Gagal dengan pekerjaan sebelumnya. Aku kembali pasrah datang pada sebuah kantor yang menerima lamaranku. Berpuluh orang datang untuk mendengar penjelasan cara menjual alat-alat listrik door to door. Piawai sekali orang itu berkisah. Aku memperhatikan dengan seksama, kuanggap ini ilmu baru yang berguna. Jika toh esok harus mempraktekkannya, tak masalah. Kekhawatiranku justru pada sanggupkah aku mengetuk pintu rumah orang, lalu merunduk-runduk dan menguar tentang dagangan.
Akankah wajahku langsung pias begitu mendapat penolakan. Akankah cengiran kuda tertampil ketika si empunya rumah menatap sadis pada profesi salesku. Akankah aku berlari gemetar manakala diteriaki anjing dengan salaknya.
Baiklah, tidak ada salahnya mencoba bukan? Kata-kata Seto tiba-tiba terngiang di telinga. Benar juga, segala sesuatu, siapa pun bisa jadi guru tanpa harus menyandang gelar S.Pd atau Master Pendidikan. Sekolah kehidupan nyata lebih memberikan kesan dibanding teori-teori bapak dosen yang hanya mengungkap dalil para ilmuan. Ilmu bangku pendidikan kadang tidak bisa langsung diterapkan, kawan. Maka carilah ilmu fakta dari kehidupan dan pengalaman nyata. Itu yang pernah aku dengar. Belum praktek juga, sih. Ah, sepertinya aku juga baru berteori. Kita lihat saja nanti.
Ada sebuah kesalahan dasar tentang diriku. Aku benar-benar buta dunia kerja dan tetek bengeknya. Lupa jika ada media yang bisa mengajari agar mengerti pekerjaan secara terorganisir. Aku terlalu menikmati peran sebagai mahasiswa yang baik, setelah kuliah selesai langsung pulang rumah membantu mamake dan mengerjakan tugas dari kampus saja.
Padahal ada puluhan organisasi yang bisa mengajariku cara bersosialisasi dengan pekerjaan kantor. Kupikir Sifa teman sehidup seperjuangan di kampus yang sebentar lagi wisuda akan memiliki nilai plus di pasar kerja nanti. Dia aktif dalam organisasi kampus Koperma (Koperasi Mahasiswa) bahkan sempat menduduki posisi manajer minimarket. Bentuk usaha yang dikembangkan oleh Koperma.
Dulu aku pernah ikut masuk, tapi lama-lama rasa enggan menelusup mengganti dengan dalih harus banyak belajar agar IPK-ku terus menanjak. Titik. Alasan kedua karena masalah kesehatan, kepalaku sering migran jika terlalu banyak beraktifitas dan terpampang matahari. Penyakit maag-ku pun bisa turut kambuh.
Hari ini aku mulai bekerja dengan memakai seragam kuning dan celana warna hitam. Seragam yang wajib pakai saat promosi ke rumah-rumah. Untuk pria harus memakai dasi sebagai pemanis kemeja. Kata bos, penampilan rapi bisa memberi kesan bagus pada awal pertemuan. Okelah, kalau begitu.
Kami berdua belas bergerak menuju titik-titik yang baru saja di-briefing pagi tadi. Aku berpasangan dengan Tari yang punya pembawaan pendiam. Jadilah aku yang harus terus memancing percakapan bahkan saat menghadapi konsumen dengan sedikit kata belepotan, yah karena belum berpengalaman menjajakan barang. Akulah yang maju pertama dan berusaha menebalkan muka.
Tidak hanya satu dua kali kami mendapat penolakan sebelum pintu terbuka. Sempat surut tapi aku tidak boleh kalah sebelum ada satu barang terjual. Ternyata memang susah menembus home market. Meski si bos berkoar-koar akan sangat menguntungkan jika bisa menjual ke setiap rumah.
Aku pun memberanikan diri mengajukan usul agar target berubah dari kantor ke kantor. Si bos tampak mengernyit, lalu berujar berapa jumlah kantor yang ada di Purwokerto. Bandingkan dengan jumlah rumah, lebih banyak mana?