Bertahun-tahun kemudian, saya mulai membangun rumah saya sendiri.
Bukan hanya rumah dalam arti bangunan.
Saya mulai memahami bahwa rumah tidak pernah sekadar tempat kita tidur.
Rumah adalah tempat seseorang menunggu kita.
Rumah adalah tempat kita bisa menjadi diri sendiri.
Rumah adalah tempat anak-anak belajar mengenal dunia.
Rumah adalah tempat seorang suami kembali setelah lelah bekerja.
Rumah adalah tempat seorang ibu merasa tidak sendirian.
Dan saya pernah meninggalkan rumah itu.
Dulu saya memiliki rumah, tetapi saya tidak memahami nilainya.
Saya pergi mencari kehidupan di luar sana.
Saya merasa dunia lebih menarik.
Saya merasa rumah terlalu kecil.
Saya merasa keluarga akan selalu ada.
Sekarang saya membangun rumah sendiri dengan pemahaman yang berbeda.
Saya tidak ingin rumah saya hanya menjadi bangunan.
Saya ingin rumah saya menjadi tempat anak saya ingin pulang.
Saya ingin ketika anak saya dewasa nanti, ia tidak mengingat rumah sebagai tempat yang penuh aturan dan larangan.
Saya ingin ia mengingatnya sebagai tempat ia dicintai.
Tempat ia bisa bercerita.
Tempat ia bisa melakukan kesalahan tanpa takut kehilangan keluarganya.
Tempat ia tahu bahwa sejauh apa pun ia pergi, ada orang yang akan tetap menunggunya pulang.
Karena saya pernah menjadi anak yang pergi.
Dan saya tahu betapa berharganya memiliki tempat untuk kembali.
Kadang ketika melihat anak saya bermain di rumah, saya teringat masa kecil saya.
Saya membayangkan diri saya berlari dengan sepeda.
Saya membayangkan Papa berdiri di belakang saya.
Saya membayangkan tangannya yang membantu menjaga keseimbangan sampai akhirnya saya bisa mengayuh sendiri.
Saya teringat lapangan sepak bola.
Saya teringat Papa yang mengantar saya latihan.
Saya teringat bioskop dan Power Rangers.
Saya teringat malam-malam ketika kami menonton Arsenal.
Saya teringat dua telur rebus.
Dua cangkir kopi.
Dan seorang Papa yang membangunkan anak laki-lakinya hanya supaya mereka bisa menikmati pertandingan bersama.
Dulu saya mengira semua itu adalah bagian kecil dari masa kecil.
Sekarang saya tahu bahwa justru di situlah rumah saya dibangun.
Bukan dari tembok.
Bukan dari semen.
Bukan dari perabotan.
Tetapi dari waktu.
Dari kehadiran.