Kalya berdiri menatap panggung sederhana yang terbentang di depan sana. Tubuhnya yang semampai, sesekali berjinjit agar tak melewatkan sedetik pun momen penting yang dilalui Kinar hari ini. Sambil memakai bando dengan wajah kakaknya, Kalya melompat setinggi mungkin, memperlihatkan dedikasinya sebagai adik yang baik dengan berteriak dan memamerkan handbanner bertuliskan nama Kinar pada khalayak ramai.
Beberapa jam lalu, Kalya tanpa sengaja mengetahui bahwa kakaknya akan mengikuti audisi vokalis band teraskota, salah satu grup musik indie yang cukup populer di kalangan muda-mudi kotanya. Berbekal dari video short yang diunggah kanal band itu, tiba-riba lewat pada beranda sosial medianya dan sepersekian detik menampilkan wajah Kinar pada saat audisi online, Kalya langsung bergegas ke tempat percetakan, dan berakhir membawa barang seadanya ke tempat ini.
"Nggak papa, yang penting on time." ujar Kalya pada dirinya sendiri saat menginjakkan kaki di rumput venue yang masih hijau. Walau panas menghadang Kalya rela kulitnya menerjang terik demi menemukan spot terbaik agar Kinar dapat melihat keberadaanya.
Di atas sana Kalya dapat melihat wajah kakaknya yang bersinar terpantul cahaya, ia terlihat berseri di panggung. Performa Kinar kemudian selesai diiringi tepuk tangan heboh dari Kalya dan teriakan beberapa orang yang mengenal kakaknya. Mungkin teman kuliahnya, pikir Kalya.
Lalu audisi berlanjut, dengan Kalya yang masih setia menyaksikan penampilan orang-orang terpilih yang kemudian naik ke panggung membawa suara serta asanya beradu pada alunan melodi ciptaan sendiri. Sesekali Kalya akan melongo saking takjubnya dengan kreativitas orang-orang di depannya dan bertepuk tangan keras sampai telapak tangannya memerah saat penampilan mereka selesai.
Jujur menurut Kalya semua penampilan orang-orang berbakat ini, menyentuh hatinya terlepas dari alasan utama ia ada di sini sekarang. Apalagi saat melihat beberapa penyandang disabilitas bahkan ikut lolos pada audisi online dan tampil di siang terik ini.
Hati Kalya jadi tergugah, usia mereka bahkan ada yang lebih muda. Masa saat dimana harusnya krisis batin bergejolak murka, nyatanya mereka mampu bangkit dengan karya tanpa menyalahkan takdir atas keterbatasan yang ada. Mereka membuktikan bahwa kekurangan yang dimiliki tak menjadikan hal itu sebagai keterbatasan mimpi.
Mereka punya semangat, hati yang lapang serta barisan orang hebat yang tak henti memberi kasih dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup mereka jauh lebih bermakna daripada terus menerus larut dalam dukacita.
Melihat anak-anak itu ingatan Kalya jadi terlempar jauh pada masa-masa Kinar yang sempat krisis dan terpuruk juga. Sejujurnya tak pernah terbayang dalam benak Kalya bahwa hari dimana Kinar akan kembali berseri adalah hari ini, mengingat kakaknya beberapa tahun lalu divonis menderita anxiety disorder, yang bahkan untuk menatap lawan bicara saja ia tak mampu.
Kalya masih ingat jelas seberapa takutnya Kinar yang saat itu masih umur dua belas tahun menghadapi traumanya pasca menjadi korban pelecehan seksual oleh guru musiknya sendiri.
Kakaknya yang waktu itu hanya ingin mengejar mimpi menjadi seorang musisi cilik dengan mengikuti berbagai macam les vokal malah harus bertemu dengan orang yang salah. Bertahun-tahun kemudian Kinar hidup mengurung diri, membatasi akses semua orang untuk masuk kedalam hidupnya. Bahkan yang lebih parah kakaknya hampir bunuh diri karena membenci dirinya sendiri.
Beruntungnya mereka berdua lahir dan tumbuh dari orang tua yang saling mencintai. Papa yang selalu mengusahakan kesembuhan, tanpa lelah berusaha mendekat, menghibur dan menemani kakaknya untuk check up rutin ke psikiater serta mama yang tanpa henti memberi cinta dan melangitkan doa pada sang Pencipta.
Kesembuhan Kinar pun tidak terlepas dari kontribusinya sendiri, yang pelan-pelan berusaha bangkit dan berbaur kembali dengan orang-orang di sekitar. Menyaksikan kakaknya yang kembali mengejar mimpi dan berusaha bersinar seperti dulu lagi membuat hati Kalya menghangat. Air mata seketika membanjiri pipinya yang memerah.
Beberapa saat larut dalam kesedihan dan sibuk dengan pikirannya sendiri, Kalya baru sadar akan kehebohan yang sedang terjadi. Teriakan MC di depan sana yang menyebut "MR. K" secara berulang kali membuat penonton yang dijemur seperti dendeng rusa agaknya murka karena yang dipanggil tak kunjung naik ke atas panggung.
"Yang disebut nggak ada bang, skip aja, panas banget nih," teriak salah seorang penonton yang berada di barisan depan. Yang lain kompak mangguk-mangguk saja, dan beberapa juga berteriak menyuarakan yang sama.
Sedang Kalya yang berada di barisan belakang tampak tidak peduli, kepalanya sibuk celingak-celinguk mencari sosok Kinar yang sekarang entah dimana. ia ingin memberi selamat dan hadian kecil untuk Kinar. Lalu saat berniat menyusul teman-teman kakaknya yang terlihat berjalan ke area belakang panggung, langkah Kalya dicegat seseorang bersamaan dengan teriakan yang menggema dalam kepalanya.
"TUNGGU. GUE DISINI. GUE MR K"
Semua orang menatap kearah sumber suara. Hening sejenak meliputi, termasuk Kalya yang hanya berdiri kaku menatap sosok berkepala kucing di depan matanya.
Makhluk aneh apa ini? batin Kalya bingung.
"Minta tolong rekamin gue ya," tanpa peduli dengan ekspresi Kalya yang melongo sambil menyerahkan kamera digital berwarna hitam miliknya sosok jangkung itu juga mengganti bando Kalya dengan yang dibawanya. Kalya tak sempat melihat tulisan bando itu apalagi protes pada sosok si kucing, lebih tepatnya tak enak hati apalagi dirinya kini menjadi tontonan banyak orang.
Semua hal terjadi serba tiba-tiba dan otak Kalya seperti tak bisa bekerja cepat dari biasanya. Bahkan saat jemari panjang itu menggengam lengannya berlari membelah kerumunan orang, Kalya hanya bisa pasrah sambil menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang tergerai dihembus angin. Kalya malu tapi berbeda dengan si kucing yang semangat sekali terus berlari menuju panggung.
Dengan satu lompatan besar sosok jangkung itu langsung berdiri di podium setelah berpamitan pada Kalya, ia tenang membuka gigbag dan mengeluarkan gitar kesayangannya. Kalya yang setengah sadar buru-buru mengaktifkan kamera yang dititipkan padanya.
Petikan gitar lembut kemudian memenuhi seisi lapangan. Tanpa syair dan nyanyian seperti sebelumnya, hanya suara dari benda coklat itu tapi mampu membius seluruh penonton. Termasuk Kalya yang langsung membatu di tempat sambil terus merekam penampilan si kucing.
Ada bagian dari diri Kalya yang seperti ditarik ke masa lampau yang asing. Seperti berada di hutan yang sepi segalanya bercampur aduk mencipta momen bahagia sekaligus menyayat hati.
Mengiringi aksi si kucing yang keren bisik-bisik manusia hinggap dalam pendengaran Kalya. Kurang lebih seperti ini.
"Gila, gitar yang digejreng hati gue yang bergeter. Vibesnya kayak masuk negeri dongeng sambil dikejer Shah rukh khan."
"Iya ih, lo tau dia siapa? entah kenapa gue kayak familiar sama bentukan nih orang?"
"Namanya gue nggak tau sih, tapi doi sering cover-cover musik gitu di sosmed. Gue follow soalnya."
"Wah, bisa-bisanya gue ngelewatin harta karun tersembunyi. Nama akunnya dong, mau gue follow juga."
"Tunggu ye, gue cari dulu. Btw doi dateng bareng pacarnya tuh."
Kalya yang mendengar kalimat itu seketika tersenyum canggung saat dua perempuan yang mengobrol di sebelahnya menyapa dengan senyum manis.