Hayati, Utami dan Bendoro segera melayang pergi menuju sumber suara raungan serigala yang berasal dari hutan kota. Tak lama berselang , akhirnya mereka sampai ke tempat dimana kegaduhan itu terjadi. Ternyata suara raungan itu berasal dari teriakan sesosok siluman Ajag (Anjing Hutan).
Ukuran tubuh siluman Ajag itu sangat besar, tingginya mencapai tiga meter dengan perawakan seperti manusia yang berjalan dengan dua kaki. Wajah nya sangat menyeramkan dengan taring yang sangat panjang, mata merah menyala, bulu warna abu yang sangat lebat dan cakar yang panjang dan sangat tajam. Siluman itu tengah menggenggam suami Ratih yang tidak berdaya dan berlumuran darah. Tampak Ratih berusaha menyelamatkan suaminya itu dari genggaman sang siluman Ajag. Ratih tampak terkena cakaran di bagian dada yang membuatnya terluka parah.
“Jeng...kamu luka parah !!” kata Hayati.
“Iya jeng...aku mesti nyelametin suamiku” sahut Ratih dengan napas yang terengah-engah.
“Serahin sama kita aja Jeng...kamu istirahat aja” kata Bendoro.
Tiba tiba siluman Ajag dengan sangat cepat mengayunkan tangan besarnya yang berkuku tajam ke arah mereka bertiga, dengan insting kuat, Hayati bisa dengan cepat menghindari hantaman cakar siluman Ajag itu, namun Malang bagi Ratih dan Bendoro, mereka terkena hantaman keras. Ratih tersungkur diatas tanah dengan keadaaan yang semakin mengenaskan sementara Bendoro terlempar sangat jauh, lalu terbentur beberapa pohon besar sampai salah satu pohon besar itu rubuh dan menimpa tubuh Bendoro di atas tanah.
Hayati secara spontan terbang melesat mengelilingi siluman Ajag untuk berusaha mencari kelemahannya. Akan tetapi, Siluman Ajag malah balas mengejarnya hingga akhirnya berhasil menghantam Hayati sampai jatuh menghujam permukaan tanah. Siluman Ajag kemudian menginjak-injak tubuh Hayati sampai terbenam kedalam tanah. Tak cukup disitu, ia lalu memukuli Hayati dengam brutal sehingga Hayati semakin dalam terbenam dalam tanah. Hayati tak berdaya, ia tidak bisa menggerakan tubunya, luka disekujur tubuhnya terlihat sangat mengenaskan.
Setelah berhasil menghantam Hayati sampai tak berdaya, Siluman Ajag mulai mengincar Utami yang hanya berdiri ketakutan. Siluman Ajag jalan perlahan mendekati Utami yang ketakutan sambil melemparkan suami Ratih yang tubuhnya tercabik-cabik seperti sampah. Utami bingung harus melakukan apa, melihat semua teman-temannya sudah dikalahkan dengan mudah oleh siluman itu. Akhirnya Utami hanya berdiri pasrah, seakan kakinya sulit untuk digerakan.
“Rrrgghhh...ada arwah perawan nih disini...elok pula...hahahahaha” ucap Siluman Ajag dengan senyum seringai mesumnya.
Utami ditangkap dengan mudah olehnya, lalu ia dibantingkan ke pohon. Utami tergeletak diatsa permukaan tanah dengan tidak berdaya. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Dengan jari-jemarinya yang besar, dia mulai mengelus-elus pipi mulus Utami yang ketakutan dan menangis. “Aaahhh...kau akan kujadikan istriku sayang...hahahahaha” kata siluman Ajag yang mulai menggerayangi tubuh Utami yang hanya berbalut handuk.
Utami berusaha melawan dengan mencoba menyingkirkan tangan jahanam san Siluman Ajag, akan tetapi apalah daya, tenaga Siluman itu terlalu besar. Ia menampar Utami berkali-kali agar tidak memberontak. Utami pun kalah, ia terkapar di atas tanah.
Akhirnya Utami hanya bisa diam ketika tangan nakal siluman itu menggerayangi tubibnya, lalu membuka kain handuk yang selama ini menutupi tububnya. Siluman Serigala sangat terpana ketika melihat kemolekan tubuh Utami yanh sangat kentara. Dia mengendus Utami mulai dari wajah sampai ujung kaki seperti anjing yang kelaparan dengan lidah menjulur keluar dan berliur. Dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan, Utami berusaha untuk berteriak.
“MBAK...KUNTIII...TOLONG AKU...!!!” teriakan terakhir Utami tampak menggaung sebelum akhirnya sang Siluman Ajag itu bersiap melakukan perbuatan bejatnya. Tiba-tiba siluman itu merasa kalau ekornya ada yang menarik. Begitu ia menoleh, ternyata Hayati sudah memegangi ekornya. Hayati menarik siluman Ajag itu denhan sangat kuat lalu melemparkannya sejauh mungkin dari tempat Utami.
Siluman Ajag itu pun terlempar jauh, membentur pepohonan besar lalu tersungkur ke permukaan tanah hingga bumi bergetar. Hayati langsung menghampiri Utami sambil kembali menutupi tubuh Utami dengan handuk.
“Kamu nggak apa-apa Tami??” tanya Hayati sambil memeluk erat Utami.
“Nggak apa apa Mbak...untung Mbak tepat waktu nolongin aku...makasih banget Mbak ku, aku hampir diperkosa tadi” seru Utami yang terharu.
“Ayo Tami kita musti nolongin Ratih dan suaminya, sebelum siluman mesum itu menyerang lagi kesini.”
“Hayu Mbak........”
Utami menolong Ratih yang masih terkapar, dia mengangkat dan membantunya berjalan dengan cara memapah. Ia membawa Ratih ke tempat aman. Sementara Hayati langsung mengangkat tubuh setan Londo tanpa kepala yang sudah tak utuh dengan memanggulnya di pundak seperti karung beras.
Ratih dan suaminya dibaringkan secara berdampingan. Tampak dengan sangat sedih Ratih mengenggam tangan pacarnya yang hanya terbujur kaku.
“Jeng...kamu udah selamat...kamu disini yah dirawat sama Utami, aku akan menolong Bendoro dulu sambil mengambil obat sakti buat kalian” kata Hayati yang kemudian melesat menuju arah tempat terlemparnya Bendoro.
Begitu sampai, ternyata Bendoro tertimpa kayu besar, ia tampak tak bisa bergerak. Hayati langsung mengangkat batang pohon mahoni besar yang menimpanya itu dengan sekuat tenaga. Batang pohon itu pun terangkat lalu digeserkan posisinya agar tidak menimpa Bendoro yang terkulai lemah dan tubuhnya terbenam di tanah. Hayati berusaha menyadarkan Bendoro dengan menepuk nepuk pipi, namun Bendoro masih saja tidak sadarkan diri, hingga akhirnya Hayati merasa kesal sendiri.
“Hadeeuuuh....Jeng...Jeng...bangun Jeng! ...N’doro!...N’doro!...bangun lah plisss!!...Ratih butuh bantuanmi” kata Hayati kesal.
“Hmmmm.....terpaksa nih aku lakuin ini...mafin yah N’doro..” Hayati kemudian meremas-remas dan manggoyangkan buah dada Bendoro yang berukutan jumbo dengan kencang. Seketika Bendoro pun langsung tersadar dengan teriakan dan dilanjut dengan desahan yang menggoda.
”AAAAAHHHHHhh!!!..euuuhhhhh...oh Hayati...kenapa kamu meremas toket ku?” tanya Bendoro yang kaget.
“Ayo kamu musti cepet nolongin Ratih dan suaminya!!...mereka sekarat” kata Hayati.
Tiba-tiba siluman Ajag berada di belakang Hayati. Tanpa basa basi ia langsung memukul Hayati sampai terlempar dan tersungkur. Siluman itu kemudian menghampiri Hayati yang tengah terkapat, dia kemudian mencekik Hayati sambil mengangkat tubuhnya.
“Kau...berani-beraninya melemparkan tubuhku!!!” ungkap siluman Ajag dengan cekikan yang semakin kencang dan penuh amarah. Bendoro pun berteriak sambil menghampiri siluman Ajag untuk menyelamatkan Hayati, namun siluman Ajag itu langsung mengetahuinya. Ia pun menendang Bendoro sampai tepental jauh.
Bendoro kemudian bangkit kembali, dia terbang dengan cepat sambil bersiap menyerang siluman Ajag dengan cakarnya, namun Hayati berteriak kepada Bendoro.
”N’doro!!!!...lebih baik kamu tolong dulu Ratih dan suaminya!!!...sana cepat!!...biarin aku disini yang ngalahin si Anjing bau ini!!!”. teriak Hayati.
Bendoro pun berhenti, lalu menuruti apa yang diperintahkan Hayati, dia langsung melayang ke arah dimana Ratih dan suaminya dibaringkan.
Ditengah cekikan Siluman Ajag yang semakin kencang, Hayati terdiam sambil memejamkan mata, dia berkonsetrasi untuk mengumpulkan kekuatan tenaga dalam untuk melakukan serangan taktis terhadap Siluman Ajag.
Setelah tenaga dalamnya terkumpul ,dia kemudian meremas pergelangan tangan siluman Ajag, lalu ia mengeluarkan sacam radiasi energi panas dari telapak tangannya sehingga membakar tangan sang siluman sampai kepanasan. Siluman Ajag pun melepas cekikannya, lalu ia meringis kesakitan akibat pergelangan tangan yang terbakar.
Siluman Ajag menggelapar diatas tanah, ia berusaha menghilangkan efek panas di tangannya dengan menjilatinya. Setelah panas ditangannya mulai reda, ia kemudia berdiri berdiri kembali sambil memegangi tangan kanannya yang kepanasan.
Emosi semakin meningkat, ia sangat marah terhadap Hayati. Ia pun meraung dengan sangat keras. Dengan penuh dendam, siluman Ajag melancarkan serangan demi serangan terhadap Hayati dengan cakarnya yang panjang dan tajam.
Hayati hanya menghindar dan menghindar dari pukulan itu, dia lebih terlihat seperti menari daripada bertarung. Hal ini memang sesuai dengan apa yang diinginkannya yaitu membiarkan lawan menyerangnya secara membabi buta sambil menunggunya kelelahan.
Lama-lama, Siluman Ajag mulai kelelahan, dia mulai berjalan sempoyongan dan gerakannya mulai melambat. Melihat keadaan itu, Hayati mulai melakukan aksi menyerangnya. Dengan cakar yang panjang, Hayati mendekati siluman Ajag dan melancarkan serangan pukulan bertubi-tubi ke arah perut dan dada siluman Ajag. Siluman Ajag pun terjengkang lalu terkapar di atas tanah.
Hayati mulai memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan pamungkasnya. Dengan mata kuningnya yang semakin bersinar dan cakar yang panjang serta tajam, Hayati langsung melesat mendekati siluman Ajag yang lengah. Dia menargetkan leher siluman Ajag.