Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #11

Bab 2.10. Aku dan Para Buruh

“Ada yang tidak beres,” bisik Widi.

Aku menggangguk setuju. Masih menerka gerangan apa yang membuat wajah bos yang biasanya bersinar tiba-tiba mendung. Mungkinkah habis bertengkar dengan istri. Hush! Halau hatiku pada pikiran buruk seperti itu.

“Wid!” Muka mendung si Bos telah menggantung di pintu.

Widi paham dan segera menyusul masuk ke ruangan Pak Bos. Sepuluh menit kemudian Widi keluar tanpa berkomentar apa pun. Dia lalu masuk ruang Pak Swapna lagi. Nama bosku; Swapna Kertajasa. Sepertinya aku belum pernah menyebutkan namanya selama ini. Widi pernah bilang kalau nama Bos kami, benar-benar menggambarkan dirinya yang penuh impian dan cita-cita setinggi angkasa raya. Ketika aku bertanya bagian nama mana yang mencerminkan diri si Bos, Widi menyahuti dari kata Swapna. Aku hanya manggut-manggut sambil melakukan cocoklogi, benarkah itu?

Oh ya, tadi sebelum Widi masuk ke ruang Pak Swapna, dia sempat mengaduk-aduk tumpukan berkas yang ada di lemari yang selalu terkunci. Sekilas aku melihat, buku yang Widi angkut terdiri dari buku kas, buku jurnal dan buku laporan rugi laba. Aku hanya bengong memperhatikannya, dengan menyimpan sejuta pertanyaan yang tertahan di tenggorokan. Bahkan ketika Widi kembali ke kursinya, tidak ada penjelasan yang keluar dari mulutnya. Aku pun menunggu. Membiarkan rasa penasaran mengendap hingga beberapa hari kemudian.

Widi yang biasanya begitu terbuka sejak Pak Swapna memanggilnya, berubah tertutup dan sepertinya jadi enggan bicara padaku. Tiada detik, menit hingga jam yang tak dia habiskan menatap buku dan nota-nota dengan muka kusut. Aku Ingin sekali bertanya dan membantu, tetapi aku coba menahan diri tetap fokus pada pekerjaanku.

Masuk bulan kelima saat tiba waktu gajian barulah Widi bercerita kalau perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan. Pihak bank yang akan mendanai proyek yang sedang berlangsung membatalkan pinjaman tanpa alasan yang jelas. Intinya untuk bulan ini aku dan teman-teman lain tidak gajian sampai Pak Swapna berhasil melakukan lobi pada bank lain.

Ada satu tugas berat yang harus aku tanggung. Widi memintaku menyampaikan kepada para pekerja alasan mengapa bulan ini gaji belum bisa keluar hingga satu minggu saat penerimaan. Dia terlihat sangat enggan mengabarkan berita tidak menyenangkan tersebut pada para pekerja. Apalagi ketika mulai ada pemogokan kerja. Aku ditunjuk sebagai penyampai pesan langsung ke lapangan.

Terus terang ada perasaan gentar menghadapi puluhan kuli yang menatap dengan perasaan kesal. Aku mencoba semampuku menyampaikan apa yang menjadi amanat Widi kepanjangan tangan dari Pak Swapna. Aneka teriakan menghujat, tepatnya menghujat si Bos berluncuran. Tetapi tetap saja aku juga kena imbas, meski aku sudah mengatakan dengan lugas bahwa semua gaji karyawan tertunda. Tidak hanya mereka yang tidak gajian.

“Sampai kapan? Anak istri sudah kelaparan!” Seseorang berteriak dan mendapat sambutan riuh dari yang lain. Suara mereka sekarang bersahut-sahutan mengecam.

“Untuk itu,” aku melirik Mandor Jaja yang menemani. Tak ada reaksi, aku jadi bingung dan panik. “Saya juga tidak tahu,” jawabku lantang membuat keadaan semakin gaduh.

“Huuu!”

Priben sih?”

“Bubar bae lah!”

“Ambil saja material yang ada trus kita jual.”

Seru mereka bersahut-sahutan saling provokasi.

“Kami tidak akan bekerja kalau tidak dibayar!”

Lihat selengkapnya