Saya melihat papan itu.
Huruf-huruf yang ditunjuk Papa tampak sederhana.
Tidak ada kalimat panjang.
Tidak ada kata-kata indah.
Tidak ada nasihat yang rumit.
Hanya beberapa rangkaian huruf.
Tetapi di tangan Papa, huruf-huruf itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar.
JD SM BK.
Saya membacanya perlahan.
Jadi suami yang baik.
Saya terdiam.
Papa kemudian menunjuk rangkaian huruf berikutnya.
JD PA BK.
Jadi Papa yang baik.
Saya menatapnya.
Kemudian Papa menunjuk yang terakhir.
JG MA.
Jaga Mama.
Tiga pesan.
Hanya tiga.
Tetapi saya merasa seperti baru saja menerima seluruh kehidupan saya dari seorang laki-laki yang sedang berada di ujung hidupnya.
Saya membaca semuanya sekali lagi.
Jadi suami yang baik.
Jadi Papa yang baik.
Jaga Mama.
Saya tidak langsung menjawab.
Saya hanya memandang Papa.
Ada sesuatu yang membuat dada saya terasa sesak.
Karena tiba-tiba saya menyadari bahwa Papa tahu.
Papa tahu saya sudah menikah.
Papa tahu saya sudah menjadi seorang ayah.
Papa tahu bahwa saya sudah memiliki keluarga sendiri.
Dan Papa tahu bahwa setelah dirinya tidak ada, saya akan menjadi salah satu laki-laki yang harus berdiri menjaga keluarga kami.
Pesan itu bukan sekadar nasihat.
Itu adalah tanggung jawab.
Tanggung jawab yang Papa titipkan kepada saya.
Saya teringat kehidupan saya beberapa tahun sebelumnya.
Saya yang hampir tidak pernah pulang.
Saya yang lebih memilih teman daripada keluarga.
Saya yang hidup tanpa arah.
Saya yang pernah berpikir bahwa kebebasan berarti tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun.
Saya yang dulu bahkan tidak tahu bagaimana menjadi anak yang baik.
Dan sekarang Papa sedang meminta saya menjadi suami yang baik.
Menjadi Papa yang baik.
Menjaga Mama.
Seolah-olah Papa sedang berkata kepada saya bahwa hidup saya sudah berubah.
Saya bukan lagi anak laki-laki yang bisa pergi sesuka hati.
Saya sudah menjadi seorang suami.
Saya sudah menjadi seorang Papa.
Dan setelah Papa pergi, saya harus menjadi laki-laki yang berdiri di tengah keluarga.
Saya menatap Papa dan perlahan memahami mengapa ia memilih tiga pesan itu.
Ia tidak meminta saya menjadi kaya.
Ia tidak meminta saya menjadi terkenal.
Ia tidak meminta saya menjadi orang hebat.
Ia tidak meminta saya membuktikan apa pun.
Papa hanya meminta saya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipercayakan kepada saya.
Dan untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa saya mengerti apa yang sebenarnya ingin Papa ajarkan kepada saya.
Saya menggenggam tangan Papa.