Tidak lama setelah itu, saya menjalani sesuatu yang seharusnya menjadi salah satu pengalaman paling membahagiakan dalam hidup saya.
Saya menjadi seorang Papa.
Tetapi kali ini semuanya terasa berbeda.
Saya menggendong anak saya dan melihat wajah kecilnya. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Ada rasa takut. Ada tanggung jawab yang tiba-tiba terasa sangat besar.
Dan di tengah semua itu, saya teringat Papa.
Saya teringat cerita Mama tentang hari ketika saya lahir.
Mama pernah bercerita bahwa Papa adalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa ia mendapatkan seorang anak laki-laki. Papa berlari-lari di rumah sakit sambil berteriak kegirangan.
Dulu cerita itu hanya terdengar lucu bagi saya.
Sekarang saya mengerti.
Ketika saya pertama kali menggendong anak saya, saya merasakan sesuatu yang mungkin pernah dirasakan Papa ketika menggendong saya.
Saya ingin tertawa.
Saya ingin menangis.
Saya ingin memberitahu semua orang bahwa saya memiliki seorang anak.
Dan tiba-tiba saya berpikir, mungkin begitulah perasaan Papa dulu.
Untuk pertama kalinya, saya memahami Papa bukan sebagai anak.
Saya memahami Papa sebagai seorang ayah.
Ada begitu banyak hal yang ingin saya tanyakan kepadanya.
Bagaimana cara menenangkan anak ketika menangis?
Bagaimana menghadapi anak yang keras kepala?
Bagaimana menjadi Papa yang tegas tanpa menjadi menakutkan?
Bagaimana menjadi Papa yang dekat dengan anak?
Bagaimana menjaga keluarga ketika keadaan sedang sulit?
Bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?
Bagaimana memastikan anak tidak merasa ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang satu per satu.
Dan setiap kali muncul, refleks saya hampir selalu sama.
Saya ingin menelepon Papa.
Lalu saya teringat.
Papa sudah tidak bisa menerima telepon saya.
Nomornya mungkin masih tersimpan di suatu tempat.