Setelah Papa pergi, ada satu kalimat yang terus kembali kepada saya.
Saya belum sempat.
Saya belum sempat menunjukkan kepada Papa bahwa saya benar-benar berubah. Saya belum sempat membuatnya melihat seperti apa saya menjalani kehidupan setelah semua kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya sudah bertobat. Saya sudah pulang. Saya sudah menikah. Saya sudah menjadi seorang Papa. Saya sudah mulai membangun keluarga saya sendiri. Tetapi rasanya semua itu datang terlambat.
Papa pergi ketika saya baru saja mulai belajar menjadi laki-laki yang seharusnya ia kenal.
Itulah yang paling menyakitkan.
Bukan karena saya tidak sempat mengatakan bahwa saya mencintainya. Saya rasa Papa tahu. Bukan karena saya tidak sempat meminta maaf. Mungkin melalui cara saya kembali kepada keluarga, ia sudah memahami bahwa saya menyesal. Yang membuat saya hancur adalah kenyataan bahwa saya merasa belum sempat membuktikan apa-apa.
Saya ingin Papa melihat saya menjadi suami.
Saya ingin Papa melihat saya menggendong anak saya.
Saya ingin Papa melihat bagaimana saya membangun keluarga.
Saya ingin suatu hari nanti membawa Papa ke rumah yang saya beli dengan hasil kerja saya sendiri, lalu berkata, “Pa, ini rumah saya.”
Saya ingin melihat wajahnya.
Mungkin Papa akan tertawa.
Mungkin ia akan mengatakan rumahnya terlalu kecil.
Mungkin ia akan bertanya berapa harganya.
Atau mungkin, seperti biasanya, ia hanya akan mengatakan sesuatu yang sederhana tetapi membuat saya merasa bangga.
Tetapi semua kemungkinan itu berhenti di bulan Mei 2011.
Saya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melihat reaksinya.
Dan saya harus hidup dengan kenyataan itu.
Kadang saya merasa bersalah karena saya pernah membuang begitu banyak waktu.
Tahun-tahun ketika saya memilih teman.
Tahun-tahun ketika saya jarang pulang.
Tahun-tahun ketika saya menganggap keluarga akan selalu ada.
Tahun-tahun ketika saya merasa Papa tidak perlu lagi menjadi bagian dari kehidupan saya.
Saya sering membayangkan seandainya saya bisa kembali ke masa itu.
Saya ingin menemui diri saya yang masih muda.