Fajar mulai menjelang, suara azan shubuh saling bersahutan di seantero wilayah Kota Bandung untuk memanggil para insan yang sedang terbuai mimpi untuk bangun dari tidurnya dan segera menyembah sang penguasa langit dan bumi.
Begitu juga Asnawi, ia terbangun ketika suara panggilan azan bergaung. Asnawi tengah berbaring di atas tempat tidurnya dengan didampingi oleh Hayati yang berada di sampingnya. Tangannya masih memeluk dirinya. Hayati tampak terlelap dengan penuh kedamaian. Semalam Asnawi tidak berdaya karena tubuhnya dikuasai penuh oleh Hayati, Ia terpaksa mengikuti semua keinginan Hayati malam itu.
"Syukurlah, gue bisa gerakin badan gue lagi.. fyuuuuh!!" gumamnya dalam hati.
Asnawi kemudian beranjak dari tempat tidurnua dengan perlahan agar tidak membangunkan Hayati. Ia lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Asnawi kembali ke kamarnya, ia langsung berpakaian lengkap sambil mempersiapkan diktat bersiap untuk pergi ke kampus, dia terlihat tergesa-gesa karena hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester. Sebelum pergi, Asnawi terlebih dahulu menyelimuti Hayati yang masih terlelap dengan selimut tebal untuk menutupi keindahan tubuhnya yang tampak kentara. Ia mencium kening nya lalu kemudian pergi.
Tiga jam setelah Asnawi pergi, dimana Hayati masih tertidur nyaman di balik selimut tebalnya, tiba-tiba Utami datang dengan menembus dinding kamar dan menyapa Hayati dengan suara lantang.
“Pagiiii....Mbak Kuntiii...........!!!!” teriak Utami dengan penuh semangat. Hayati terkejut, ia langsung bangun dan terperanjat sehingga tidak sengaja membuka seluruh selimut dan memperlihatkan keindahan tubuhnya yang indah dihadapan Utami.
“AAARRRGGHHHHH.!!!!!!.....KENAPA MBAK KUNTI GAK PAKE BAJU????APA JANGAN-JANGAN MBAK UDAH BEGITUAN SAMA ASNAWI SEMALEM???” teriak Utami.
“Enggak-enggak....Tami....Enggak seperti itu...euuh..ee...ee..aku..aku...belum ketemu...sama Mas Nawi......aku...aku... aku kegerahan...semalem...Tami.....sumpah!!! jadi aku lepas baju “ tukas Hayati dengan panik.
"Ah masih mencurigakan mbak...coba aku cium, siapa tau ada bau busuk Asnawi” kata Utami sambil mengendus ke tubuh Hayati.
Hayati dengam cepat langsung menjentikan jari, lalu tubuhnya seketika kembali bersih dari kotoran-kotoran bekas peraduannya dengan Asnawi semalam. Tubuhnya pun menyerbakan aroma wangi bunga melati dalam waktu sepersekian detik sampai Utami pun tidak menyadarinya. Utami kemudian kembali berdiri setelah tidak mencium bau-bau yang mencurigakan.
“Hmmmm...aku nggak mencium bau-bau busuk Asnawi...okeh aku percaya Mbak kunti nggak begituan sama Asnawi” kata Utami yang berlagak seperti Polwan, Hayati pun menarik napas lega. Hayati kemudian memakai gaun kuntinya yang terserak diatas lantai.
“Kamu semalem kemana aja Tami....kok nggak pulang? Jangan-jangan kamu sendiri yang begituan sama arwah vokalis band itu kan? Ayo ngaku??” tanya Hayati yang berniat balas dendam kepada Utami.
“Huuhhh...Mbak kunti sembarangan nyalah-nyalahin!! aku nggak ngapa-ngapain sama Brian, kita cuman ngobrol doang di tempatnya Mbak Ratih.....oh iya semalem aku ketemu seorang kuntilanak Mbak...dia itu cantik, seksi dan montok kayak mbak gini lah..dia juga bermata kuning persis kayak kamu mbak...dia baik banget deh Mbak..dia temen lamanya Mbak Ratih” kata Utami sambil duduk di kursi belajar, sedangkan Hayati sibuk melipat selimut dan membersihkan sprei.
“Oh siapa yah?....kok bisa mirip aku..?? aku kan nggak punya kembaran”
“Aduh Mbak Mbak..... maksudku bukan mirip wajahnya tapi gayanya mirip kayak gaya kamh...kecuali Mbak itu kuntilanak alay sementara dia kuntilanak normal”
“Oohhh emang aku alay gitu....?”
“Wow...Mbak kunti tuh alay banget hahahahahaha, aku baru tau malahan ternyata ada juga setan alay”
“Oalah...hihihi....eh namanya siapa Tami?”
"Eeuuhh....mm....mmmm....aduh lupa yah siapa yah....semalem tuh kita asyik banget ngobrolnya sampe ketawa-ketawa parah.....namanya Dara gitu yah atau siapa yah...mmmm....aduh lupa mbak euy”
“Huhh!!..kamu ini masih muda udah pelupa”
“Hehehe maaf mbak kunti...eh mbak! main yuk ke rumah Brian nanti sore..anter aku lah”
“Nggak mau ah...males”
“Ayo mbak...di rumah Brian banyak setannya juga mbak...ada kunti, ada setan Londo anak-anak dan ada setan Nenek Brian”
“Neneknya Brian maksudnya?? boleh dong, aku lagi pengen ngegosip nih..hihi"
“Hayu atuh Mbak, sore nanti yah.....”
Utami kemudian pergi meninggalkan Hayati untuk beristIrahat di kamarnya. Hayati mulai merasa lapar, ia pun membuka bugkusan berisi daging wagyu yang dibawa Asnawi dari rumah Bi Asih. Ia sangat senang ketika melihat daging-daging segar itu. Hayati mengambil satu potong daging untuk dimakan. Asnawi semalam memberitahu dirinya untuk berhemat ketika makan daging wagyu, ia diberi jatah satu hari satu potong oleh Asnawi dengan menggunakan alasan kalau daging wagyu itu harganya sangat mahal.
Matahari pun mulai terbenam, kegelapan mulai menyelimuti Kota Bandung yang selalu sibuk dengan hiruk pikuk orang-orang. Utami tiba-tiba kembali muncul dan mengejutkan Hayati yang sedang belajar berdandan dengan kosmetik.
Akhirnya mereka pergi menuju rumah Brian yang berada di luar komplek rumah kost. Mereka berdua melayang menembus beberapa rumah untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan.
Rumah Brian tergolong rumah tua dengan gaya arsitektur Belanda reperti kebanyakan rumah kuno di Kota Bandung yang merupakan cagar budaya. Di halaman rumah itu terparkir sebuah mobil milik ayah Brian.
Rumah itu dihuni oleh keluarga Brian yang terdiri dari Ibu dan Ayah Brian serta seorang asisten rumah tangga. Selain keluarga Brian, rumah itu juga dihuni oleh mahluk tak kasat mata yaitu arwah Brian dan neneknya yang bergentayangan, dua sosok Kuntilanak yang menumpang hidup di rumah itu, serta dua arwah orang Belanda berwujud anak-anak yang merupakan anak dari pemilik rumah terdahulu.
Hayati dan Utami masuk ke pekarangan rumah, mereka langsung disambut oleh kedua kuntilanak yang sedang ngerumpi di beranda rumah. Wujud kunti-kunti itu menyeramkan. Mereka adalah Cucu dan Irah. Wujud Cucu seperti kunti pada umumnya yang berwajah pucat, mempunyai mata warna putih dan selalu tertawa menyeramkan, sedangkan Irah memiliki wajah cantik khas gadis Sunda, namun sebelah wajahnya tampak hangus. Irah selalu menutupinya dengan rambut panjangnya.
Hayati langsung akrab dengan kedua kunti itu, karena telah memiliki ikatan jiwa korsa yang kuat antar kuntilanak. Utami hanya terheran-heran dengan kelakuan Hayati dan kedua teman barunya itu yang sama-sama alay.
Utami menyapa pemilik rumah yaitu Brian dan neneknya. Hayati waktu itu malah sibuk bercanda dengan Irah dan Cucu. Mereka saling mengoper-oper kepala Cucu yang terlepas seperti bola tangkap dengan penuh keriangan. Utami merasa malu dengan kelakuan konyol Hayati, ia bahkan harus menutup muka karena malu ketika Nenek Brian keluar dan melihat kelakuan para kunti alay itu.
“Haloo...Neng Utami...ayo masuk Neng ke runah!!!...eh itu kakakmu yah yang lagi maen lempar-lemparan?” sapa Nenek Brian yang berpenampilan seperti Nenek-Nenek rockstar dengan menggunakan celana jeans ketat, kaos putih dengan banyak kalung-kalung rantai dan ditutupi oleh jaket jeans yang tampak sobek di bagian sikut.
“Iya Nek...punten pisan Nek...kakakku alay banget malu maluin aja...hehe” sahut Utami yang tersipu malu ketika melihat Hayati yang masih asyik main lempar-lemparan kepala.
“Mbak Kuntii!!...sini mbak!!...udah dulu maennya...ini Nenek mau kenalan sama kami” panggil Utami. Hayati langsung menghentikan permainannya yang menyeramkan, ia pun menghampiri Nenek Brian untuk berkenalan sambil mencium tangannya.
“Salam kenal Nek...namaku Hayati...aku kakaknya Utami” sapa Hayati dengan manis.