Mei 2011 datang tanpa membawa tanda bahwa hidup saya akan berubah selamanya. Beberapa bulan sebelumnya saya masih memiliki begitu banyak rencana. Saya baru menjadi seorang ayah. Saya masih belajar menjadi suami. Saya masih berusaha memperbaiki hubungan saya dengan keluarga. Dan di antara semua itu, saya masih menyimpan satu harapan sederhana: saya ingin Papa sembuh.
Kondisinya memang belum benar-benar baik, tetapi saya selalu berusaha percaya bahwa keadaan akan membaik. Bukankah dokter juga mengatakan demikian? Bukankah Papa masih bisa tersenyum? Bukankah ia masih bisa berkomunikasi dengan papan huruf dan angka? Bukankah beberapa waktu sebelumnya kami masih bisa berbicara, bahkan bercanda? Saya menjadikan hal-hal kecil itu sebagai alasan untuk percaya bahwa Papa masih memiliki banyak waktu.
Saya salah.
Satu telepon pada bulan Mei membuat semua keyakinan itu runtuh.
Saat itu saya sedang menjalani hari seperti biasa ketika telepon dari kakak masuk. Nada suaranya berbeda. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi bahkan sebelum ia mengatakan apa-apa, ada sesuatu dalam diri saya yang langsung merasa tidak tenang.
“Datang ke Semarang.”
Hanya itu yang saya ingat dengan jelas.
Saya bertanya, “Kenapa?”
Kakak tidak langsung menjawab. Suaranya terdengar berat. Kemudian ia mengatakan bahwa kondisi Papa memburuk dan saya harus segera datang ke rumah sakit.
Saya tidak bertanya banyak lagi.
Saya hanya tahu bahwa saya harus pergi.
Saya mengambil motor dan berangkat dari Salatiga menuju Semarang.
Perjalanan itu terasa berbeda dari perjalanan saya sebelumnya ketika Papa masuk ICU. Saat itu saya berangkat dengan kemarahan. Saya ingin menemukan siapa murid yang membuat Papa mengalami serangan jantung. Saya bahkan sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan kepada anak itu. Saya pergi dengan darah panas dan pikiran yang penuh amarah.
Kali ini tidak.
Kali ini saya hanya takut.
Sepanjang perjalanan, pikiran saya dipenuhi berbagai kemungkinan yang berusaha saya tolak sendiri. Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa mungkin kondisi Papa hanya sedang menurun. Mungkin dokter akan melakukan sesuatu. Mungkin setelah mendapatkan perawatan, kondisinya kembali stabil seperti sebelumnya.
Saya mencoba berpikir positif.
Tetapi semakin dekat ke Semarang, semakin sulit saya mengendalikan pikiran sendiri.
Saya teringat wajah Papa.
Saya teringat ketika ia masih sehat.
Saya teringat bagaimana ia dulu membangunkan saya tengah malam untuk menonton Arsenal. Saya teringat dua telur rebus dan dua cangkir kopi. Saya teringat sepeda yang dulu diajarkannya kepada saya. Saya teringat lapangan sepak bola, perjalanan ke sekolah sepak bola, dan semua hal kecil yang dulu saya anggap biasa.
Kemudian saya teringat satu hal yang paling menakutkan.
Saya baru saja menjadi seorang ayah.
Dan sekarang saya mungkin akan kehilangan ayah saya sendiri.
Ketika sampai di rumah sakit, saya langsung mencari keluarga.
Wajah kakak saya membuat saya tahu bahwa keadaan memang tidak seperti sebelumnya.
“Papa di mana?”
“Di dalam.”
Saya mengikuti mereka.
Saya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Saya hanya melihat Papa dalam kondisi yang jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
Ada sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Ia terlihat jauh lebih lemah. Wajahnya tidak lagi seperti Papa yang saya kenal selama ini. Sosok yang sejak kecil saya anggap kuat itu sekarang terbaring di tempat tidur dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya.
Saya berdiri beberapa saat tanpa mampu berkata apa-apa.
Ini Papa saya.
Orang yang dulu mengangkat saya ketika saya masih kecil.
Orang yang mengajari saya naik sepeda.
Orang yang berlari-lari di rumah sakit ketika mengetahui bahwa ia mendapatkan seorang anak laki-laki.
Orang yang pernah mengantar saya mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola.
Dan sekarang saya melihatnya terbaring di hadapan saya.
Saya ingin percaya bahwa ini hanya sementara.
Saya ingin percaya bahwa setelah beberapa hari semuanya akan kembali seperti dulu.
Tetapi kemudian saya melihat wajah dokter.
Dan saya tahu ada sesuatu yang jauh lebih serius.
Saya kemudian mendapatkan penjelasan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Masalah Papa ternyata bukan hanya jantung.
Dokter menemukan adanya kanker paru-paru.
Saya seperti tidak mengerti kalimat itu.
Kanker paru-paru.
Saya menatap dokter, kemudian menatap Papa.
Saya mencoba memahami bagaimana mungkin seseorang yang selama ini terlihat begitu kuat ternyata menyimpan penyakit sebesar itu di dalam tubuhnya.
Kemudian semuanya mulai masuk akal.
Kebiasaan Papa merokok sejak muda.
Jantungnya yang sejak kecil ternyata tidak normal.
Serangan jantung yang sebelumnya kami pikir sebagai masalah terbesar.
Ternyata tubuh Papa telah lama menyimpan begitu banyak beban yang tidak pernah kami ketahui.
Dan sekarang semuanya datang bersamaan.
Dokter menjelaskan kondisi paru-parunya.