saya bermain sepak bola, ketika saya mencetak gol, atau ketika saya melakukan sesuatu yang menurut saya hebat. Saya selalu ingin melihat ekspresi wajahnya, senyumnya, atau mendengar pujiannya. Kemudian saya tumbuh dewasa dan seolah-olah kebutuhan itu menghilang. Saya pergi dari rumah, membangun kehidupan sendiri, dan merasa tidak lagi membutuhkan pengakuan Papa. Namun setelah saya menjadi suami dan ayah, perasaan itu kembali, bahkan jauh lebih kuat.

Saya mulai memahami perasaan itu melalui anak saya sendiri. Ketika anak saya melakukan sesuatu yang kecil, saya merasa bangga. Ketika ia tersenyum, saya ikut bahagia. Ketika ia belajar sesuatu yang baru, saya ingin menceritakannya kepada semua orang. Hal-hal kecil yang dilakukan seorang anak ternyata bisa membuat seorang ayah merasa begitu penuh. Dan setiap kali merasakan itu, saya selalu teringat kepada Papa. Jangan-jangan dulu Papa juga seperti ini kepada saya. Mungkin ketika saya pertama kali berjalan, Papa merasa bangga. Mungkin ketika saya pertama kali naik sepeda, ia merasa bangga. Mungkin ketika saya bermain sepak bola, ia berdiri di pinggir lapangan dengan perasaan yang sama. Dan mungkin ketika saya pergi terlalu jauh dari rumah, Papa tetap menunggu karena ia percaya anak laki-lakinya suatu hari akan menemukan jalan untuk pulang.

Sekarang saya sudah pulang. Tetapi justru pada saat itu saya merasa waktunya terlalu sedikit. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang sudah saya berikan kepada Papa? Saya mencoba menghitungnya, tetapi yang muncul justru sebaliknya. Saya pernah menerima begitu banyak darinya. Papa mengajari saya naik sepeda. Papa mengantar saya bermain sepak bola. Papa membangunkan saya tengah malam untuk menonton Arsenal. Papa menemani saya mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola. Papa bahkan tetap menerima saya ketika saya melakukan begitu banyak kesalahan. Ketika saya datang kepadanya pada tahun 2010 dengan membawa masalah yang menurut saya akan membuat saya dihukum dan mungkin tidak diakui sebagai anak, Papa dan Mama justru menyambut saya dengan sukacita. Saya datang dengan ketakutan, tetapi mereka menerima saya dengan kasih.

Semakin saya mengingat semua itu, semakin saya merasa belum memberikan apa-apa. Saya bahkan pernah memberikan Papa kekhawatiran. Saya pernah membuatnya bertanya-tanya di mana anak laki-lakinya. Saya pernah membuatnya menunggu. Saya pernah membuatnya kecewa. Dan ketika akhirnya saya sadar bahwa saya ingin membalas semuanya, Papa justru sedang sakit. Rasanya seperti seseorang yang baru datang ke sebuah pertandingan ketika pertandingan hampir selesai. Saya baru kembali ke dalam kehidupan Papa, tetapi waktu kami ternyata sudah mulai habis.

Saya ingin Papa melihat saya memiliki rumah sendiri. Saya membayangkan suatu hari membawa Papa masuk ke rumah saya dan berkata, “Pa, ini rumah saya.” Saya ingin melihatnya duduk di ruang tamu, mungkin mengomentari sesuatu seperti kebiasaannya, mungkin mengeluh tentang ukuran rumah, mungkin membuat candaan yang tidak lucu tetapi tetap membuat saya tertawa. Saya ingin membuatkan kopi untuknya. Saya ingin memperlihatkan kamar anak saya. Saya ingin melihat Papa menggendong cucunya. Saya ingin Papa melihat saya bekerja, melihat saya menjadi suami, melihat saya menjadi ayah. Saya ingin ia tahu bahwa anak laki-laki yang dulu meninggalkan rumah itu sekarang sedang berusaha membangun sebuah rumah untuk keluarganya sendiri.

Tetapi ada satu masalah yang tidak bisa saya abaikan. Saya tidak tahu berapa lama lagi Papa akan ada.

Kadang saya merasa malu kepada diri sendiri. Bukan karena saya tidak mencintai Papa, justru karena saya sangat mencintainya. Saya malu karena baru memahami semuanya setelah saya sendiri menjadi seorang ayah. Saya baru memahami beratnya menjadi suami setelah menikah. Saya baru memahami beratnya menjadi ayah setelah memiliki anak. Saya baru memahami arti rumah setelah bertahun-tahun memilih pergi. Dan sekarang saya baru memahami arti waktu bersama keluarga ketika waktu bersama Papa mulai terasa terbatas. Saya sering bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya membutuhkan waktu selama itu? Mengapa saya harus pergi sejauh itu untuk memahami sesuatu yang sebenarnya sudah Papa ajarkan sejak saya kecil?

Saya tidak punya jawabannya. Mungkin manusia memang seperti itu. Kita sering baru memahami nilai sesuatu ketika kita mulai takut kehilangannya.

Dan sekarang saya mulai takut.

Sangat takut.

Saya mulai memiliki ketakutan-ketakutan yang sebelumnya tidak pernah berani saya ucapkan. Bagaimana kalau Papa pergi sebelum sempat melihat saya berhasil? Bagaimana kalau Papa tidak sempat melihat anak saya tumbuh? Bagaimana kalau Papa tidak sempat melihat saya memiliki rumah? Bagaimana kalau Papa tidak sempat melihat saya menjadi seseorang yang menurutnya bisa dibanggakan? Pikiran-pikiran itu muncul tanpa saya undang. Saya berusaha mengusirnya dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa Papa masih bisa sembuh. Dokter masih merawatnya. Papa masih bisa berbicara melalui papan. Ia masih bisa tersenyum. Ia masih bisa bercanda. Jadi saya mencoba percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi jauh di dalam hati, ada bagian dari diri saya yang sudah mulai takut bahwa semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Saya tahu kondisi Papa tidak biasa. Saya tahu serangan jantungnya bukan sesuatu yang sederhana. Saya tahu ada sesuatu yang berubah. Dan perlahan saya mulai menyadari bahwa mungkin saya tidak memiliki waktu sebanyak yang saya kira.

Suatu hari saya duduk di dekat Papa. Saya memandang wajahnya cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin saya katakan. Saya ingin mengatakan bahwa saya menyesal. Saya ingin mengatakan bahwa saya mencintainya. Saya ingin mengatakan bahwa saya akan menjadi laki-laki yang lebih baik. Tetapi kata-kata itu terasa terlalu berat untuk keluar. Akhirnya saya hanya berkata, “Pa, saya mau jadi orang sukses.”

Papa melihat saya.

Saya tersenyum dan melanjutkan, “Biar Papa bangga.”

Lihat selengkapnya