Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #7

Bab 2.5. Aku dan Sangkar Kebebasan

Sepucuk surat yang kuidamkan tiba membawa kabar gembira. Surat cinta dari sebuah perusahaan kontraktor menginginkan diri menjadi staf administrasi. Dadaku serasa mau pecah. Gejolak panas dingin bergantian menyergap, sebab keputusan berangkat atau tidak berada pada dewan orang tua.

“Pekerjaan sebagai admin tidak akan banyak menguras energi, dan aku tidak perlu berpanasan hingga migran. Soal makan aku akan selalu membawa cemilan dan berusaha makan tepat waktu.” aku mengungkapkan sebuah janji.

“Cilacap?” desah Bapake. Matanya segera beralih ke tempat lain.

“Tidak terlalu jauh Pak, cuma dua jam perjalanan koh,” terangku.

“Tapi itu jauh, Yun. Kalau ada sesuatu terjadi padamu baru dua jam kami bisa datang menolong,” sanggah Mamake. Beliau memang sejak awal pencarian kerjaku secara tidak langsung menyalakan lampu merah pada pilihan tempat kerja di luar kota.

“Memang Yun, bayi?” aku terkekeh.

“Jadi kamu tidak kasihan sama Bapake dan Mamake yang kamu tinggal? Di sini kami juga butuh kamu, Yun.”

“Mak!” sergah Bapake tidak terduga. Apa itu sebuah pertanda kalau Bapake mau melepasku, setelah desah beratnya tadi?

“Nanti yang bantu mamake belanja siapa? Yang datang ke sekolah Tri kalau ada rapat atau penerimaan rapot, siapa?” cerocos Mamake tak mengindahkan peringatan Bapake.

“Mak, kalau urusan sekolah Tri, aku bisa minta tolong Rusdi. Kalau soal belanja nanti aku bisa berangkat sendiri.”

“Yakin, berangkat sendiri?” Mamake menyangsikan ucapan Bapake.

Bapake langsung diam. Seperti dia sendiri juga tidak yakin mau belanja ke pasar, sesuai mandat istrinya.

“Masalahnya sekarang, Yun habis sakit. Kalau nanti sakitnya kumat bagaimana?” Mamake mengutas alasan lain.

 “Aku tentu saja khawatir. Mana ada bapak yang rela anaknya pergi jauh. Apalagi kondisi badannya tidak begitu fit,” balas Bapake. “Tapi ini kesempatan bagus buat Yun mendapat pekerjaan yang baik.”

“Di sini juga banyak pekerjaan bagus. Kalau Yun mau lebih sabar lagi.”

“Mamake!” seru Bapake mulai tidak sabar.

“Tidak usah membentak!”

Aku mengkerut. Bagaimana ini? Bapake sama mamake malah jadi bertengkar. Aku menghela napas panjang.

“Ya sudah, Yun tidak ambil pekerjaan itu,” kataku membuat wajah Bapake dan Mamake tidak terlihat saling serang. Mereka balik menatapku dengan mimik bingung. “Kalau keputusanku ini bisa membuat Bapake-Mamake akur,” aku kini menahan napas yang sesak, lalu beranjak dan membawanya masuk ke peraduan.

Kelu tercekat di tenggorokan. Begitu mencium bantal, dua tetes air menggenang di pelupuk mata. Kubiarkan ia meresap dalam kapuk bantal. Ah, sudahlah Yun, pasti akan ada pekerjaan  lain yang datang. Seperti kata mamake.

Lihat selengkapnya