Menunggu datangnya bintang besar membuatku mengantuk dan akhirnya terlelap. Alarm azan Subuh bersahutan memanggil menggugah lena. Selamat datang pagi! Apa hari ini akan indah? Aku menguap lebar mengusir sisa kantuk. Melipat selimut yang sering berubah menjadi alas tidur lalu menyisir rambut ala kadarnya dan keluar.
Mamake selalu bangun lebih awal. Biasanya mamake sudah duduk depan tungku menanak nasi. Sebenarnya ada rice cooker yang mamake beli lewat arisan. Sayang, lidah bapake tidak suka dengan aroma nasi dari alat penanak listrik itu. Bapake sempat protes dan meminta mamake memasak nasi pakai api saja, pakai tungku lebih sedap lagi. Aku mengiyakan pendapat bapake. Beda dengan Wiwi dan Tri yang lebih suka nasi rice cooker yang sekaligus sebagai pemanas. Karena kalah suara Wiwi dan Tri cuma bisa manyun tanpa mengurangi porsi makan mereka.
Sehabis salat gantian aku yang menunggui tungku. Mamake yang selanjutnya melaksanakan salat Subuh, karena beliau selalu bangun mendahului azan dan salat setelah aku bangun agar bisa menggantikan sekejap pekerjaan utama dapur. Di dapur fungsiku hanya sebagai asisten. Jadi jika suatu saat harus memasak jangan tanya rasanya. Pasti hancur banget, rasanya seperti pakan ternak, sebagaimana olokan Tri.
Pagi ini menjadi hari terakhir aku membantu mamake di dapur. Aku benar-benar ingin menikmati kebersamaan yang entah kapan akan terulang. Setidaknya tidak dalam waktu dekat. Mungkin baru seminggu lagi, atau dua minggu lagi. Jiwa melankolis mengambil alih kendali diri. Apalagi mamake berkata tentang sesuatu yang membuat pilu.
“Besok tidak ada yang menemani mamake di dapur.” Mamake tersenyum dipaksakan.
“Mak,” rintihku.
“Kamu bekerja yang baik di sana,” kata Mamake kemudian mengangkat panci nasi yang telah matang. “Makan jangan telat. Jangan terlalu capek.”
“Iya, Mak,” sambutku tersenyum sembari mengiris bawang terakhir.
“Sudah selesai? Mandi sana. Jam delapan harus sudah berangkat. Harus cari tempat kos dulu, mbok?”