Memang sungguh tak mudah menjual barang-barang yang notabene belum terkenal dengan menggunakan gambar pula. Pak Gedhe Ruslan tidak mau mengambil resiko membeli lemari yang belum jelas dari kayu apa, halus tidak peliturannya. Mbak Nani saudara sepupu yang kutawari tas juga mengungkapkan hal yang sama. Dia tidak yakin barang yang kujual bagus dari segi kualitas dan tidak menipu dari segi model. Biasanya kan, digambar terlihat bagus tapi ternyata barang nyatanya tidak seperti dalam gambar. Lilik Parjo yang kutawari sepatu, khawatir nanti tidak bisa pas dengan ukuran kakinya. Lebih mantap kalau beli sepatu ya, mencoba langsung. Biar ketahuan nyaman tidak dikaki, begitu kata Lilik Parjo.
Akhirnya bapake rela menyerahkan uang hasil panen untuk membeli lemari. Lemari yang nantinya bakal buat aku juga, karena pada dasarnya aku tidak punya lemari pribadi. Baju-bajuku masih bercampur dengan lemari Wiwi yang saat ini berada di asrama pendidikan kebidanan di Kebumen. Untuk sepatu, Mas Han ternyata mau berbaik hati membeli. Sementara teman dekatku Sifa, setelah memohon dengan mimik memelas akhirnya mau mengambil tas untuk menambah koleksi tasnya.
Alhamdulillah uang berhasil kukumpulkan kurang lebih Rp. 3.075.000,- sudah melebihi target. Besok tinggal setor. Pasti aku diterima. Mengingat itu aku jadi senyum-senyum sendiri sambil memeluk uang yang ada di tangan.
“Mak! Pak! Gawat! Mbak Yun stres!”
Sekelebat bayangan berhasil tertangkap dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Pasti Tri mengintip dan mengabarkan ulahku itu pada dunia. Spontan aku menghambur keluar ingin segera membungkam mulut Tri yang berkoak-koak seperti burung goak (gagak).
“Mak, masa Mbak Yun, senyum-senyum sendiri sambil memeluk duit,” lapor Tri yang sedang ditanggapi mamake dan bapake di ambang pintu warung.
“Pengacau!” aku langsung menjitak kepalanya.
“Aauuw, beneran koh!” Tri membela diri sambil melindungi kepalanya.
Bapake-mamake cuma senyum-senyum melihat ulah kekanakan kami.
“Dasar tukang gosip!” rutukku sengit segera berlalu dari Tri yang usil.
“Wah, kayaknya harus segera dibawa ke RSJ, Mak,” sayup-sayup suara Tri masih berkicau tentang penemuannya.
“Hush, kamu tu. Mbekayune [kakak perempuan]sendiri dibilang gila,” sambar Mamake.
“Mamake nggak lihat sendiri sih,”
Aku abaikan percakapan yang dipicu oleh mulut rombeng adikku. Aku mulai fokus pada esok pagi dengan burung-burung yang akan berkicau merdu dan mengelu-elukan aku. Bukan menjatuhkan seperti ceracau Tri itu.
Aku melongok lemari baju Wiwi dan mencermati koleksi bajuku yang cuma beberapa gelintir. Baju-baju yang cocok buat keluar dan masuk kantor tentu saja. Jari-jariku mulai menimbang, ah, ini dia! Kemeja krem akan cocok dengan celana cokelat. Lalu kerudungnya? Yang kuning bunga-bunga saja, biar ramai.
Seperti kerudung yang akan kupakai esok, hati yang penuh bunga akan kubawa ke hadapan mamake yang tengah menjaga warung. Karena selanjutnya giliran aku yang menunggui warung.
***
Sobat tahu kan, iklan pelembut pakaian yang dari bajunya keluar bunga-bunga semerbak. Demikian pun dengan aku saat ini. Aku tidak sedang mengiklankan salah satu produk pelembut dan pewangi itu, tapi dari tubuhku ribuan bunga keluar melewati kerudung yang berkibar dijilati sang surya.
Kantor tampak lengang. Entah mengapa ada setitik keraguan terbetik. Perlahan langkah kupijak seraya mengusir debu keraguan itu. Sesuatu yang berkilau memaksa wajahku nyengir menahan sorotnya.
Berhasil melampaui area silau, ruang teduh menyergapku, membuat binar optimisme yang tadi nyaris tenggelam menyeruak di antara wajah-wajah layu yang terpajang di depan. Ada tujuh orang yang duduk berderet di seberang tembok tempat ruang wawancara dulu. Mereka sibuk mendesah, menghela napas, menggetarkan lutut secara berirama, memencet tuts HP tak beraturan. Mereka memandang acuh tak acuh. Dan kuanggap ini nilai keberuntunganku.
Belum sempat pantatku mencium bangku yang tersisa, sebuah suara membuatku bangun canggung. Untung aku belum punya sakit encok, tak terbayang jika detik itu aku punya penyakit itu, pasti tubuhku langsung kaku pada posisi setengah membungkuk tak bisa tegak.
“Mbak Yun sudah hadir?”
“Iya,” aku mengangkat tangan membiarkan ketiak menguar aroma khas memabukkan.
“Silahkan, masuk!”