Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar saya mengerti setelah Papa meninggal.
Mengapa ia masih sering datang.
Bukan datang dalam bentuk yang menakutkan.
Bukan sebagai sesuatu yang membuat saya takut membuka mata.
Papa datang dalam mimpi saya seperti Papa yang saya kenal semasa hidup.
Kadang ia muncul begitu saja.
Tidak ada suasana dramatis. Tidak ada cahaya dari langit. Tidak ada percakapan panjang seperti yang biasanya terjadi dalam film. Saya hanya sedang berada di suatu tempat, kemudian tiba-tiba Papa ada di sana.
Dan anehnya, setiap kali itu terjadi, saya selalu merasa semuanya normal.
Seolah-olah Papa memang belum pernah pergi.
Seolah-olah selama ini ia hanya sedang berada di tempat lain.
Saya masih ingat salah satu mimpi ketika saya sedang berada di sebuah masa penting dalam hidup saya.
Saat itu saya sedang berusaha menyelesaikan pendidikan S1.
Banyak hal yang membuat saya lelah. Ada pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, dan berbagai hal yang harus saya pikirkan. Saya merasa perjalanan itu terlalu panjang.
Kemudian malam itu saya bermimpi bertemu Papa.
Kami seperti sedang berada di sebuah tempat biasa.
Papa duduk dengan santai.
Saya melihat wajahnya.
Wajah yang sudah bertahun-tahun hanya bisa saya lihat dalam foto dan ingatan.
Saya langsung tahu bahwa itu Papa.
Tidak ada keraguan.
Saya mendekatinya.
“Pa.”
Papa melihat saya.
Kemudian, seperti biasa, ia tidak langsung memberikan nasihat panjang.
Ia hanya tersenyum.
Lalu mengatakan sesuatu yang sederhana.
“Sudah?”
Saya tahu maksudnya.
Sudah selesai?
Sudah berjuang?
Sudah menyerah?
Saya tidak tahu.
Tetapi entah mengapa, setelah mendengar satu kata itu, saya merasa harus melanjutkan.
Ketika bangun, saya masih mengingat wajahnya.
Dan saya kembali menjalani hari.
Saya menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan.
Saya lulus.
Tetapi saya tidak pernah tahu apakah mimpi itu benar-benar pesan dari Papa atau hanya cara pikiran saya menghadirkan seseorang yang sangat saya rindukan.
Mungkin memang hanya mimpi.
Tetapi bagi saya, rasanya lebih dari itu.
Papa juga pernah muncul ketika saya membeli rumah pertama.
Saat itu saya sangat bahagia.
Bagi sebagian orang, membeli rumah mungkin adalah hal biasa.
Bagi saya, rumah memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Saya pernah menjadi anak yang meninggalkan rumah.
Sekarang saya sedang membangun rumah untuk keluarga saya sendiri.
Saya ingin Papa melihatnya.
Saya ingin membawanya berkeliling.
Saya ingin menunjukkan kamar.
Ruang tamu.
Halaman.
Saya ingin berkata, “Pa, akhirnya saya punya rumah.”
Tetapi Papa sudah tidak ada.