Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #3

Bab 2. Aku dan Wawancara Kerja Kedua

Blus warna biru berpadu dengan jilbab bercorak garis biru menyelubungi tubuh. Pagi-pagi bahkan aku sempatkan menyemir sepatu yang telah mulai kusam. Ledekan Tri yang jahil menggoda kalau aku pantas sebagai tukang semir kali ini tak kurespon. Tri menjadi paham aku sedang tidak ingin diganggu. Kepalaku penuh mereka-reka pertanyaan sekaligus jawaban apa yang akan terlontar dari pewawancara nanti. 

Belajar dari wawancara pertama yang tidak menghasilkan panggilan berikutnya, membuatku terus mengevaluasi di mana letak kekeliruan yang telah aku lakukan. Apakah aku terlihat sangat gugup. Apakah jawaban terlalu mengada-ada?

Seingatku aku menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Sebagaimana tulisan pada buku panduan wawancara yang pernah iseng kubaca saat mampir ke Gramedia. Perlu sobat ketahui, selain buku mata kuliah atau buku pelajaran sewaktu masih menempuh pendidikan, aku bukan tipe orang yang suka membaca. Aku lebih suka melihat dan mendengarkan. Terima kasih pada Bapak Penemu TV, John Logie Bard karena hadirnya membuatku bisa melihat dunia lewat layar kaca. Asal tidak diisi dengan sinetron picisan saja.

Motor sudah ter-starter dengan sedikit peluh. Starter kaki memang bukan pilihan ideal untuk kaum hawa. Tapi lha wong adanya ini, kepriben maning jal, gimana lagi? Aku kan jagonya mengalah. Motor dengan starter tangan, motor keluaran baru dipakai sekolah Tri. Mana mau dia pakai motor jadul seperti yang kupakai saat ini. Gengsi, malu dia bilang.

Kami punya dua motor bukan berarti mau gaya-gayaan. Tapi karena rumah kami susah akses angkutannya. Untuk menuju jalan yang ada angkot lewat harus jalan dulu kurang lebih 700 meter keluar dari kawasan tanah keluarga (keluar pulau Sam). Hal terberat lain adalah ketika harus menunggu angkot yang datangnya bisa sampai satu jam sekali. Itu pun kalau tidak penuh. Kalau sudah full press kayak pindang dalam keranjang dan sampai atap angkot dinaiki terpaksa menunggu satu jam lagi. Bisa lumutan dan berkerak karena menunggu.

Makanya tidak heran jika di wilayah desa Karang Gantung banyak orang yang memiliki kendaraan bermotor buatan Jepang itu lebih dari satu. Pak Gedhe dan Lilik malah pada berlomba punya mobil, meski seringnya hanya sebagai pemanis rumah saja. Bensin mahal! Biaya servis tidak murah! Itu teriak mereka ketika ada yang hendak meminjam.

“Yun!” panggil mamake.

“Dipanggil mamake, Yun,” bapake yang mau berangkat ke sawah meneruskan panggilan mamake.

“Ya, Mak!” sahutku.

“Titip belanja lah? Tek ambilin duit dulu,” kata mamake tanpa sempat mendengar persetujuanku. 

Hhh... aku menghela napas pasrah. Padahal sudah hampir limit waktu. Padahal jika belanja keperluan warung berarti pulangnya aku harus memutar jauh. Tapi sudahlah, demi mamake.

Mamake memang sudah punya toko langganan di Pasar Wage dan mamake fanatik tentang hal itu. Apalagi alasannya kalau bukan harga yang lebih miring dibanding toko lain. Mamake cukup perhitungan soal dagang. Aku banyak belajar dari beliau yang tidak mengenyam bangku sekolah tinggi, minimal SMK jurusan Niaga. Tapi cukup cermat dalam mengantisipasi dan menganalisis keuangan toko kecil kami.

“Ini catatannya,” kata mamake yang menyodorkan secarik kertas dan uang. Selain karena aku pelupa, kertas catatan itu berfungsi sebagai estimasi biaya yang akan dikeluarkan.

“Hati-hati, jawabe sing [jawab yang] bener,” pesan mamake terkait tes wawancaraku hari ini. Sementara bapake cuma memandang penuh arti.

Tepat pukul setengah delapan lebih lima, motor kuhela menyusuri jalanan beraspal kasar menuju jalan raya. Sekilas terlihat tatapan aneh dari saudara-saudara bapake. Aku hanya mengangguk dan membunyikan klakson untuk menyapa mereka. Malas jika menyapa langsung malah berbuntut serentetan pertanyaan yang tidak penting.

Matahari pagi ini bersinar cerah, apa ini pertanda akan diterima. Berlomba aku dengannya, berlomba dengan sorot cahaya yang selalu berhasil melesat bebas di samping tubuhku. Kali ini aku tidak akan kalah! Bisikku. Aku akan lebih bersinar suatu saat nanti.

Dua puluh menit kemudian sebuah kantor yang dua minggu lalu aku beri surat lamaran berdiri dengan pongah. Bangunan unik nan mungil bertiang penyangga tidak simetris berwarna oranye menyolok menyambutku. Pak arsitek tampaknya sengaja membuat dua tiang penyangga teras miring tidak beraturan memberi kesan rumah yang baru saja terkena gempa. Namun terlihat apik dan nyentrik.

Aku memarkir motor bersama deretan motor lain. Celingak-celinguk sebentar mengawasi situasi mencari sasaran tuju. Sekerumun orang membuatku terseret mendekat.

“Maaf, tes wawancara sebelah mana?” tanyaku sebelum tersesat.

Lihat selengkapnya