Keesokan pagi, Asnawi duduk termenung di sebuah kursi yang berada di beranda kamar kost nya. Ia memikirkan sesuatu tentang nasib Hayati yang dikejar oleh Bendoro karena ulah dirinya. Hayati berduel dengan Wewe Gombel yang notabene adalah seorang siluman bangsawan dan sepupu sang Ratu siluman demi menyelamatkan dirinya, kemudian Hayati pun resmi menjadi pacar. Tentunya dua hal tersebut adalah suatu kejahatan besar bagi mahluk gaib seperti Hayati.
Asnawi berandai-andai kalau saja Hayati ini adalah manusia, maka semua tuntutan hukum gaib terhadap dirinya menjadi tak berlaku. Tiba-tiba, ide untuk menghidupkan kembali Hayati muncul dalam benaknya. Bagaimana cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Pertanyaan itu langsung terlahir setelah ide itu muncul. Apakah pakai jurus edo tensei atau rinne tensei? Ah gak mungkin ada jurus kayak gitu di dunia nyata, semua itu cuma ada dalam cerita komik. Asnawi kemudian teringat dengan paku kuntilanak. Dia pernah mencoba memaku kepala Hayati, namun gagal. Kepala Hayati malah terbelah dan membuat Asnawi pingsan saat melihatnya. Akan tetapi ia teringat omongan Febri tentang hal itu, ia pernah berbicara kalau paku kintilanak harus melalui sebuah ritual dan jampi-jampi dari seorang dukun. Sontak, Asnawi langsung excited ketika ide itu muncul, ia lalu membuka smartphone nya untuk menelepon sahabatnya itu.
"Hallooo"
"Iya Bro... ada apa nelepon gue subuh-subuh kayak gini? "
"Njiir! Subuh? Sekarang udah jam tujuh pagi woy!!! lu masih molor?"
"Anjing!! Gue masih ngantuk goblok! Apaan sih neleponin gue? "
"Gini Feb, gue dapet ide mau ngidupin lagi Hayati, biar dia bisa lepas dari jeratan hukum gaib... nah gue pake paku kuntilanak"
"Paku kuntilanak? Bukannya lu dulu gak mau hubungan sama dukun? Katanya lu takut musyrik?"
"Enggak Feb, gue pikir kalo buat ritual paku kuntilanak mah, gue gak musyrik, gue masih Islam kok"
"Hahahaha... elu mah ada-ada aja, terus kenapa lu nelepon gue? "
"Kan elu yang dulu ngasih ide gue pergi ke dukun, pasti lu tau kan dukunnya"
"Gue gak tau Do... gue gak pernah datang ke dukun dukunan, gue dulu cuman ngasih lu ide aja"
"Aduh! Gimana dong? Gue nyari dukunnya kemana?"
"Hmmm... gue bantu lu Wi, gue mau nanya-nanya ke sodara gue"
"Thanks banget Feb... "
"Iya Wi, kita kan sohib... nanti kita ketemuan di kampus"
"OK... Bro"
Asnawi menutup teleponnya, dia lalu pergi kembali ke kamar kostnya. Tiba tiba Hayati muncul dari balik langit-langit dengan wajah seramnya dan berlumuran darah. Asnawi langsung kaget dan terjatuh ketika melihatnya.
"Hihihihihihi... Mas ku masih kaget aja, padahal kan udah serung aku takutin"
"Anjiiiir!! Ngapain sih kamu ngagetin aku? Kamu mau mati kena serangan jantung? "
"Iya Mas ku... biar nanti kalo kamu mati, jadi arwah gentayangan terus aku dan kamu jadi satu alam deh hihihihihihi"
"Dasar... KUNTI ALAY!! "
Asnawi kemudian berdiri kembali, lalu ia duduk diatas ranjang sambil menyalakan televisi. Hayati turun dari atap sambi membetulkan posisi kepalanya yang hampir putus. Ia lalu menghampiri Asnawi.
"Mas... "
"Iya? "
"Tadi aku denger kamu nelepon diluar... katanya kamu mau nyari dukun buat ritual paku kuntilanak, emang kamu mau apa Mas ku?"
"Kamu nguping yah tadi?"
"Enggak Mas ku, tapi suaramu kenceng banget, sampe kedengeran sama aku"
"Sama aja kali, kamu nguping"
"Iihh!! Mas ku nih, cepetan dong! Maksud kamu nyari dukun buat apa?"
"Iye... iye... kunti cantikku yang galak... aku tuh dari subuh tadi kepikiran sama keselamatan kamu, terus aku punya ide kalo kamu jadi manusia, maka semua tuntutan hukum gaib buat kamu jadi gak berlaku... artinya kamu jadi bebas... Nah, jadi aku mau ngidupin kamu lagi pake ritual paku kuntilanak"
"Apaaaaah!! Paku kuntilanak? Bukannya dulu kamu gagal ngelakuin itu?"
"Aku gagal karena gak pake ritual sama jampi-jampi... "
"Oalah... jadi Mas ku mau bawa aku ke dukun buat ikutan ritual ?"
"Iya Hayati, siang ini aku mau ketemuan sama Febri di kampus, dia tau tentang dukun itu"
"Oalah! Semoga kamu bisa nemuin dukun itu Mas ku, aku berharap bisa hidup kembali jadi manusia"
Sekitar pukul sembilan, Asnawi pergi ke kampus untuk kuliah. Setelah itu, dia bersama Febri dan Eka pergi ke sebuah cafe di kawasan Taman Sari dengan menumpang mobil Eka.
"By the way! Lu udah kontek sama dukunnya langsung? " tanya Asnawi.
"Iya... kemaren sepupu gue ngasihin nomer teleponnya, ya gue langsung telepon aja dan gue ajak ketemuan disini" jawab Febri.
"Siapa namanya cuy?" Asnawi penasaran.
"Namanya Mbah Encur... Dia berasal dari Sukabumi" jawab Febri.
"Njiiiir!! Sama kayak tempat asal lu Wi! Sukabumi" sahut Eka.
"Apa dia bisa ngelakuin ritual paku kuntilanak?" Asnawi semakin penasaran.
"Gue gak tau sih, tapi dia bilang mau ngobrol empat mata dulu, makanya gue ajak ketemuan disini" kata Febri.
"Wait! Lu bilang tadi Mbah Encur orang Sukabumi, terus diajak ketemuan disini... Sukabumi kan jauh dari sini Bro?" sambung Eka.
"Bukan Mbah Encur nya yang kesini Bro... tapi asistennya, kebetulan dia lagi ada di Bandung" tukas Febri.
Mereka akhirnya menunggu kedatangan asisten Mbah Encur sambil menikmati kopi. Asnawi semakin gugup ketika menunggu kedatangannya.
Tak lama berselang, ketika mereka sedang asyik ngobrol sambil menghisap rokok, seorang wanita cantik yang berpenampilan layaknya seorang peragawati dateng menghampiri. Ketiga pemuda itu pun langsung terhenyak ketika melihat wanita itu.
"Permisi... apa benar ini sama Pak Febri?" sapa wanita cantik itu.
"I... i... iya Teh... saya Febri" jawab Febri yang mendadak gugup.
"Oh iya... perkenalkan, saya Anita, saya asisten dari Mbah Encur" kata wanita itu.
"Oh gitu! Silakan duduk Teh, ! Maaf saya gak tau tadi" ujar Febri yang mendadak salah tingkah.
Anita kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Febri. Asnawi dan Eka pun mendadak berdiri sambil memperkenalkan diri kepada Anita.
"Sebenernya Teh, yang mau ngejalanin ritual paku kuntilanak bukan saya, tapi temen saya ini, Asnawi" Febri membuka pembicaraan.
"Iya Teh, saya yang mau ngejalaninnya" sambung Asnawi.
"Baiklah kalo begitu, apa kuntilanaknya ada disini? " tanya Anita.
"Eeeehh... anu... gak ada Teh, dia di kostan saya" jawab Asnawi.
"Kalo gitu panggil kuntilanaknya! Soalnya dia harus tau syarat yang harus ditempuh" perintah Anita.
"Tapi bagaimana caranya? saya harus pulang dulu ke kostan? " Asnawi bingung.
"Tidak perlu! saya bisa panggil dia, asalkan tau namanya" jawab Anita.
"Okeh Teh, nama kuntilanaknya HAYATI"