Setelah pesan terakhir Papa untuk saya selesai, saya masih duduk di samping tempat tidurnya. Papan huruf itu masih berada di dekat tangannya. Tiga pesan tadi terus berputar di kepala saya. Saya belum tahu bagaimana saya akan menjalankan semuanya, tetapi saya tahu bahwa pesan itu akan saya bawa seumur hidup.
Kemudian Mama mendekati Papa.
Saya melihat mereka berdua dan tiba-tiba teringat sesuatu. Beberapa minggu lagi, seharusnya mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang ke dua puluh lima. Dua puluh lima tahun.
Seperempat abad.
Dua puluh lima tahun bersama seseorang bukan waktu yang sebentar. Di dalamnya ada begitu banyak hal yang tidak pernah bisa diceritakan hanya dengan beberapa kalimat. Ada hari-hari bahagia, pertengkaran, kesulitan, tawa, air mata, pekerjaan, anak-anak, dan berbagai keputusan yang harus mereka ambil bersama. Ada masa ketika mereka mungkin merasa hidup begitu mudah, dan ada masa ketika mereka harus bertahan karena keadaan tidak memberi pilihan lain.
Dan setelah dua puluh lima tahun, mereka masih berada di sana.
Bersama.
Hanya saja kali ini bukan untuk merayakan ulang tahun pernikahan.
Kami sedang menunggu akhir kehidupan Papa.
Saya melihat Mama berdiri di samping tempat tidur. Wajahnya berusaha tegar, tetapi saya tahu ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mampu ia tunjukkan. Bagaimanapun juga, laki-laki yang terbaring di hadapannya bukan hanya Papa saya.
Ia adalah suaminya.
Orang yang telah menemaninya selama dua puluh lima tahun.
Orang yang menjadi pasangan hidupnya.
Orang yang dengannya ia membangun keluarga.
Orang yang selama bertahun-tahun mungkin menjadi tempatnya pulang.
Mama kemudian mendekat kepada Papa.
Saya tidak ingin mengganggu mereka. Saya hanya diam dan menyaksikan.
Mama memegang Papa.
Kemudian dengan suara yang bergetar, Mama mulai berbicara.
“Terima kasih, Pa.”
Saya menundukkan kepala.
“Terima kasih untuk semua waktu yang kita jalani bersama.”
Suara Mama semakin bergetar, tetapi ia terus berbicara.
“Terima kasih sudah menjadi suami yang baik. Terima kasih sudah menjadi Papa yang luar biasa untuk anak-anak.”
Saya memandang Papa.
Saya tidak tahu apakah ia bisa mendengar semuanya. Secara medis, kondisinya sudah sangat buruk. Sebagian besar inderanya sudah tidak berfungsi seperti sebelumnya. Tubuhnya bergantung kepada alat-alat yang terpasang di sekelilingnya.
Tetapi Mama tetap berbicara.
Mungkin karena ada hal-hal yang harus dikatakan, bahkan ketika kita tidak tahu apakah orang yang kita ajak bicara masih bisa mendengarnya.
“Maaf kalau selama kita bersama ada banyak kesalahan,” kata Mama. “Maaf kalau ada hal-hal yang belum sempat kita lakukan.”
Saya melihat mata Mama mulai berkaca-kaca.