Setelah selesai mengikuti rapat darurat Majelis Permusyawaratan Dedemit yang berlangsung di Istana Pantai Karang Manalusu, Bendoro pergi ke rumah Kondar untuk memenuhi janjinya. Dia menggunakan portal pohon untuk pergi ke rumah Kondar dari istana.
Setelah melewati portal pohon, Bendoro tiba di sebuah hutan yang angker, lalu dia berjalan menyusuri semak semak untuk mencapai rumah Kondar yang berada di pedalaman hutan. Setengah jam dia berjalan melewati berbagai tanaman merambat dan berduri yang menghalanginya, akhirnya sampailah ia di rumah keluarga tengkorak.
Rumah Kondar terlihat seperti bangunan gereja yang sudah sangat usang. Bangunannya terbuat dari kayu jati. Di halaman depannya tedapat beberapa tengkorak manusia yang disusun rapi membentuk sebuah pijakan menuju pintu depan rumahnya. Bendoro berjalan diatas pijakan yang terbuat dari puluhan tengkorak manusia itu menuju beranda rumah. Ketika di depan pintu masuk, dia mengetuk pintu depan yang kemudian dibuka oleh Kondar.
“Hey.....N’doro!! akhirnya datang juga...ayo mari masuk!! “ ajak Kondar.
Bendoro pun masuk kedalam rumah. Begitu di dalam, ia melihat anak-anak Kondar yakni Marlo dan Marli sedang bermain dengan anjing peliharaan mereka yang juga berwujud tulang belulang hidup.
“Hey anak-anak sini !...salim dulu nih ke tante N’doro” panggil Kondar yang memerintahkan anak-anaknya untuk mencium tangan Bendoro yang baru datang. Mereka pun sangat antusias dalam menyambut kedatangannya.
“Hey....anak-anak....tante punya sesuatu buat kalian" sapa Bendoro sambil mengeluarkan dua buah botol berisi jus darah dari saku yang berada di bagian perutnya.
“Makasih tante..hehehehe” kata Marlo dan Marli secara bersaman.
Bendoro dan Kondar kemudian pergi ke ruang makan sedangkan anak anak kembali bermain dengan anjing peliharaannya sambil menikmati jus darah pemberian Bendoro. Di dapur, Bendoro melihat Marni, istri Kondar yang sedang memasak, kemudian Bendoro menyapanya sambil cipika-cipiki. Sama seperti Kondar, Marni juga berwujud tulang belulang hidup, akan tetapi dia masih memiliki rambut panjang yang dikepang, kulit yang menutupi semua permukaan tubuh dan bola mata yang berwarna biru terang. Dia tampak memakai baju daster batik berwana merah.
Ruang makan dan dapur di rumah Kondar tampak menyatu sehingga Bendoro yang duduk di meja makan, bisa melihat Marni memasak.
“Sambil menunggu masakannya mateng...tuh ada apel!!...sekadar mangganjal perut...banyak belatungnya lho didalemnya... enak banget N'doro” kata Kondar yang menawarkan setumpuk apel busuk berbelatung yang berada di sebuah wadah di tengah-tengah meja makan. Bendoro kemudian mengambil dan memakannya.
“Mmmmm......enak banget apelnya Dar...apalagi belatungnya terasa sangat gurih” komentar Bendoro yang asyik mengunyah apel berbelatung itu.
Selama menunggu masakan selesai, Bendoro menceritakan semua yang dialaminya ketika mengikuti rapat Majellis Permusyawaratan Dedemit bersama Kanjeng Ratu. Dia juga bercerita tentang Hayati yang telah ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan Wewe Gombel, lalu bagaimana mereka pertama kali bertemu kemudian menjadi rekan kerja dan akhirnya sampai berpisah kepada Kondar dan istrinya.
“Sepertinya, aku mau ngikutin saran kamu Dar tentang ambil cuti kerja”
“Wah serius nih......kamu jadi mau nyari pacar manusia?”
“Enggak juga sih...........aku mau mencari Hayati dan menangkapnya, yah kuanggap itu sebagai tugas hiburan dan menjadi alasan ku buat cuti”
“Wah....kamu harus hati-hati N’doro! Hayati pasti kuntilanak sakti juga...wong dia bisa ngalahin Wewe Gombel yang seorang siluman bangsawan”
“Tenang aja Dar, Hayati tuh murid aku, dia gak bakalan bisa ngalahin aku...heheheh”
“Whoa....whoa...kamu jangan sombong N’doro!! Siapa tau sekarang kesaktian Hayati udah melebihi kamu...bukannya tadi kamu bilang luka sayat di Bibir kamu akibat ulah dia pas berantem sama kamu?”
Bendoro mendadak terdiam setelah mendengar komentar dari Kondar tentang luka sayat di Bibirnya. Dia mendadak merasakan sakit ketika membayangkan bagaimana Hayati melakukan serangan kilat dengan menebas Bibirnya ketika bertarung sepuluh tahun yang lalu.
“Iya Dar, kamu benar....Hayati bisa melukaiku gara-gara aku terlalu menganggap enteng dirinya hingga aku menjadi lengah...hmm”
“Makanya jangan jemawa dulu N’doro!"