Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #11

Papa Menunggu Saya

Saya tidak tahu berapa lama saya berdiri di samping tempat tidur itu. Rumah sakit terasa begitu sunyi meskipun sebenarnya ada banyak suara di sekeliling saya. Bunyi monitor, suara langkah perawat, suara pintu yang sesekali terbuka dan tertutup, semuanya terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Yang saya dengar hanya napas saya sendiri dan detak jantung saya yang terasa semakin keras.

Di hadapan saya terbaring Papa.

Tubuhnya sudah begitu lemah. Berbagai alat terpasang di tubuhnya untuk membantu mempertahankan hidupnya. Wajah yang dulu saya kenal sebagai wajah seorang laki-laki yang kuat kini terlihat sangat berbeda. Tetapi entah mengapa, ketika saya melihat matanya, saya masih melihat Papa yang sama.

Papa yang mengajari saya naik sepeda.

Papa yang membawa saya menonton Power Rangers secara diam-diam.

Papa yang membangunkan saya tengah malam untuk menonton Arsenal.

Papa yang mengantar saya bermain sepak bola meskipun Mama melarang.

Papa yang dulu berlari-lari di rumah sakit ketika mengetahui bahwa ia mendapatkan seorang anak laki-laki.

Saya berdiri di sana dan tiba-tiba merasa seperti kembali menjadi anak kecil.

Saya tidak lagi memikirkan tentang kesuksesan. Saya tidak lagi memikirkan rumah yang belum saya miliki. Saya tidak lagi memikirkan semua hal yang ingin saya buktikan kepadanya. Semua itu mendadak terasa tidak penting.

Saya hanya ingin Papa tahu bahwa saya ada di sana.

Saya mendekat perlahan.

Saya duduk di samping tempat tidurnya dan memandang wajahnya. Untuk beberapa saat saya tidak sanggup berkata apa-apa. Tenggorokan saya terasa tercekat. Saya mencoba menahan air mata, tetapi semakin saya berusaha menahannya, semakin sulit saya bernapas.

Kemudian saya memegang tangan Papa.

Tangan yang dulu begitu kuat itu sekarang terasa begitu lemah.

Saya menggenggamnya.

Saya tidak tahu apakah Papa bisa merasakan genggaman saya.

Saya tidak tahu apakah ia bisa mendengar suara saya.

Tetapi saya tetap berbicara.

“Pa...”

Suara saya hampir tidak terdengar.

Saya menelan ludah, kemudian mendekatkan wajah saya kepadanya.

“Pa, saya sudah datang.”

Hanya kalimat itu.

Kalimat yang sangat sederhana.

Tetapi di dalamnya ada begitu banyak hal yang tidak mampu saya katakan.

Lihat selengkapnya