Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #17

Jaga Mama

Setelah Papa meninggal, rumah berubah.

Bukan karena dindingnya berubah.

Bukan karena perabotannya berubah.

Tetapi karena satu suara tidak lagi ada di dalamnya.

Suara Papa.

Mama harus menghadapi kehilangan yang jauh lebih besar daripada yang bisa saya pahami saat itu.

Ia kehilangan suaminya.

Ia kehilangan seseorang yang telah berjalan bersamanya selama dua puluh lima tahun.

Dan saya mulai melihat bagaimana kehilangan bisa membuat seseorang merasa begitu sendirian bahkan ketika ada orang lain di sekelilingnya.

Ada suatu masa ketika saya menemukan Mama duduk sendirian di sebuah toko selama berjam-jam.

Lebih dari enam jam.

Sendirian.

Diam.

Saya melihatnya dan tiba-tiba teringat pesan Papa.

Jaga Mama.

Dulu saya mengira pesan itu sederhana.

Sekarang saya mengerti betapa beratnya.

Menjaga Mama bukan hanya memastikan ia makan.

Bukan hanya mengantarnya ke suatu tempat.

Bukan hanya bertanya apakah ia membutuhkan sesuatu.

Menjaga Mama berarti belajar hadir ketika hidupnya terasa kosong.

Belajar menemani seseorang yang kehilangan separuh hidupnya.

Belajar duduk dalam diam ketika tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan.

Dan saya tahu, saya tidak akan pernah bisa menggantikan Papa.

Saya bukan Papa.

Lihat selengkapnya