PACARKU KUNTILANAK : JILID 2

martincorp
Chapter #8

Menatap Bintang

Malam semakin larut, udara dingin terasa mulai menggerogoti permukaan kulit. Suasana areal kampus yang sepi, membuat keheningan merajai semua aspek kala itu, terkecuali gedung Fakultas Teknik yang sangat berisik. Pesta perayaan dies natalis semakin meriah, orang orang semakin banyak yang datang kesana.

Akan tetapi Asnawi tidak ingin kembali ke gedung itu untuk melanjutkan pesta. Setelah kejadian yang cukup melelahkan di taman kampus, Asnawi, Hayati dan Febri lebih memilih pulang ke rumah. Asnawi akan mengantarkan Febri pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia duduk dengan terkulai lemas di kursi belakang, sementara Hayati duduk di samping Asnawi yang mengemudi.

Kondisi Febri masih lemah, dia belum bisa menggerakkan kaki kirinya yang mati rasa. Asnawi heran dengan keadaan sahabatnya itu yang masih lemah, padahal dirinya sudah meminum cairan badak perjaka sebagai obat untuk mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula. 

“Bro!!...apa lu tadi meminum semua cairan itu?” tanya Asnawi sambil mengemudikan mobil.

“Hiiihhhh.!!..enggak broo...nggak kuat gue nelennya, jijik banget....sekarang aja masih kerasa di lidah” jawab Febri dengan ekspresi jijik.

“Waduh mas Febri !! kenapa nggak dihabisin? nanti mas bisa lumpuh selamanya loh!” seru Hayati.

“Apaaaah!! emang cairan itu apaan sih? apa nggak ada yang enakan dikit?” tanya Febri penasaran.

“Itu namanya cairan badak perjaka mas....” jawab Hayati.

“APAAAHHH !!!!........cairan badak perjaka? dapetnya darimana tuh? “ tanya Febri kaget.

“Iya Hayati, aku juga penasaran sama cairan itu, asalnya dari mana sih? Rasanya gak enak banget “ tambah Asnawi yang juga penasaran.

Hayati tampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari mereka berdua. Dia tampak berpikir keras sambil menggaruk-garuk kepala. “Mmmmmm......aduh gimana yah...hmmmm....itu...itu...aku..aku...nggak bisa jelasin sama kalian..soalnya hmmmm.....kalian cowok.....pasti bakalan jijik banget” jawab Hayati gagap.

“Emang kenapa kalo cowok nggak boleh tau?” Febri ngegas.

“Whoa..whoa...tenang bro!! nggak usah ngegas gitu, kita musti hargain dia yang nggak mau jawab itu, bukan begitu Hayati...?” Asnawi berusaha menenangkan Febri yang diikuti dengan anggukan Hayati. Suasana mendadak hening, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. 

“Hayati, apa kamu masih punya cairan itu lagi? Kasihan Febri, dia masih gak bisa jalan” tanya Asnawi.

“Mmmmm...ada mas satu lagi, tapi nyimpennya di dalem nih, aku nggak bisa ngambilnya...ambilin dong mas!” kata Hayati sambil menyodorkan perut kepada Asnawi. Melihat hal itu, Febri langsung kaget dan terperanjat dari posisi duduknya yang semula terlihat lunglai dan membungkuk menjadi tegak. 

Asnawi kemudian memasukan tangan kirinya ke bagian ulu hati Hayati, sontak Hayati pun langsung mendesah ketika tangan Asnawi melewati bagian sensitifnya itu. Febri sangat kaget melihat apa yang dilakukan Asnawi terhadap Hayati. 

“Anyiiiiiing !!!......eta maneh nanaonan ngodok susu si eta?( ngapain lu merogoh toket dia?)” tanya Febri yang super kaget.

“Gue mau nyari cairan badak perjaka bro, Hayati punya semacam kantong ajaib yang ada di ulu hatinya buat nyimpen barang, gue bukan merogoh toket kali, dasar otak mesum lu!! ” jawab Asnawi santai.

“Anjiiirr...tetep aka buat gue mah absurd banget broo...haha..celana gue ngedadak menyempit liatnya” kata Febri yang salah tingkah.

Dengan diiringi suara desahan Hayati yang semakin keras dan menjadi-jadi, Asnawi makin dalam memasukan tangannya ke saku ajaib milik Hayati untuk mencari keberadaan botol kecil yang berisi cairan badak perjaka.

Konsentrasi Asnawi menjadi terbagi dua. Sementara tangan kirinya mencari-cari botol, tangan kanan Asnawi tetap memegang kemudi untuk mempertahankan kestabilan laju mobil. Febri sangat khawatir melihat hal itu, dia takut Asnawi tidak berkonsentrasi dalam mengemudi sehingga kecelakaan pun bisa terjadi. Secara tidak sadar tangan Febri mendekati dada Hayati. Hayati langsung memukul tangan nakal Febri yang mencoba untuk ikut merogoh bersama tangan Asnawi.

“Aww!!....sakit Hayati!!.....kenapa aku nggak boleh membantu mencarinya? Aku takut Asnawi nggak konsen nyetir hingga kecelakaan....aku nggak mau mati dalam keadaan perjaka” protes Febri sambil mengelus punggung tangannya sendiri.

“Aahhh!!...nggak boleh!..oohhhh!..kamu nggak boleh!!..Aaahhh..euuhh...cuman mas Nawi yang ....Aaahhh..ahh...yang boleh merogoh saku ajaibku..Eeuuehh!!” jawab Hayati dengan diiringi suara desahan nya yang semakin kencang dan membuat iman setiap laki-laki yang mendengarnya goyah. Asnawi tertawa puas mendengar jawaban Hayati yang menohok.

“Makanya broo...lu pacaran ama kunti aja kaya gue hahahaha.....enak” ledek Asnawi.

“Anyiiing...ogah gue!!! tadi aja gue hampir mati dicipok kunti Londo” tolak Febri dengan muka masam.

Febri semakin tidak nyaman dengan suara desahan Hayati yang menjadi-jadi, keringat dingin mulai membasahi kepalanya, lalu celananya pun semakin menyempit.

”Hayati!! bisa nggak kamu gak mendesah gitu? aku nggak kuat nih dengernya, celanaku semakin sempit” keluh Febri, namun Hayati tidak menggubris permintnan Febri, ia etap melanjutkan desahannya.

Akhirnya Asnawi menemukan botol itu setelah seluruh lengan kirinya sampai pangkal lengan masuk ke belahan dada Hayati. Asnawi langsung mengeluarkan tangannya dengan perlahan. Febri merasa sangat lega dengan hal itu, pasalnya dia sudah tidak karuan dalam menahan gejolak syahwat yang terus-menerus di panggil oleh suara desahan Hayati yang menggoda. Asnawi kemudian memberikan botol kecil itu ke Febri untuk meminummnya. 

Beberapa menit setelah Febri meminum cairan itu, dirinya mulai merasakan kembali kaki kirinya dan bisa menggerakannya. Ia sangat senang dan mengucapkan banyak ungkapan terima kasih kepada Hayati dengan mencium tangan Hayati, Asnawi tampak gusar melihat hal itu.

Akhirnya mereka tiba di depan rumah Febri. Begitu mobil berhenti, Asnawi langsung membantu Febri keluar dari mobiknua, lalu memapahnya untuk membantu berjalan menuju dalam rumah sedangkan Hayati memilih untuk tetap tinggal didalam mobil. Asnawi mengetuk pintu dan tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian daster batik warna hijau. Wanita itu adalah Ibunya Febri. Melihat Febri yang dgipapah oleh Asnawi, Ibu Febri langsung menangis karena khawatir melihat kondisi anaknya.

“Aduhh...kenapa ini anakku....Nawi?” tanya Ibu Febri.

“Anu...tante...Febri tadi sakit, dia tiba-tiba pingsan gitu” jawab Asnawi.

“Euleuuhh...hayu atuh kita anterin ke kamar aja” ajak Ibu Febri.

Febri pun kemudian dibawa Asnawi dan Ibu Febri ke kamar, lalu ia dibaringkan di tempat tidurnya. Setelah selesai membaringkan Febri dan membuatnya nyaman, Asnawi berpamitan kepada Ibu Febri untuk pulang. Asnawi mencium tangan Ibu Febri sebelum pulang. Setelah keluar dari rumah Febri, Asnawi kembali masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan safari malamnya bersama Hayati.

“Mas kita mau kemana nih?....mau pulang?”

“Enggak sayang.....tanggung pulang juga, sekarang udah jam 3 pagi....kita keliling-keliling aja yuk..nyari tempat romantis hehehe”

“Dimana mas...tempatnya”

"Yaaah di cafe gitu atau di taman gitu, terserah kamu”

“Yaudah di kuburan aja yuk atau di rumah kosong..hehehe”

“Anjayy!! itu mah tempat horor sayang bukan romantis...aku nggak mau!!"

“Hmmm....yaudah deh ke tempat yang banyak bintangnya...aku pengen liat bintang di langit”

“Kenapa kamu seneng banget liat bintang? Pas awal kita ketemu, kamu juga ngajakin aku liat bintang”

Lihat selengkapnya