Pa, Saya Sudah Datang

Dewangga Putra
Chapter #21

Papa, Saya Sudah Datang

Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari itu.

Sudah begitu banyak hal terjadi setelah Mei 2011.

Saya bertumbuh.

Saya belajar.

Saya jatuh dan bangkit berkali-kali.

Saya menyelesaikan pendidikan saya. Saya membangun rumah. Saya membeli mobil. Saya menjalani pekerjaan, membangun keluarga, dan melewati begitu banyak hari yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya jalani tanpa Papa.

Ada banyak hal yang akhirnya berhasil saya capai.

Hal-hal yang dulu mungkin ingin sekali saya ceritakan kepada Papa.

Kalau Papa masih ada, mungkin saya akan meneleponnya.

“Pa, saya sudah lulus.”

“Pa, saya sudah punya rumah.”

“Pa, saya akhirnya punya mobil.”

“Pa, lihat, anak saya sudah sebesar ini.”

Mungkin Papa akan tertawa.

Mungkin ia akan mengatakan sesuatu yang sederhana.

Mungkin ia justru akan mengkritik sesuatu yang menurut saya sudah bagus.

Saya bisa membayangkan wajahnya.

Dan justru karena saya bisa membayangkannya, saya semakin sadar bahwa ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Papa tidak pernah melihat semua itu.

Ada kalanya saya masih merasa sedih karena itu.

Bukan karena saya membutuhkan pengakuan.

Bukan karena saya ingin dipuji.

Tetapi karena dulu, ketika Papa masih hidup, saya pernah memiliki keinginan sederhana untuk membuatnya bangga.

Ironisnya, ketika akhirnya saya mulai menjadi orang yang saya harapkan, Papa sudah tidak ada.

Saya pernah berpikir bahwa itulah penyesalan terbesar dalam hidup saya.

Saya sudah pulang.

Saya sudah bertobat.

Saya sudah menikah.

Saya sudah menjadi Papa.

Saya sudah berusaha membangun kehidupan yang lebih baik.

Tetapi saya belum sempat membuktikan semuanya kepada Papa.

Waktu saya tidak cukup.

Atau mungkin sebenarnya waktu saya sudah cukup, hanya saya yang dulu terlalu banyak membuangnya.

Saya tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Tetapi saya tahu satu hal.

Saya pernah menjadi anak yang pergi ketika seharusnya tinggal.

Dan ketika akhirnya saya ingin tinggal, Papa justru harus pergi.

Kadang saya masih memikirkan percakapan terakhir kami.

Sebuah papan huruf.

Tangan Papa yang menunjuk satu per satu.

JD SM BK.

Jadi suami yang baik.

JD PA BK.

Jadi Papa yang baik.

JG MA.

Jaga Mama.

Dulu saya menganggapnya sebagai pesan terakhir seorang ayah kepada anak laki-lakinya.

Sekarang saya menyadari bahwa mungkin itu bukan pesan terakhir.

Itu adalah petunjuk.

Papa tidak memberi saya sesuatu untuk dibawa setelah kematiannya.

Ia memberi saya sesuatu untuk dijalani.

Hari ini, ketika saya melihat anak saya, saya sering teringat kepada Papa.

Ada kalanya saya melihat cara anak saya tertawa dan saya bertanya-tanya apakah dulu saya juga tertawa seperti itu ketika Papa menggendong saya.

Ketika anak saya memanggil saya, saya teringat bahwa dulu saya juga memiliki seorang Papa yang bisa saya panggil.

Ketika anak saya meminta saya menemaninya, saya teringat semua waktu yang pernah diberikan Papa kepada saya.

Dan pada saat-saat seperti itu saya akhirnya mengerti sesuatu yang dahulu tidak pernah bisa saya pahami.

Mungkin saya memang tidak pernah sempat membuktikan kepada Papa bahwa saya telah berubah.

Tetapi setiap kali saya menjadi suami yang baik, Papa ada di sana.

Setiap kali saya menjadi Papa yang baik, Papa ada di sana.

Setiap kali saya menjaga Mama, Papa ada di sana.

Bukan karena saya benar-benar bisa melihatnya.

Bukan karena ia datang dari suatu tempat yang tidak saya mengerti.

Tetapi karena semua yang saya lakukan hari ini sedikit banyak berasal dari apa yang Papa tanamkan dalam hidup saya.

Papa tidak lagi berjalan di samping saya.

Tetapi saya masih berjalan dengan cara yang pernah ia ajarkan.

Lihat selengkapnya