Pada Suatu Titik

Xie Nur
Chapter #12

Bab 2.11. Aku dan Luka Yang Menganga

Aku merasa sedang berada di pantai melihat warna jingga langit bersentuhan dengan biru laut. Tiba-tiba matahari meluncur ke arahku hingga silaunya menusuk mata. Spontan aku menutup penglihatan dengan tangan seiring suara serak bapake terdengar.

Wis sadar?”

Nyeri dikepala bertambah parah saat menyadari diri tergolek di atas kasur putih dengan selang infus membelit. Aku mengangkat tangan yang bebas ingin mengetahui gerangan apa yang membuat kepalaku terasa berat. Tetapi tangan bapake dengan sigap menahan.

“Jangan sentuh,” cegah Bapake.

“Lho wis sadar?” Suara mamake yang muncul dari luar membuatku memaling padanya. Lebih tepatnya memutar bola mata ke arahnya, karena kepalaku terasa susah digerakkan.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Kepalamu terluka sampai dijahit 20 jahitan,” terang Mamake yang kemudian dihalau Bapake.

“Biar Yuni, istirahat. Jangan diceritai macam-macam!”

“Lha wong tanya,” kedumel Mamake.

Ra pa-pa, cuma luka luar,” kata Bapake menenangkan. Padahal aku merasa kepalaku sangat pusing. Aku sungguh ingin tahu ada apa dengan kepalaku dan perlakuan apa saja yang dilakukan dokter pada lukaku.

“Yun tahu juga nggak ngaruh,” kataku pada Bapake. “Rasanya enak banget,” kataku lagi tertawa. “Aaauw!” tawaku berhasil membuat tarikan yang menyakitkan.

“Tuh kan,” sembur Mamake. “Jangan tertawa dulu!”

“Kata dokter, dua hari lagi bisa pulang rumah kalau lukamu membaik,” terang Bapake. “Nanti aku pinjem mobil Pak Gedhe Ruslan.”

Aku terdiam. Ya Tuhan, mengapa justru kesusahan lagi yang kuhadirkan untuk keduanya. Aku bekerja belum sempat memberi sesuatu kepada mereka. Sekarang seharusnya giliranku memberi malah diberi lagi. Aku menghela napas seraya membisikkan permintaan maaf pada bapake-mamake yang sama sekali tak menuntut apa-apa. Ini sungguh memalukan!

“Kalau sakit, tidur lagi saja,” saran Mamake sambil membetulkan selimut.

Aku memperhatikan ruang tempatku terbaring. Ada 8 tempat tidur berjajar empat berhadap-hadapan. Masing-masing tempat tidur disekat gorden warna hijau. Saat ini hanya satu gorden di ujung ruang yang tampak tertutup. Yang lain terbiar terbuka bisa saling pandang kemalangan yang menimpa. Ini adalah kamar super ekonomi. Salah satu dari tipe ruangan di Rumah Sakit Pertamina Cilacap.

Lihat selengkapnya