Pukul 07.00 WIB, tiga puluh menit sebelum jam masuk kantor, aku telah melenggang jalan kaki menuju kantor CV Maha Karya. Jaraknya kurang lebih tujuh ratus meter dari tempat kos. Kuanggap ini olah raga pagi. Sebenarnya bapake menyuruh bawa motor yang biasa kupakai. Tetapi aku tolak, sebab rumah lebih membutuhkan motor itu.
Berdebar seperti biasa saat pertama kaki menjejak pintu gerbang kantor. Masih tampak lengang. Aku melongokkan kepala mengintai situasi. Seorang wanita duduk menghadap ke arah pintu. Dia tampak sibuk dengan kertas-kertas di meja. Wah, pagi sekali dia sudah mulai bekerja. Matanya kemudian seketika menangkap sosokku yang berdiri ragu di ambang pintu.
“Monggo, Mbak!” sapanya. “Ada yang bisa dibantu?”
Aku membuka tas slempang dan mengeluarkan amplop cokelat sebagai senjata penguat bicara.
“Minggu kemarin saya dipanggil untuk bekerja di sini,” kataku seraya menyerahkan selembar surat yang telah telanjang.
“Oh ya, Mbak Eka Wahyuni. Tunggu dulu ya Mbak, bos belum datang,” katanya mempersilakan aku duduk di sofa sudut untuk tiga orang. Sofa sudut yang terletak sebelah kanan pintu masuk berseberangan dengan wanita yang kini berkerut-kerut memilah-milah aneka nota yang bertebaran di meja.
Selama satu jam aku terbengong-bengong melihat satu dua orang berseliweran lewat depan mata. Terbiar menatap tembok kosong, sesekali mengamati wanita berambut pendek yang usianya kurang lebih beberapa tahun di atasku.
Saat aku sibuk memainkan ujung kerudung dengan memilin-milin, seorang pria dengan rambut nyaris botak melenggang dengan elegan. Aku berprasangka pasti ini bosnya. Apalagi wanita berambut pendek tadi langsung menyusul masuk begitu dia lenyap ke salah satu pintu dari dua pintu yang ada. Pintu yang sedari tadi tertutup, tak seorang pun menjamah kenop pintu itu, hingga seorang pria berumur sekitar 40 tahunan tanpa ragu menyelinap ke balik pintu.
Pintu itu terbuka lagi. Wanita berambut pendek keluar lalu mempersilakan aku masuk ruang yang tampak keramat bagi anak buah. Aku mengetuk pintu dengan ragu sampai suara lantang dari dalam menyuruh masuk.
Senyum simpul menyambut hadirku.
“Siap untuk bekerja?” tanyanya to the point tanpa menanyakan kabar atau basa-basi bertanya nama panggilan.
“Siap, Pak!”