Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #1

Aku, Trah dan Bapake

(2005)

Bapake sedang mematut diri di depan cermin kamarnya. Aku melihat sekilas dan tersenyum geli. Yeah, ini untuk pertama kalinya bapake akan memakai jas. Mengenakan pakaian yang mungkin hanya dalam angan semata. Ribut sekali mengenai pakaian itu. Harap maklum, ini juga akan jadi pengalaman pertama bagi bapake tampil di muka khalayak. Sepertinya sensasi demam panggung telah lebih dulu menjalari beliau.

Mamake tak kalah heboh. Kebaya telah beliau jahitkan tiga bulan menjelang skripsiku selesai. Demi memilih kebaya pun butuh waktu satu minggu bolak-balik ke toko. Dan aku harus setia menjadi tukang ojek mengantar dari toko kain satu ke toko kain yang lain. Aku rasa toko kain se-Purwokerto sudah habis mamake datangi sampai akhirnya beliau datang lagi ke toko kain yang pertama kali dituju.

Kebaya warna biru tua dengan bunga-bunga kecil tampaknya harus berbahagia terpinang oleh mamake dalam akad yang alot. Kebaya itu berpadu manis dengan batik banyumasan warna senada. Mamake tak lupa membelikan aku kebaya warna orange dikawinkan dengan batik banyumasan warna coklat bersemu orange.

Wiwi, nama lengkapnya Dwi Agustina, adik perempuanku yang nomor dua ikut-ikutan cerewet tentang dandanan mamake nanti. Beda dengan Tri Maretno, adik bontotku yang masih SMP sok cuek memandangi ulah kami sambil sesekali berdecak takjub tidak mengerti.

“Memang Mbak Yun mau kawin?” komentarnya membuat kami kompak ber-ssst ria.

“Anak kecil tahu apa!” hardik Wiwi sengit.

Dolan bae nganah [main saja sana]!” usir mamake.

“Hus hus…” aku ikut mengusirnya seperti menghalau ayam yang sering iseng masuk rumah.

Alhasil Tri cemberut dan langsung pergi setelah puas mencibir kami yang menurut dia sangat norak. Ada benarnya juga anak itu. Cuma akan menghadiri wisuda saja, satu RT—rumah tangga, maksudnya—sibuk.

Sekali lagi mohon memaklumi. Entah kebetulan seperti novel-novel pembangun jiwa yang menimba sukses dari keluarga kurang pendidikan atau kurang mampu. Ini adalah kenyataan bahwa bapake cuma lulusan SD, sementara mamake agak lebih baik lulus sampai dengan SMP. Meski berpendidikan rendah, toh mereka berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Wajar kan, jika fenomena gempita wisuda begitu agung dalam benak beliau-beliau ini. Plus bonus nilai cumlaude yang memaksa bapake harus ikut mendampingiku saat penyerahan ijazah oleh Bapak Rektor nanti.

Sebuah kebanggaan tak terkira. Cita-cita mulia bapake yang ingin anaknya sekolah tinggi tercapai. Obsesi pribadi yang terlampaui melalui anaknya kini.

Bapake sebenarnya keturunan tuan tanah di kampung yang memiliki berhektar-hektar lahan sawah dan ladang. Bahkan wilayah RT yang kami tempati sekarang, dulu merupakan tanah eyang wareng (garis keturunan kelima) yang kemudian diwariskan ke anak cucunya. Jadilah satu RT yaitu RT 3 RW 1 Desa Karang Gantung menjadi Rukun Tangga klan eksklusif. Satu RT kerabat semua.

Lihat selengkapnya