Suatu malam yang dingin dimana setiap orang tengah nyaman terbuai lindungan selimut mereka dalam peraduan, Mawar Hitam merintih kesakitan. Lehernya masih tersayat dan luka punggungnya pun mengeluarkan banyak darah. Ia sangat menderita setelah kalah bertarung dengan Hayati.
Mawar Hitam tak sanggup untuk berjalan, ia pun berusaha merangkak untuk pulang menuju tempat tinggalnya di sebuah gedung besar yang dijadikan sebagai gudang arsip oleh kampus dimana Asnawi dan Febri mengenyam pendidikan.
Setelah masuk kedalam gudang, ia kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang menghadap sebuah meja, dimana diatasnya terdapat cermin kusam. Mawar Hitam pun memandangi dirinya yang mengenaskan melalui refleksi cermin.
"Het doet echt pijn!!! (sakit sekali!!!) " keluh Mawar Hitam ketika menyentuh lehernya yang tersayat.
"GODVERDOMME!!!!...hoe durft hij me zo te beledigen!! (KURANG AJAR!!!!... beraninya dia menghinaku seperti ini!!)" Mawar Hitam kesal dengan apa yang menimpanya.
Mawar Hitam mengambil sehelai benang dan jarum yang tersimpan di dalam laci yang berada dibawah meja. Ia kemudian memasukan benang hitam itu dengan susah payah kedalam lubang jarung yang sangat kecil. Tangannya tampak bergetar ketika berusaha memasukan benang itu. Setelah berhasil, ia lalu menjahit luka sayatan di lehernya sambil melihat cermin. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yanh sangat keras sehingga membuatnya terkejut. Ia pun langsung menoleh ke arah suara itu.
"WIE IS DAT??...laaf jezelf zien!! (SIAPA ITU??... tunjukan dirimu!!) " panggil Mawar Hitam.
Dari balik barisan rak buku yang gelap, munculah sesosok wanita begaun putih yang terlihat tampak kikuk dengan buku buku yang jatuh dari atas rak dan menimpanya. Wanita itu kemudian menumpukkan buku buku itu diatas lantai.
"Duuh buku buku ini sangat menggangguku, kenapa kamu nyimpen portal di rak buku sih? Jadi aku ketimpa buku pas dateng kesini" keluh Bendoro.
"Blijkt je Bendoro! Ink denk dater mensen zijn die hier binnenkomen (Jadi kamu Bendoro! Kirain ada orang yang masuk kesini) " sahut Mawar Hitam.
"Hey kamu ngomongnya pake bahasa orang sini dong!! Aku gak ngerti!" protes Bendoro.
"Nee...nee...nee...ik wil niet spreken moedertal! Ik ben een edelman van Nederlan! (Gak... gak... gak...aku gak mau ngomong pake bahasa pribumi! Aku ini bangsawan Kerajaan Belanda!)" tolak Mawar Hitam.
"Rese banget sih kamu!! Kalo kamu bangsawan Belanda, begitu juga aku!! Aku bangsawan Kerajaan Jawa... Ayahku menguasain sepertiga tanah Jawa!! Kamu harus nurut sama aku, karena aku ini bos kamu!! Aku jauh lebih tua daripada kamu, bahkan ketika bangsamu belum dateng kesini buat ngejajah negeri ini, aku udah jadi kunti! " bentak Bendoro yang kesal.
"Ja... ja... ja...ik menuruti perintahmu bos, ik cuman tidak suka sama itu kaum pribumi, mereka kotor, item, jelek, dekil dan paling parah...mereka dulu mendobrak rumah orang tua ik punya...membunuhi mereka, lalu merampok semua isi rumah dan memperkosa ik sampe mati...ik benci sama mereka" ungkap Mawar Hitam dengan penuh emosi.
"Yaelah...kamu masih belum nerima kematianmu kayak gitu? "
"Nee...ik masih sakit hati, N'doro!! "
"Kamu sakit hati karena kamu gak bisa balas dendam sama mereka, itulah kenapa kamu selalu sakit hati...hmmm ngomong-ngomong, gimana tugasmu menangkap Hayati? "
"Gagal total N'doro...dia kuat banget...ik sampe terluka parah akibat tarung sama dia" jawab Mawar Hitam sambil memperlihatkan luka-lukanya.
"Aduuh...payah banget sih kamu!!! masa lawan Hayati aja kalah?"
"Dia kuat banget N'doro! Dia udah setara sama kamu punya kekuatan...ik gak sanggup ngalahinnya"
"Bukan dia yang kuat tapi kamu yang payah!! Kamu tuh yah udah aku ajarin ilmu beladiri! Tapi masih aja kalah, mungkin kamu tuh gak bisa konsen, kamu terlalu memelihara kebencianmu...kamu muridku paling payah!! coba liat Hayati dong!! Dia ini jadi kunti baru tiga puluh tahun, tapi dia udah sesakti itu, bahkan matanya pun sama kayak aku...dia satu satunya kunti yang bisa punya mata sepertiku karena dia berhasil membalaskan dendamnya...gak kayak kamu!! Mau bunuh orang yang udah perkosa kamu malah gak tega, padahal mereka sangat tega perkosa kamu...dasar kamu kunti gak guna! Nyesel aku ngangkat kamu jadi murid...masih banyak padahal kunti yang lebih cerdas daripada kamu...kamu tuh kunti terpayah yang pernah aku temui!!"
Mawar Hitam naik pitam ketika mendengar ocehan Bendoro yang menjelek-jelekan dirinya. Ia dengan cepat mengambil pedang besarnya dari saku ajaib, kemudian ia menikam Bendoro yang masih berbicara.
"DIAM KAU BENDORO!! KAMU BERISIK BANGET!! " bentak Mawar Hitam sambil menikam Bendoro.
Mawar Hitam menikam Bendoro tepat di bagian dada sampai pedangnya menembus punggung. Akan tetapi Bendoro sama sekali tidak merasakan sakit.
"Nah ini nih yang bikin kamu kalah dari Hayati! Kamu tuh pemarah, gampang emosi dan gegabah...Hayati paling seneng kalo udah dapet lawan kayak gini, dia bisa mudah ngalahinnya" tukas Bendoro.
Bendoro dengan cepat mengambil pedang katananya dari saku ajaib, lalu menebas perut Mawar Hitam hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.
Mawar Hitam pun tergelatak di lantai dengan kesakitan. Usunya terburai keluar dan darahnya membanjiri ubin. Bendoro kemudian mencabut pedang uang menikam dirinya, lalu menyimpannya didalam saku ajaib miliknya.
"Pedangmu akan kusita sebagai hukuman karena kamu menyerangku... Aku kasihan banget sama kamu Mawar Hitam...kamu selalu diliputi kebencian...itulah kenapa kamu selalu menderita... Sekarang aku mau pergi dulu...sepertinya aku sendiri yang akan nangkep Hayati...sampai jumpa Mawar Hitam!!
"NAMA IK BUKAN MAWAR HITAM!! NAMA IK LETICIA VAN ORSCH!!! " teriak Mawar Hitam.
Bendoro tidak menanggapi protes dari Mawar Hitam, ia berjalan menuju portal yang ada di dalam rak buku, lalu ia pun masuk kembali kedalam portal, lalu menghilang.
Mawar Hitam sangat menderita dengan keadaannya yang jauh lebih mengenaskan daripada sebelumnya. Ia berusaha mencari bantuan untuk mambantu menyambungkan kembali tubuhnya yang terbelah dua. Mendadak terlintas dalam benaknya sosok Febri yang dianggapnya bisa menolong. Mawar Hitam pun berusaha mencari smartphone miliknya yang berada di saku ajaibnya yang kini berlumuran darah. Ia berusaha menghubungi Febri sambil berharap mendapat pertolongan.
...
Siang itu, Asnawi telah selesai mengerjakan UAS terakhirnya. Dia mengumpulkan kertas jawaban paling pertama kepada pengawas ujian, lalu kemudian ia langsung pergi keluar kelas. Dia pergi menuju kantin untuk sekadar menenangkan diri dengan menyeruput kopi hitam sambil melamun indah tentang Hayati.
Asnawi tersenyum sendiri seperti orang gila ketika membayangkan momen-momen indah dan romantis yang ia alami bersama kekasih baru nya itu. Saat itu secara kebetulan Cascade berjalan melewati kantin sendirian. Ia melihat Asnawi yang tengah melamun sambil senyum sendiri. Melihat keanehan itu, Cascade menghampiri Asnawi.
“WOIII...!!!! ngelamun aja lu!!! wake up Honey!!! ...hahahahahaha”
“FAAKKKK!! Njiirrrr ngagetin gue aja lu!!”
“Haha...abisnya lu kalo ngelamun kaya orang gila...pasti lagi ngelamunin yang jorok-jorok kan?“
“Huhhh... BODO!!...gue lagi sebel nih ama elu.”
“What did you say?...do you upset to me?”
“Hell yeah...!! Darl’”
“Why...Honey...Why?”
“You Kick my balls!! that was so hurt Casey!! terus abis itu ninggalin gue sendrian dalam menderita...itu perih banget Cas..!!! Ngilu banget anjirr” Asnawi kemudian menangis ketika membayangkan kejadian nahas itu.
Cascade kemudian merangkul Asnawi yang menangis. Dia membenamkan wajah Asnawi ke dada lalu mengelus kepalanya.
“I’m so sorry Honey...waktu itu marah banget sama elu karena pas kita ciuman, gue liat memori dalam kepala lu...I saw you just have fucked with that ghost!!” ungkap Cascade.
Asnawi terkejut dengan omongan Cascade, ia pun langsung menegakan tubuhnya sambil melepas pelukan Cascade.