“Cari kos yang dekat saja ya, sekitar sini,” kata Bapake celingukan mencari kawasan yang menurutnya aman sebagai tempat kos putrinya.
Kami segera berlarian kecil dengan sepeda motor di antara rumah penduduk sekitar kantor. Adakah yang bersedia menampung anak kos. Kami berputar-putar mencari siapa tahu ada rumah yang bertuliskan menyediakan kos putra/putri. Nyatanya nihil. Hampir semua rumah tertutup rapat dengan pagar pintu gerbang tinggi.
“Tempat yang tidak bagus,” komentar Bapake.
Aku paham maksudnya. Di wilayah desaku, rumah-rumah yang ada hampir tidak berpagar. Itu bisa diibaratkan bahwa warga terbuka bersedia menerima siapapun, kapanpun untuk bertandang.
“Kita tanya dulu saja, Pak,” usulku berhasil menghentikan lari si Yamaha.
“Coba kamu tanya Ibu itu!” tunjuk Bapake pada dua orang ibu yang satunya menggendong bayi sambil membawa payung. Dan yang satu lagi tampak habis belanja dengan dua tas plastik besar di tangan kanan-kirinya.
“Maaf Bu, mau tanya,” aku memotong percakapan mereka dengan sopan. Tentu setelah turun dari kendaraan, dan menghampiri keduanya dengan malu-malu segan.
“Iya,” sahut salah satunya. Seorang perempuan muda yang menggendong bayi. Rambutnya dicepol asal tetapi terlihat manis.
“Di sini rumah yang menerima kos mana ya?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Mencari tempat kos?” Ibu yang membawa belanjaan menyahuti. Kerudung bunga-bunga tampak miring menyelubungi kepalanya. “Rumah Bu Dasim. Dari sini sampai perempatan sana belok kanan nanti ada rumah warna oranye. Di situ banyak yang nge-kos. Tapi kalau masih ada kamar kosong. Coba saja Mbak ke sana,” lanjutnya langsung menjelaskan dengan rinci dan detail.
“Oh ya, makasih Bu,” kataku lalu ber-say hello pada si bayi montok yang sedari tadi memandangku. “Ada alternatif tempat lain, Bu?” aku sempatkan bertanya lagi sebelum berlalu.
“Setahu saya cuma tempat itu, Mbak?” ucapnya tersenyum. “Atau rumah kamu Rin, mau di koskan. Rumahmu besar mbok?” si Ibu dengan belanjaan bertanya pada si ibu muda yang menggendong bayi.
“Untuk berapa orang sih, Mbak?” tanya si Ibu muda bernama Rin.
“Cuma saya,” jawabku nyengir. “Ayolah, Bu. Cuma untuk satu kamar,” kataku memprovokasi demi mendengar rumah ibu muda ini besar. Dan lagi aku suka bayi, mahluk mungil itu selalu menarik hatiku.
“Tapi mertua saya tidak suka ada orang lain di rumah. Priwe ya? [gimana ya]. Sudah memberi amanat sisa kamar jangan dikoskan. Itu untuk cadangan kalau keluarga besar datang.”
“Oh,” spontan aku dan si Ibu belanjaan bergumam.
“Ya sudah, saya coba ke rumah Bu Dasim aja kalau gitu,” kataku lalu pamitan tak lupa sedikit mencolek bayi montok yang masih saja terkesima padaku.
“Mbake sih dari mana?” seru si Ibu belanjaan.
“Purwokerto, Bu!” seruku berpaling tak lupa cengiran khas Yuni.
“Oo... Purwokerto,” tanggap si Ibu belanjaan singkat.
Aku mengangguk, “Mari, Bu!” pamitku lagi tidak mau membuang waktu. Kasihan bapake yang sudah menunggu.