PACARKU KUNTILANAK : JILID 2

martincorp
Chapter #6

Dies Natalis

Pagi mulai menjelang, udara dingin kota Bandung yang sangat menusuk tulang mulai menjalar keseluruh tubuh Hayati yang masih terbaring dalam pelukan sayang Asnawi di atas tempat tidur yang cukup sempit. Mereka tidur dengan posisi menyamping dan saling berpelukan satu sama lain. Hayati terbangun karena merasakan sangat kedinginan tiada tara. Dia kemudian menarik selimut yang tergeletak di lantai, Hayati lalu menyelimuti dirinya dengan Asnawi.

Hayati kembali berbaring disebelah Asnawi yang masih terlelap, namun dirinya tidak kembali tidur melainkan hanya memandangi wajah Asnawi. Hayati senyum-senyum sendiri ketika memperhatikan wajah Asnawi yang belepotan dipenuhi oleh bumbu sate yang telah mengering. Dia juga mengelus kepalanya dan sesekali mencium kening. Hayati telah melewati malam yang sangat indah dengan tak terduga. 

Hayati mengambil beberapa lembar tissue yang terserak di bawah tempat tidur, lalu dia membersihkan wajah Asnawi dengan tissue itu. Ketika Hayati mengelap wajah Asnawi, tiba-tiba Asnawi terbangun.

 “Hmmmm.........sayang!!” seru Asnawi sambil berusaha membuka matanya.

“Pagi mas ku sayang....” sapa Hayati dengan tersenyum.

Asnawi kemudian mengelus pipi Hayati, lalu menciumnya sebagai balasan sapaan selamat pagi untuk Hayati.

“Kamu lagi ngapain..?”

“Aku lagi bersihin wajah mas....belepotan banget banyak bumbu sate yang udah kering”

“Hehe...makasih Hayati sayang...kamu perhatian banget”

Setelah beberapa saat, Asnawi kemudian bangun dari tempat tidur Dia kemudian mengambil handuk yang tergantung di balik pintu, kemudian ia berniat pergi ke kamar mandi. Tampak pungung Asnawi yang terluka akibat cakaran Hayati dikotori oleh darah yang sudah mengering. Hayati tampak khawatir melihat kondisinya.

“Mas mau kemana?......”

“Aku mau mandi Hayati sayang, mandi bareng yuk!”

“Hihihihi...gak mau mas ah......aku nggak perlu mandi mas”

“Lho kan kamu juga kotor, wajahmu juga sama belepotan penuh bumbu sate”

“Gampang aku mah mas.....tinggal jentikin jari langsung bersih dan wangi lagi”

Hayati kemudian bangun dari tempat tidur, lalu kemudian memakai baju kemeja Asnawi yang berlumuran darah dan berlubang itu untuk menutup tubuhnya.

“Kamu seksi banget pake baju aku...hehehehe”

“iihhh mas ku ini mesum mulu deh pikirannya”

Hayati kemudian menghampiri Asnawi untuk melihat kondisi punggungnya. Tampak terlihat luka sayatan berjumlah sepuluh sesuai dengan jumlah jari Hayati yang tidak sengaja mencakarnya. Ia memeriksa luka-luka itu dengan seksama. Kemudian Hayati menyarankan kalau luka Asnawi harus segera dijahit agar tidak infeksi. Asnawi menerima saran itu, namun dirinya ingin mandi terlebih dahulu sebelum lukanya dijahit untuk membersihkan noda darah yang mengering.

“Aku pengen liat kamu membersih kan diri dong...katamu kan tadi cuman satu jentikan jari” pinta Asnawi

Hayati kemudian menjentikan jari tangan kanan nya, seketika ia langsung mengalami perubahan dengan sangat drastis. Wajah dan tubuhnya langsung kembali bersih tanpa meniggalkan noda sedikitpun bahkan baju kemeja Asnawi yang dipakai Hayati mendadak kembali menjadi bersih dan lubang bekas cakarannya pun hilang. Baju itu tampak terlihat seperti baru. Asnawi sangat terpukau melihat Hayati kembali bersih dan menyerbakkan wangi bunga melati.

“Waaah....hebat banget, kamu langsung bersih dan wangi lagi”

“Iya mas.......jadi aku nggak perlu mandi kan...”

“Yaudah kalo gitu aku mau mandi dulu...nanti baru dijahit sama kamu”

“Siyap mas ku ...hihihihihi”

Asnawi kemudian pergi ke kamar mandi, sedangkan Hayati menyiapkan peralatan bedah milik Asnawi dan kotak p3k untuk mempersiapkan pengobatan luka cakar yang dialami Asnawi.

Selesai mandi, Asnawi kembali ke kamarnya. Dia baru sadar kalau kamarnya sangat berantakan. Di atas lantai banyak sekali tusuk sate yang berserakan. Dirinya menyadari betapa dahsyatnya perang yang terjadi semalam antara dirinya dengan Hayati.

Hayati tampak sudah menyiapkan peralatan medisnya, ia menyuruh Asnawi untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. Asnawi pun duduk, lalu Hayati mulai melakukan proses penjahitan luka. Asnawi beberapa kali meringis kesakitan ketika Hayati mengoleskan alkohol ke atas permukaan luka untuk membersihkannya. Hayati sangat terampil dalam menangani hal seperti ini. Dia dengan luwes menjahit luka robek akibat cakarannya sendiri. Dibutuhkan sekitar 3-6 jahitan untuk setiap lukanya. Setelah lima belas menit, akhirnya ia selesai menangani luka Asnawi. Hayati kemudian menutup luka itu dengan perban yang direkatkan oleh plester.

“Nah....udah beres mas ku.....sekarang kamu boleh pake baju!!” kata Hayati sambil merapikan balutan perbannya.

Asnawi kemudian mengambil baju dari lemari untuk dipakai, lalu kemudian ia pamit kepada Hayati untuk pergi keluar. Ia pergi untuk membeli kosmetik dan persiapan acara malam minggu nanti. Dia pergi keluar tidak menggunakan motor, melainkan ojek online karena Asnawi akan mencari mobil yang bisa disewa beberapa jam saja untuk dia bawa pulang ke kostannya ketika pulang belanja.

Asnawi pergi menuju sebuah toko grosir kosmetik yang berada di Jalan Mahmud di kawasan Pasir Kaliki Bandung. Dia tahu tempat itu karena dulu pernah mengantar Bibinya untuk memborong peralatan rias untuk kebutuhan salonnya. Asnawi menyerahkan kertas yang berisi daftar kosmetik yang akan dibelinya kepada pelayan toko untuk dipersiapkan. Sambil menunggu, Asnawi melihat-lihat berbagai merk kosmetik terbaru yang ada di dalam etalase toko. Tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang menepuk punggungnya, ia pun langsung menoleh kebelakang. Ternyata orang itu Bi Asih. Dia berada disitu bersama Jaenal yang masih memakai seragam pramuka.

“Den Nawi...lagi ngapain disini?” sapa Bi Asih

“Lagi beli kosmetik Bi.....Ibu Kost nitip beliin sama aku, Bibi lagi ngapain juga disini?” jawab Asnawi yang terpaksa berbohong soal Ibu Kost yang nitip.

“Aku lagi beli masker buat wajah Den, udah habis di rumah...sekalian jemput Jaenal pulang sekolah” jawab Bi Asih.

Asnawi kemudian merogoh sakunya dan mengambil uang 20 ribu untuk diberikan kepada Jaenal yang sedang sibuk menjilati es krimnya.

“Nih.....buat beli cilok..hehehe” kata Asnawi

“Makasih Om..........slurrppp” jawab Jaenal sambil menjilat es krim.

“Duh Aden!!.....gausah repot-repot, hehehe” Bi Asih salah tingkah.

“Gak papa Bi....hehehehe” balas Asnawi sambil mengelus kepala Jaenal.

”Bi ngomong-ngomong Bibi kesini naik apa yah?” .

“Ya mobil atuh den, masa naek delman...ari si Aden jiga nu lieur hahahaha”

 Mendengar jawaban Bi Asih, Asnawi mendadak dapat ide cemerlang tentang mobil. Dia tahu bahwa Bi Asih mempunyai mobil Honda Jazz yang cukup bagus dan masih baru. Dia berniat utuk meminjamnya buat pergi ke acara Dies Natalis.

“Bi, malem minggu ini mobil nganggur gak?”

“Hmmm....nganggur sih den, emang kenapa? mau minjem?”

“Betul banget Bibiku yang cantik....aku mau ada acara nanti malem di kampus hehehe”

“Nih ambil kuncinya den!!....tapi anterin kita pulang ke rumah dulu yah” Bi Asih memberikan kunci mobilnya ke Asnawi.

“Siyap Buuu.....makasih banget yah Bi, aku jadi gak usah rental mobil hehehehe” jawab Asnawi.

Asnawi akhirnya mendapat semua barang yang diinginkannya, kemudian ia membayarnya di kasir. Setelah itu Asnawi, Bi Asih dan Jaenal pergi bersma menuju tempat parkir.

“Bi....mobilnya dimana?” Asnawi bingung mencari mobil Honda Jazz yang ternyata tidak ada di parkiran.

“Itu den, mobil VW yang warna kuning” jawab Bi Asih yang menunjukkan ke sebuah mobil VW Beetle warna kuning yang terparkir. Mobil itu terlihat sangat baru dan mewah dengan desain khas mobil VW Beetle dengan cat nya yang berkilau memantulkan cahaya matahari. Asnawi tercengang melihat penampakan mobil baru Bi Asih.

“Serius Bi, itu mobil Bibi? bukannya yang Honda Jazz?”

“Serius atuh den, yang Honda Jazz udah Bibi jual dan uangnya buat nambahin beli yang ini...bagus kan den? hehe”

“Bagus banget Bi, baru dari Dealer yah?”

“Enggak lah den, aku beli mobil bekas, ini keluaran tahun 2014”

“Widihhh!!! bekas juga tetep aja mahal, Bapakku nggak bakalan sanggup beli mobil ini walaupun bekas”

“Aahh....si Aden bisa aja hehehehehe” Bi Asih tersipu malu.

Mereka pun akhirnya berangkat meninggalkan toko menuju rumah Cascade untuk mengantarkan Bi Asih dan Jaenal. Di sepanjang jalan Asnawi terus membicarakan tentang mobil baru Bi Asih. Seperti seorang SPG mobil, Bi Asih menjelaskan secara detil tentang fitur-fitur canggih yang ada di mobilnya. Dia juga memperlihatkan cara membuka atap mobil yang tombolnya berada di bagian dashboard. Atap mobil pun terbuka secara otomatis, Asnawi kagum dengan hal itu. Seketika mobil mereka menjadi pusat perhatian pengguna jalan lainnya.

Akhirnya mereka sampai ke rumah Cascade. Pintu gerbang besi secara otomatis terbuka ketika mobil mendekati pintu. Mobil pun akhirnya masuk dan berhenti di depan teras utama.

“Ayo den, mau mampir dulu....ada non Cascade loh sama temen-temennya lagi ngumpul”

“Ahh...enggak deh Bi....aku takut dikeroyok sama Genk nya Cascade...hahahaha”

“Ihh si Aden....ngumpet aja kali di kamar Bibi”

“Bi, besok pagi aku balikin kesini yah mobilnya”

“Besok malem aja den, kalo pagi mah aku ada acara....kamu balikin nya ke rumah Bibi aja yah, soalnya besok aku dikasih libur sama Nyonya Besar.”

“Oohh siyap atuh Bi.....apartemen yang di Ciumbuleuit yah ?”

"Iya den.....disana”

Asnawi kemudian pamit kepada Bi Asih dan pergi meninggalkan mereka. Asnawi merasa sangat beruntung hari ini, karena tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak untuk menyewa mobil dan dia dapat mobil mewah dengan gratis. Dia tidak sabar ingin membawa Hayati pergi ke acara itu dan membawanya berkeliling Kota Bandung dengan mobil mewah ini.

Sementara Asnawi pergi keluar, Hayati tetap berada di dalam kamar kost untuk membersihkannya dari sisa sisa perang semalam. Ia mulai memunguti tusuk sate yang berserakan, lalu mengumpulkannya kedalam plastik. Setelah itu, Hayati kemudian mengelap lantai dengan sebuah lap yang dibasahi air sabun. Ketika Hayati mengepel lantai tiba-tiba Utami datang dengan menembus dinding sebelah kamar.

“Pagi mbak kunti!!.....WADUHH....kok berantakan banget nih kamar....emang ada perang yah semalem?” sapa Utami yang kaget melihat kondisi kamar.

“Mmmmmm....iya nih semalem ada perang sama....eehhh...ehh...tikus..tikus hehe” jawab Hayati yang mendadak grogi.

“Apaaaah? emang tikusnya segede gimana sih, sampe banyak bumbu sate yang tumpah?” tanya Utami heran.

“Hmmm....iya..mas Nawi mengusir tikusnya pake sapu, dia mukul-mukul benda yang ada dengan membabi buta” jawab Hayati yang pura-pura sibuk mengelap untuk menutupi ke grogiannya.

“Kok bisa yah? mencurigakan nih, sempat terlintas dalam pikiranku kalau semua ini akibat semalem Asnawi memperkosa mbak kunti, hmmmm....soalnya aku mencium aroma-aroma aneh seperti aroma aneh Asnawi ketika melakukan ‘ritual’ sebelum mandi pagi di kamar mandi” kata Utami dengan ekspresi curiganya yang berlagak seperti detektif.

“Udah deh, daripada kamu ngoceh gak jelas mending bantuin aku beresin ini...!!!” perintah Hayati dengan tegas.

Utami langsung menuruti permintaan Hayati, dia langsung mengambil lap dan ikut mengepel lantai. Hayati untuk sementara bisa bernapas lega karena tadi Utami sempat menyinggung aksi perkosaan Asnawi. Ia pun dengan sigap mengganti sprei dengan yang baru agar tidak tercium aroma-aroma mencurigakan.

Setelah kurang lebih satu jam mereka mengepel dan membersihkan karpet dari noda bumbu sate, akhirnya mereka selesai. Utami tampak mengeluarkan napas panjang dan langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur, sedangkan Hayati pura-pura sibuk dengan membersihkan meja belajar.

“Tami, semalem kamu kemana aja? Aku sendirian nih kesepian” tanya Hayati yang bertujuan untuk memastikan keberadaan Utami semalam..

“Semalem aku diajak mbak Ratih pergi nemuin pacarnya” jawab Utami

Lihat selengkapnya