PACARKU KUNTILANAK : JILID 2

martincorp
Chapter #5

Adikku Tersayang

Asnawi telah selesai mengikuti jam kuliah lebih awal karena dosen yang mengajar mendadak ada urusan, jadi kelas langsung dibubarkan. Berhubung waktu menuju kuliah berikutnya masih sekitar satu jam lagi, Asnawi memilih untuk pergi ke kantin. Ia akan menghabiskan waktu disana sambil ngopi. Kali ini dia nongkrong sendirian. Febri dan Eka tidak satu kelas dengannya karena mereka memilih mata kuliah yang berbeda.

Asnawi duduk di sebuah bangku panjang yang terletak paling pojok ruang makan kantin. Ia memesan segelas kopi hitam dan beberapa cemilan. semenjak pacaran dengan Hayati, Asnawi mulai berhenti merokok karena dirinya sudah berjanji kepadanya untuk hidup sehat dengan tanpa merokok. Hal ini terasa sangat berat bagi dirinya untuk menghentikan kebiasaanya itu, namun demi cintanya, dia berusaha keras.

Ia melamun sambil menyeruput kopi hitamnya. Dalam lamunannya, ia membayangkan menikah dengan Hayati suatu hari nanti lalu tinggal bersama di sebuah kampung yang terpencil dengan sebuah rumah sederhana di kaki gunung. Di belakang rumahnya, Ia memelihara beberapa ekor kambing yang dibiarkan berkeliaran mencari rumput.

Asnawi duduk di sebuah kursi rotan di beranda rumah sambil melihat Hayati yang sedang memetik sayuran di halaman. Ia membawa sebuah boboko untuk menyimpan sayuran yang dipetiknya. Hayati hanya berselimut sarung batik dengan rambut panjangnyanya yang terurai indah. Dia menoleh ke arah Asnawi sambil tersenyum manis bagaikan kembang desa yang sangat cantik. Suatu pemandangan yang sangat indah pikir Asnawi. Ia kemudian tersenyum untuk membalas senyuman Hayati.

Tiba-tiba munculah Cascade dari dalam rumah. Dia hanya memakai kaos oblong warna hitam dan celana dalam. Ia lalu menghampiri Asnawi yang tengah duduk di kursi yang sedang memandangi Hayati. Cascade pun langsung duduk diatas pangkuan Asnawi dan memeluknya sehingga menutup pandangan Asnawi terhadap Hayati. “Did you missed me Honey...??” tanya Cascade.

Asnawi langsung kaget dan tersadar dari lamunan indahnya. Ternyata memang Cascade sudah berada dihadapan Asnawi. “Wey!...wey!...Nawi sadar!!! lu kaya orang gila !!! “ Cascade menepuk-nepuk pipi Asnawi untuk menyadarkannya.

“ Aahhhh.....elu Cas...huhhhh!!....kaget gue” Asnawi kaget.

“Abisnya elu ngelamun sambil senyam-senyum sendiri....you looks like a nuts” tandas Cascade yang kemudian duduk di hadapan Asnawi.

Di sebelah Cascade ada Rani yang terlihat masih menertawakan dirinya. Cascade tidak pernah memanggil Asnawi dengan sebutan ‘HONEY’ di depan teman-temannya. kala itu, ia tampil seperti biasa dengan memakai stelan tomboynya yakni kaos oblong yang dirangkap oleh kemeja kotak kotak dan celana jeans, namun sekarang dia memakai dua kalung yaitu kalung salib pemberian ayahnya dan kalung liontin hati pemberian Asnawi. Rani tetap konsisten dengan pakaian hijab syar’i nya, ia tampak tidak henti-hentinya menertawakan Asnawi.

“Nawi...Nawi....lu kenapa sih sampe ngelamun sebegitunya hahaha” komentar Rani.

“Gue lagi happy banget Ran akhir-akhir ini.....jadi kebawa suasana” jawab Asnawi.

Segerombolan cewek-cewek menawan tiba-tiba datang menghampiri bangku yang diduduki oleh Asnawi, Cascade dan Rani. Mereka adalah teman-teman Cascade yang terlebih dulu memesan makanan sebelumya. Mereka adalah Milla, Vania dan Merry. Untuk nama yang terakhir, Asnawi mendadak langsung menaruh perhatian. Dirinya masih sakit hati dengan penolakan cinta yang dilakukan Merry yang menggunakan alasan yang sangat mainstream yaitu menjadi Kakak-Adik. Asnawi melihat adanya suatu kesempatan untuk membalas rasa sakitnya kepada Merry.

“Hey..Milla..Vania....apa kabar?” sapa Asnawi kepada Milla dan Vania sambil menyalami mereka berdua.

“Dan siapa ini? hmmm!! halo Adikku Tersayang....apa kabar?” sapa Asnawi kepada Merry . Ia langsung menyalaminya, mendadak salaman itu disambut antusias oleh teman-teman lainnya.

“CIEEEEE.....CIEEEEE...CIEEEEE....yang Kakak – Adik......baru ketemuan yah” ledek Milla yang disambut tawa teman teman yang lainnya. Merry tampak tersipu malu.

Mereka kemudian duduk berjejer di bangku panjang yang berhadapan Asnawi. Asnawi merasa bahwa saatnya untuk mempermalukan Merry. Ia mendadak menggeser posisi duduknya yang semula berhadapan dengan Cascade menjadi berhadapan dengan Merry.

“Adindaku sudah lama diriku tak bertegur sapa dengan dirimu...kemanakah kamu melangkahkan kaki selama ini??” tanya Asnawi yang mendadak berbicara seperti seorang penyair.

“Apaan sih!!.....aku ada aja disini, nggak kemana-mana, biasa aja kali ngomongya!...gak usah alay kayak gitu” ketus Merry yang mulai merasa tidak nyaman dengan kelakuan Asnawi.

“Cieee....Adinda mulai bertegur sapa sama Kakanda...hahahaha” ledek Rani sambil tertawa terabahak-bahak.

“Baiklah Adindaku tersayang........syukurlah kalau selama ini dirimu ada disini baik baik saja....hehehe” Asnawi kembali melancarkan ledekannya kepada Merry yang membuat dirinya terlihat canggung.

“Ehh Wi!! tadi lu bilang lagi bahagia........emang abis ngapain?” tanya Rani.

“Si Nawi tuh baru dapet pacar baru Ran.....iya kan Wi” sahut Cascade yang tiba-tiba menjawab pertanyaan Rani.

“Yoi....That's right beybeh...hahahahha” Asnawi menanggapi pernyataan Cascade. Sontak, semua orang mengucapkan selamat kepada Asnawi terkecuali Merry yang wajahnya mulai memerah mendengar hal itu.

“Wah wajib...harus..kudu nraktir kita-kita nih! ”ungkap Milla

“Kaleemmmm....nanti semua gue traktir, bukan begitu Adindaku?” Asnawi kembali meledek Merry.

Melihat kelakuan Asnawi yang terus-menerus meledeknya, Merry mulai merasa kesal, dia terus menerus menyedot minumannya tanpa henti sampai hampir habis. Sementara itu. Cascade juga mulai merasa kalau perlakuan Asnawi ke Merry terlalu berlebihan.

“Nawi....pacar lu tuh anak mana yah? cantik gak? pengen kepo dong gue...hehe?” tanya Milla sambil memakan kue talam..

“Yaaaaaaaaaah........euuhhh?? cewek gue ini udah gak kuliah sih, dia DO karna gak ada biaya, sebelumnya dia kuliah kedoteran di UI, dia orang Jakarta tapi sekarang dia tinggal bersama sodaranya di Bandung” jawab Asnawi.

“Eh lu belum jawab Wi !!, cantik gak pacar lu tuh? kalo sama Adindamu cantikan mana? Hehehe” Milla kembali bertanya sambil menunjuk ke Merry. Sontak, Cascade langsung menepuk paha Milla untuk tidak ikut meledek Merry yang tengah kesal sendiri.

“Ya pastinya cantik banget..hehehe...pokonya lebih cantik dari lu semua yang ada disini deh, kalo gak percaya tanya nih si Cascade, dia udah pernah liat fotonya” jawab Asnawi.

“BITCH PLEASE !!!! I CANT BELIEVE IN THAT !!....palingan itu foto hasil editan....gue pengen liat langsung pacar lu di depan mata gue” seru Cascade dengan raut wajah kesal karena Asnawi menyebut pacarnya lebih cantik dari semua cewek yang ada di situ termasuk dirinya.

“Okeh Cas....gue bakal langsung kenalin ama lu deh....sekalian sama lu semua...terutama kepada Adindaku ini..hehe...biar kalian tau bahwa ada cewek yang lebih cantik daripada kalian yang ngakunya jadi seleb kampus” Asnawi menerima tantangan Cascade sambil meledek semua cewek yang ada disitu.

“Anjiing!! sombong lu !! mentang-mentang baru punya cewek cakep langsung ngebandingin sama kita kita ini...ngaca lu!!..kita ini anak anak orang kaya...kita ini sosialita kampus!!...gue ragu banget deh sama elu!! lu punya cewek miskin yang DO dari kampus udah bangga!!” bentak Vania yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam obrolan karena merasa sanat kesal dengan Asnawi yang memuji pacarnya lebih cantik daripada dirinya. Hal yang sama juga dialami oleh semua cewek yang ada di situ.

“Coba nanti pas acara Dies Natalis, lu bawa cewek lu kemari...kenalin sama kita-kita!!” tantang Vania dengan nada yang semakin meninggi.

“Whoa...whoa...kok kalian jadi pada kesel yah ama gue? siyap lah, nanti gue bakalan bawa dia kesini dan dikenalin sama lu semua....gue peringatin sama kalian semua buat siapin mental kalian...karena kecantikan pacar gue ini bikin para cewek iri dan merasa jadi paling jelek di dunia hehehe” Asnawi menjawab tantangan dari Vania dengan congkak. Akan tetapi, dirinya mulai cemas melihat para ekspresi para cewek yang mulai kesal dengannya. Sesekali ia melihat ke arah Merry yang semakin tidak karuan, dia mulai berlagak seperti orang sakit dengan terus memegangi kepalanya.

“Oke siapa takut!!! gue punya mental baja gue gak bakalan iri sama cewek lu karena gue adalah cewek paling cantik ini” tantang balik Vania.

Tiba-tiba Eka dan Febri datang menghampiri mereka. Mereka langsung menyapa para cewek-cewek yang sedang keal itu, lalu duduk di mengapit Asnawi.

“Nih...Febri dan Eka udah pernah ketemu sama cewek gue..gimana nih pendapat kalian?....soalnya ibu-ibu disini pada nggak percaya ama gue kalo pacar baru gue tuh cantiknya kayak bidadari” Asnawi merasakan mendapat bantuan dari sahabatnya.

“Oh kalian lagi pada ngomongin ceweknya Asnawi? yaah menurut gue mah si Asnawi nih Lucky Bastard yah...dia ini cowok yang biasa aja, males, jorok, pinter juga kagak...tapi bisa bisanya dapetin cewek secakep itu...gue juga nggak nyangka banget gays...kenapa dia bisa dapetin cewek super duper cantik seksi bahenol nerkom montok cetar membahana? gue terus terang iri banget sama nih manusia kampret!!” jawab Febri yang berusaha memprovokasi para cewek.

“Betul gays....gue juga iri sama si Nawi....tapi gua salut banget sama manusia laknat ini, soalnya dia selalu sabar ketika ditolak cewek...betulkan broo??” tambah Eka sambil menepuk pundak Asnawi.

Asnawi mengangguk-angguk menanggapi pertanyaan Eka. ”Gue pikir semua yang didapet Asnawi ini adalah hadiah dari Tuhan atas kesabarannya yang selalu ditolak cewek dan dikasih PHP”. kemudian Asnawi merasa terharu mendengar perkatan Eka, mereka pun langsung berpelukan.” Tengkiyu yah broo.....lu selalu dukung gue” bisik Asnawi ke telinga Eka.

"Emang seberapa cantiknya sih ceweknya si Nawi?" tanya Vania yang mulai guyah mentalnya.

"Lu tau Pevita Pearce?" tanggap Febri.

"Iya tau lah"

"Ceweknya si Nawi nih kecakepannya sepuluh kali lipat dari dia..."

"Anjiiir!!!!...lebay banget sih lu...gue jadi penasaran banget nih" tukas Rani.

“Aahhh!!!...aduh pusing banget nih..aku nggak kuat” teriak Merry yang mendadak sakitnya makin parah setelah mendengar omongan Febri tentang tentang tingkat kecantikan Hayati dan Eka yang membahas kalau Asnawi selalu sabar jika ditolak cewek.

Lihat selengkapnya