Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #2

Bab 2. Aku dan Lowongan Pekerjaan

Genderang pemanggilan nama Eka Wahyuni ke panggung pengukuhan sebagai Sarjana Ekonomi masih terngiang dalam benak. Seperti mimpi saja. Sayang, genderang megah itu hanya berlangsung kurang dari lima menit. Berganti melodi penolakan nan pilu.

Jika saat skripsi aku mengumpulkan koran bekas dan baru untuk bahan skripsi. Kali ini aku hanya berburu koran baru demi melihat kolom LOWONGAN KERJA. Rajin nongkrong di Pusat Administrasi Kampus, rutin apel ke kantor pos demi tulisan bertuah pada papan info berjudul JOB VACANCY.

Ternyata aku tidak sendiri melakukan “pekerjaan baru” seusai kuliah itu. Berputar-putar ke tempat-tempat bertulis ‘ADA LOWONGAN’. Mencatat berbagai info persyaratan. Mengetik beberapa surat. Mengagendakan surat keluar dan masuk, tak lupa mengirimkan berkas-berkas dalam amplop cokelat. Kadang bengong menantikan pak pos. Jika beruntung melakukan job interview dengan pakaian setil. Itulah pekerjaan bagi sarjana yang baru lulus.

Cukup menenangkan karena banyak teman senasib yang sibuk mencari celah-celah kosong untuk diisi tubuh dan pikiran segar kami. Selalu berjubel kala melongok papan info berkait dengan pekerjaan. Dan tentu saja selalu tidak seimbang antara kebutuhan kerja dengan jumlah pelamar. Satu bangku kosong diperebutkan ribuan orang lapar pekerjaan. Dramatis sekaligus ironis.

Berpuluh-puluh sudah surat lamaran melayang ke kantor tanpa tanggapan. Jika ada yang memanggil hanya berhenti sampai tahap tes tertulis. Jika ada yang memanggil hingga wawancara, sepertinya mereka langsung ilfil begitu melihat penampilanku.

Perlu Sobat ketahui aku ini perempuan berjilbab tak modis dengan tinggi 150 cm. Bapake-mamake yang mungil telah sukses melahirkan generasi yang mini. Tak masalah sih sebenarnya, aku cukup bangga dengan kemampuan otakku. Meski sepertinya perusahaan atau kantor-kantor tertentu sering melihat penampilan terlebih dahulu. Ups! Tapi mungkin ini hanya asumsiku yang tak jua beroleh pekerjaan.

Baiklah, satu hal lagi tentangku. Aku sebenarnya seorang melankolis yang terkontaminasi sanguinis. Jatuhnya ada kesan kuper di awal pertemuan. Masa awal kuliah serangan rasa minder membuatku tersudut di pojokan. Kalah saing dalam hal pakaian dan penampakan wajah teman lain yang glowing. Mereka berhasil mencuri perhatian banyak mata, aku yang mengandung bibit sanguinis dengan kecenderungan ingin popoler_terpaksa menyerah kalah. Membiarkan auara melankolis mengurungku hingga tahun ketiga.

Untunglah aku punya sahabat yang selalu mendorong untuk maju. Caranya yang kadang menyinggung hati ternyata ampuh membuatku mampu keluar dari kepompong rendah diri. Aku punya sesuatu yang bisa membuat mereka beralih memandangku. Benar saja, mereka akhirnya merangkak menyentuhku meski hanya untuk mencuri kecemerlangan otakku. Tak apa, itu cukup membuatku jadi punya banyak teman dari berbagai kalangan. Kalangan minor yang berpenampilan biasa juga kalangan mayor yang mengedepankan fisik indah yang dulu tak terjangkau tangan. Sekarang aku yang jinak-jinak merpati lebih berani terbang sendiri di antara banyak kerumunan mengikuti kata hati sifat sanguinis.

Enam bulan aku lari ke sana kemari demi memenuhi dahaga ilmu yang kupunya. Mengemis demi upah yang akan menaikkan gengsi seorang sarjana baru. Idealis dengan mengharap bila bekerja harus mendapat upah sepadan. Minimal karena di kota kecil satu juta lima ratus di awal baguslah.

Jika sobat bertanya mengapa tidak keluar dari kota kecil dan merantau ke ibu kota? Jawabnya, karena ada sebuah benang halus tak kasat mata yang seolah mengikat leher dan tanganku. Bapake-mamake melarangku pergi melampaui jarak ratusan kilometer. Ada belenggu maya yang mengganduli kaki agar tidak melangkah jauh keluar dari zona karesidenan Banyumas. Bapake-mamake entah sadar atau tidak terlalu bersandar kepadaku. Banyak urusan luar negeri dalam arti keluarga, di luar rumah seperti mengurus KTP, pajak motor, urusan sekolah Tri—si bontot dan segala tetek-bengek perihal surat-menyurat resmi harus aku tangani. Pokoknya tugasku layaknya menteri luar negeri.

Sejak menginjak bangku SMA aku mulai menikmati tanggung jawab yang sebelumnya dipegang oleh Lik Rusdi. Pendidikan rendah bapake membuatnya minder jika harus bertemu orang untuk urusan formal. Dalam pengambilan keputusan demi kepentingan keluarga pun aku berperan sebagai DPA_Dewan Pertimbangan Agung. Betapa hebatnya aku, si sulung perempuan yang gesit ke sana-kemari demi ke-eksisan keluarga.

Pesan suci ini masih aku pegang. Hingga lama-lama tak terasa setitik perasaan takut turut mencengkeram kuduk jika keluar dari area aman bapake. Ya, sudahlah. Mungkin memang rejekiku ada di sini. Bukankah apa yang dikatakan orang tua selalu menjadi azimat sakti. Kalau tidak boleh ya, tidak boleh. Kalau nekat melanggar pasti ada sesuatu tak mengenakan yang bakal terjadi. Aku percaya itu.

Suatu pagi yang sendu saat aku hendak mencuci baju. Mamake tergopoh-gopoh menyorongkan ponsel yang tadinya tergolek di kamar.

“Ada telepon, cepat angkat!” perintah mamake membuatku refleks mengelap tangan basah ke celana kulot pendek.

“Ya, assalamualaikum,” sahutku antusias. “Oh, besok… baik Pak,” kataku membuat mamake penasaran.

“Apa? Siapa?” selidik mamake.

Aku tersenyum penuh arti. “Besok aku dipanggil tes wawancara,”

“Tes wawancara lagi? Kira-kira diterima ra—ngga?”

Lihat selengkapnya