Asnawi terbangun dari tidurnya, lalu ia mulai bangkit dari tempat tidur. Kondisi kamar sudah gelap karena hari telah malam sehingga membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. Dia kemudian meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu ruangan. Begitu lampu dinyalakan, ia kaget ketika melihat jam dinding, yang menunjukkan pukul tujuh malam.
Malam ini dirinya harus segera mengembalikan mobil VW Beetle mewahnya ke rumah pemiliknya yakni Bi Asih. Ia pun langsung bersiap pergi menuju rumah Bi Asih. Asnawi pergi dengan tergesa gesa bahkan tanpa mandi terlebih dahulu, dia langsung berganti baju dan menyemprotkan parfum yang cukup banyak untuk menyamarkan bau badan.
“Hmmm.....Hayati kemana yah...kok nggak ada..padahal gue mau ngajak dia ketemu Bi Asih” Asnawi berbicara sendiri setelah baru sadar kalau sang pujaan hatinya tidak ada. "Mungkin dia lagi sama Utami kali yah.....yaudah deh gue pergi sendirian aja” Asnawi langsung pergi meninggalkan kostannya menuju rumah Bi Asih.
Tempat tinggal Bi Asih berada di sebuah apartemen yang cukup mewah di kawasan Ciumbuleuit. Perjalanan kesana memakan waktu tempuh cukup lama karena kondisi lalu lintas di Bandung yang sangat padat ketika weekend.
Setelah hampir satu jam berjibaku dengan kemacetan Kota Bandung, akhirnya Asnawi sampai di apartemen Ciumbuleuit. Dia membawa mobil ke basement untuk memarkirkannya disana. Asnawi kemudian berjalan menaiki sebuah tangga yang menjulang dari basement menuju Lobby.
Ketika masuk lobby apartemen, dirinya langsung disambut petugas keamanan yang memeriksa tubuhnya dengan metal scanner. Setelah melewati pemeriksaan, Asnawi langsung menghampiri meja resepsionis.
“Selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pria muda yamg berpenampilan necis ala pegawai bank.
“Malem pak....saya mau berkujung ke rumah Bi Asih” jawab Asnawi.
“Maaf mas, disini tidak ada penghuni yang bernama Bi Asih disini...barangkali punya nama asli pak?”
“Hadeeuuuh...siapa yah nama asli Bi Asih...njiir lupa euy..hehehe...ntar ya pak saya telpon dulu orangnya” kata Asnawi.
Asnawi kemudian membuka smartphonenya, lalu menelpon Bi Asih.
“Samlekum...Bi Asih..punten pisan Bi...aku udah di lobby nih, akang resepsionisnya nanyain nama lengkap penghuni yang mau aku kunjungin...hehehe punten ini mah Bi, nama lengkap Bibi tuh siapa yah hehehe...aku lupa Bi..”
“ASTAGFIRULLOH....ADEN...MENI TEUNGTEUINGEUN ADEN....NEPI KA POHO NGARAN BIBI !!! ( ADEN KETERLALUAN BANGET SAMPE LUPA NAMA BIBI!!!) ”
“hehehe....aduh maaf pisan Bi....maaaaaaaaf hehehe........”
“Hadeuh si Aden euy!!..hmmmm.....namaku KARTIKA ASIH den”
“Oh okeh..okeh...Bi makasih Pisan”
Asnawi langsung menutup telepon dan berlari menuju resepsionis kembali untuk memberitahukan nama asli Bi Asih. Resepsionis pun langsung mengetahui nama penghuni atas nama Kartika Asih. Dia langsung menunjukkan lantai dan nomor rumah kepada Asnawi. Apartemen Bi Asih berada di lantai sembilan dengan nomor 906. Sebelum pergi ke aparteman Bi Asih, Asnawi terlebih dahulu mengisi buku tamu, menunjukkan KTP dan ditanyai tujuan kunjungannya. Asnawi merasa heran dengan pihak keamanan apartemen yang sangat ketat, padahal terakhir kali, tidak ada pemeriksaan kemanan seketat ini.
Asnawi kemudian memasuki elevator dan memencet tombol no 9. Kotak besi besar itu pun tertutup dan mulai bergerak naik keatas.
Sudah lama ia tak mengunjungi rumah Bi Asih. Kunjungannya kali ini adalah yang kedua. Asnawi sangat jarang berkunjung kesini karena selama ini mereka sering bertemu di rumah Cascade.
Kunjungan pertamanya ke rumah Bi Asih terjadi ketika dirinya masih duduk di kelas sebelas SMA. Pada waktu itu Asnawi tidak sengaja bertemu Bi Asih yang baru pulang dari sebuah klinik untuk mengantar Jaenal melakukan proses Imunisasi. Ia merasa kasihan ketika melihat Bi Asih sedang berdiri di tepian jalan. Ia menunggu angkot sambil berpanas-panasan dan menggendong Jaenal. Dahulu, Bi Asih belum memiliki mobil seperti sekarang, sehingga ia selalu menggunakan angkot untuk bepergian.
Asnawi yang kebetulan lewat dengan motor mio nya langsung berhenti dan manawarkan tumpangan kepada Bi Asih untuk pulang. Dan di hari itulah pertama kali kisah asmara terselubung antara Asnawi dan Bi Asih dimulai. Pada hari itu pula Asnawi harus kehilangan keperjakaanya untuk pertama kali.
Laju elevator pun berhenti dan pintu terbuka lebar, Asnawi melangkahkan kaki keluar elevator lalu berjalan menyusuri sebuah lorong panjang dengan lantai yang filapisi karpet tipis menuju rumah Bi Asih. Jantungnya terasa berdebar debar ketika melewati pintu demi pintu mendekati pintu miliknya. Bi Asih mempunyai pesona yang sangat luar biasa sebagai perempuan dewasa, cerdas dan selalu tenang dalam menghadapi masalah. Asnawi berpikir najwa tidak akan ada seorang pria pun di dunia ini yang tidak tergoda oleh pesona Bi Asih.
Akhirnya sampai lah ia di depan pintu rumah Bi Asih. Dengan gemetar, dia mengetuk pintu berwarna putih itu yang tertera angka 906 pada daun pintunya. Beberapa detik kemudian pintu terbuka , ternyata Jaenal yang membukakan pintu untuk Asnawi. Dia pun disambut dengan sapaan hangat Jaenal sambil mencium tangannya. Tak lama kemudian Bi Asih datang menghampiri Asnawi. Ia hanya tidak memakai baju melainkan sebuah apron besar berwarna putih yang hanya menutup bagian depan tubuhnya. Asnawi langsung terkejut dan memalingkan wajah dari Bi Asih.
“ASTAGFIRULLOH...BI...BIBI KENAPA NGGAK PAKE BAJU???” teriak Asnawi yang memalingkan wajah.
“Ihhh ari si Aden meni riweuh(heboh banget) .....aku nggak bugil den ... aku masih pake apron kok...sama pakaian dalam juga .... nih liat” kata Bi Asih sambil menungging untuk menunjukan celana dalamnya yang berwarna biru muda dengan model tongs.
“Aww...Bibi....jangan liatin pantat atuh!” protes Asnawi yang mendadak mimisan. Bi Asih tertawa terbahak-bahak melihat hal itu.
Asnawi mengembalikan kunci mobil kepada Bi Asih, lalu Bi Asih memberikan kunci itu kepada Jaenal dan menyuruhnya untuk disimpan di laci lemari kamarnya. Asnawi tampak tidak nyaman melihat Bi Asih yang berpenampilan seperti gadis cantik dalam komik manga bergenre ecchi. Ia lalu berpamitan ke Bi Asih untuk kembali pulang.
“Bi aku pulang dulu yah.....udah malem” ucap Asnawi yang terlihat terburu-buru.
“Eittsss....tunggu dulu Den!!! ....jangan pulang dulu!!...hayu, kamu harus dinner dulu disini...aku udah masak besar nih spesial buat kamu” kata Bi Asih sambil memegang tangan kanan Asnawi dan mencegahnya untuk pulang.
“Aduh Bi...aku masih kenyang nih” tolak Asnawi.
“Ayo makan sini dulu den...kamu kan udah minjem mobil aku.. jadi sebagai balasannya kamu harus makan dulu... okeh..okeh...!! abis itu temenin aku sampe tidur!....baru deh kamu boleh pulang” jelas Bi Asih dengan tatapan mata memelasnya.
“Tapi..tapi...aku takut Bi...aku nggak mau gituan lagi sama kamu” keluh Asnawi dengan penuh kecemasan.
“Ahh...gak bakalan kok den, aku gak akan godain kamu....tapi kalo seandainya aku khilaf, ya gampang den....libur aja atuh tobatnya malem ini mah...gitu aja kok repot” sahut Bi Asih santai.
Akhirnya Asnawi menyerah, dia pasrah dan kembali berjalan mengikuti tarikan tangan Bi Asih. Tampak tubuh Bi Asih yang hanya ditutupi oleh tali bra dan celana dalam, memperlihatkan bagian belakang tubuhnya yang sangat mulus.
”Bi...baju Bibi emang pada kemana...? kok cuma pake apron sama pakean dalem doang?” tanya Asnawi.
“Bajuku masih di laundry Den, belum beres .... terus baju ku yang terakhir tadi kesiram sama saus steak jadi kotor deh”
“Emang nggak ada baju lain lagi di lemari?”
“Nggak ada Den.....adanya ya cuman apron ini doang..hmmmm”
Asnawi kemudian duduk di sofa di ruang tengah dan Bi Asih kembali ke pantry untuk melanjutkan acara memasaknya. Apartemen Bi Asih cukup kecil namun dilengkapi dengan berbagai furniture yang mewah dan barang elektronik canggih.
Apartemannya terdiri dari lima ruangan yang terdiri dari dua kamar tidur, dua kamar mandi dan satu ruangan besar yang merupakan gabungan dari ruang keluarga, ruang makan dan pantry.
Setelah menyimpan kunci mobil di kamar ibunya, Jaenal kembali ke ruang keluarga sambil membawa sebuah buku tulis, dia duduk di sebelah Asnawi.
“Om....bantuin ngerjain PR aku om...!!!” pinta Jaenal dengan wajah memelas.
“Siyap bosku....mau dibantuin PR apa nih”
“Matematika om”
“Ooh.....cingcay itu mah....mana soalnya sini”
Asnawi membantu mengerjakan PR Jaenal. Dia mengajari Jaenal cara berhitung dengan tepat dan cepat. Suasana kekeluargaan pun tercipta di apartemen itu. Bi Asih terlihat sangat bahagia ketika melihat keakraban Asnawi dan Jaenal seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya. Ia juga terharu melihat pemandangan itu, mengingat Jaenal sejak lahir tidak pernah mengenal sosok ayah, karena ayah kandungnya yaitu Kang Asep telah meninggal karena kecelakaan ketika umur kandungan Bi Asih memasuki bulan kesembilan.
Bi Asih pun akhirnya selesai memasak, dia kemudian menyajikan hasil masakannya diatas meja makan. Setelah itu ia memanggil Asnawi dan Jaenal untuk makan malam. Asnawi dan Jaenal pun menghampiri meja makan dengan riang gembira.
“Waaww...Bibi masak steak yah..enak banget nih keliatannya..hehehe”
“Pastinya Den...ini steak wagyu ... kemarin Non Cascade sama temennya barbekyuan di rumah ...aku nyuruh Non Cascade buat beli daging wagyu sementara aku nyiapin bumbu dan panggangannya dirumah ... eeh dia malah beli dagingnya kebanyakan ....jadi deh sama aku dibawa ke sini”
“Emang seberapa banyak Cascade belinya?”
“Dia beli 10 kilo Den ........”
“EDAAANNNN....emang gila yah mantanku itu........hahahahahaha”
“Hahahaha bener Den...tuh masih banyak di kulkas....kamu mau bawa pulang daging-dagingnya atuh? sama aku nggak bakalan kemakan....sayang euy”
“Wahh..serius Bi !!!..asik atuh pengen bawa ah Bi...hahahaha”
“Oke......nanti aku siapin yah”
Mendengar Bi Asih mau memberi daging wagyu gratis, Asnawi sangat senang. Untuk sementara dia dapat solusi praktis dalam permasalahan memberi makan Hayati yang selalu ingin makan daging untuk beberapa hari kedepan.
Mereka terlihat lahap dalam menyantap makanannya. Sesekali Bi Asih mengelapkan serbet ke mulut Asnawi yang terlihat kotor karena terkena saus steak. Jaenal tersenyum melihat ibunya yang sangat perhatian kepada Asnawi.
“Om..om....kapan om mau nikahin Mama aku...?” celetuk Jaenal secara tiba-tiba. Asnawi dan Bi Asih mendadak kaget.
“JAENAL...SSSSSTTTTTTT!!!!” bentak Bi Asih dengan nada marah kepada Jaenal.
“Kenapa marah Mah? Bukannya Mamah sering bilang ke aku kalo Mamah suka banget sama Om” protes Jaenal.
“Hehehe jangan di waro(tanggapi) den si Jaenal mah hehehe namanya juga anak kecil” kata Bi Asih yanh mendadak salah tingkah.
“Enggak apa apa Bi...santai aja hehehehe” jawab Asnawi.
“Mah aku pengen punya ayah mah....kayak temen-temenku” sahut Jaenal dengan polosnya.
Mendengar omongan Jaenal, suasana mendadak hening. Bi Asih tertunduk, tampak raut kesedihan tersirat di wajah manisnya. Matanya tampak berkaca-kaca. Asnawi merasa sangat canggung dengan keadaan itu, dia harus cepat bertindak untuk segera mencairkan suasana kembali.
“Jaenal!!! doain aja yah biar Mamah kamu cepet dapet jodoh...semoga kamu bisa dapetin ayah yang baik” kata Asnawi sambil mengelus kepala Jaenal.
“Aku pengennya Om yang jadi ayah ku!!” desak Jaenal.
“Yaudah kalo itu yang kamu pengenin...kamu sering-seringlah berdoa yah!! doain Mamah kamu bisa berjodoh sama aku yah!!...gimana setuju??” kata Asnawi dengan penuh kewibawaan.
Jaenal langsung berteriak setuju dann memeluk Asnawi. Bi Asih kembali tersenyum melihat Asnawi yang berpelukan dengan anak semata wayangnya itu. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, air mata pun keluar dari pelupuk mata dan menganak sungai di pipi.
"Den ..... makasih ya” kata Bi Asih sambil mengusap air matanya.
“Iya Bi hehehehe.........”balas Asnawi sambil memberikan beberapa lembar tisue kepada Bi Asih untuk menyeka air matanya.
Guning es telah mencair, Bi Asih tampak lebih terlihat ceria setelah mendengar omongan Asnawi kepada Jaenal. Setelah acara makan malam usai, Jaenal mengajak Asnawi bermain di kamarnya, sementara Bi Asih membersihkan meja dari piring-piring kotor dan menyiapkan sisa daging wagyu yang belum dimasak untuk dibawa pulang Asnawi.
Satu jam berlalu, Jaenal pun tertidur di karpet kamarnya. Asnawi langsung membopongnya lali menidurkannya di atas tempat tidur dengan nyaman. Setelah itu ia kemudian pergi keluar kamar.
Asnawi melihat Bi Asih sedang duduk di sofa sambil memegang sebuah gelas yang berisi minuman. Dia sedang menonton FTV favoritnya yang selalu tayang pada jam-jam primetime di channel Indosiar. Ia kemudian duduk di sebelah Bi Asih dan ikut menonton.
“Aden....kata Non Cascade, kamu udah punya pacar baru yah?”
“Heheh...iya Bi...ada baru dua mingguan mah”
“Selamat yah Den, akhirnya kamu bisa move on juga dari Non Cascade”
“Hehehe makasih pisan Bi”
“Tapi Den, ulah abong abong Aden boga nu anyar tuluy Aden miceun ka Bibi ! (jangan mentang-mentang punya pacar baru terus Aden ngebuang Bibi !)...”