Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #20

Apa yang Papa Tinggalkan

Bertahun-tahun setelah Papa pergi, saya mulai memahami bahwa pertanyaan tentang warisan tidak selalu berkaitan dengan apa yang ditinggalkan seseorang setelah kematiannya.

Dulu saya mungkin akan berpikir bahwa seorang ayah meninggalkan rumah, tabungan, benda-benda, atau sesuatu yang bisa diwariskan kepada anak-anaknya.

Tetapi semakin saya menjalani hidup, semakin saya memahami bahwa ada warisan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam lemari.

Tidak bisa dihitung.

Tidak bisa dijual.

Tidak bisa diwariskan melalui surat.

Warisan itu hidup di dalam cara kita menjalani kehidupan.

Dan Papa meninggalkan banyak hal kepada saya.

Papa meninggalkan saya cara memaafkan.

Saya tidak akan pernah melupakan hari ketika saya datang ke ICU dengan kemarahan.

Saya ingin tahu siapa murid yang membuat Papa terkena serangan jantung.

Saya ingin membalas.

Saya pikir kemarahan adalah bentuk kasih sayang.

Saya pikir melindungi seseorang berarti membalas orang yang menyakitinya.

Tetapi Papa menghentikan saya hanya dengan beberapa huruf di atas sebuah papan.

GK USH PA DH MF.

Tidak usah, Papa sudah memaafkan.

Saat itu saya belum sepenuhnya mengerti.

Sekarang saya tahu.

Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan seseorang tidak penting.

Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai hidup kita.

Papa mengajarkan itu ketika tubuhnya sendiri sedang berada di ambang kehidupan dan kematian.

Dan pelajaran itu tetap saya bawa.

Papa meninggalkan saya keberanian untuk bangkit.

Saya pernah menjadi anak laki-laki yang tersesat.

Saya pernah menjalani kehidupan yang tidak saya banggakan.

Saya pernah meninggalkan keluarga.

Saya pernah membuang waktu.

Tetapi Papa dan Mama tidak menutup pintu ketika saya akhirnya kembali.

Mereka menerima saya.

Bahkan ketika saya datang kepada mereka dengan ketakutan bahwa saya akan dimarahi, ditolak, atau tidak dianggap sebagai anak lagi, mereka justru menerima saya dengan sukacita.

Dari sana saya belajar bahwa seseorang tidak harus terus menjadi seperti masa lalunya.

Kesalahan bisa menjadi bagian dari cerita.

Tetapi kesalahan tidak harus menjadi akhir cerita.

Saya bisa bangkit.

Saya bisa berubah.

Saya bisa pulang.

Dan saya bisa memulai lagi.

Papa meninggalkan saya cinta kepada keluarga.

Dulu saya pikir cinta cukup dengan perasaan.

Sekarang saya tahu cinta membutuhkan kehadiran.

Papa menunjukkan itu kepada saya sejak kecil.

Ia hadir ketika saya belajar naik sepeda.

Ia hadir ketika saya bermain sepak bola.

Ia hadir ketika saya mengejar mimpi menjadi pemain profesional.

Ia hadir dalam malam-malam ketika kami menonton Arsenal.

Bahkan ketika saya tidak lagi hadir untuknya, Papa tetap membuka pintu.

Saya mungkin tidak menyadarinya ketika masih muda.

Tetapi sekarang saya mengerti.

Cinta seorang Papa bukan hanya kata-kata.

Cinta adalah waktu.

Cinta adalah hadir.

Cinta adalah memilih untuk tetap ada.

Dan itulah yang sekarang ingin saya berikan kepada keluarga saya.

Papa juga meninggalkan saya tanggung jawab sebagai suami.

Ketika ia menunjuk papan dan menulis:

JD SM BK.

Jadi suami yang baik.

Saya tahu ia tidak sedang berbicara tentang menjadi suami yang sempurna.

Lihat selengkapnya