Aku sudah pulih luar dalam ketika aku mendapat panggilan kerja lagi. Kurang lebih hampir tiga bulan aku kembali menjadi petualang caker_cari kerja. Nangkring sana nongkrong sini, bertukar cerita dengan teman-teman senasib. Terus terang aku iri dengan Runi sobatku yang lain, begitu lulus langsung bisa bekerja di BKD Banyumas.
Meski kala mendengar ceritanya betapa dia seperti pekerja rodi. Berangkat pagi pulang menjelang malam. Pekerjaan seakan tiada pernah berakhir. Kupikir itu resiko pekerjaan. Bukankah gaji yang didapat juga sepadan. Masa depan terjamin tak khawatir kena PHK mendapat uang pensiun pula. Dalam hati aku berbisik suatu saat pasti bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Aku dipanggil kerja oleh perusahaan finance. Bank perkreditan harian. Untuk masuk aku harus membayar sejumlah uang yang mereka bilang sebagai investasi yang bisa diambil jika mengundurkan diri setelah bekerja selama 20 tahun.
Gaji yang mereka tawarkan satu juta lima ratus. Sangat menggiurkan untuk ukuran gaji di wilayah Banyumas. Setengah ragu-ragu aku konsultasikan bakal pekerjaan baruku pada bapake-mamake. Bagaimana tidak, pekerjaan ini akan menguras uang bapake-mamake lagi. Jika aku mau mengambil pekerjaan itu berarti harus menyerahkan investasi minimal dua juta lima ratus ribu rupiah.
Bapake-mamake terdiam sesaat. Aku tahu mereka sedang mereka-reka mencari pinjaman. Waktu panen masih dua bulan lagi. Aku sungguh tak ingin membebani keduanya. Ingin mencari pekerjaan lain saja, tetapi mereka menyanggupi menyediakan uang tersebut.
Pada hari penentuan aku masih termangu di kamar. Uang telah tergenggam di tangan. Enggan sobat, saat akan melepas uang itu. Entah berapa banyak lagi uang yang harus bapake-mamake keluarkan untuk menyokongku.
“Belum siap-siap?” kepala Mamake menyembul di antara sela pintu yang setengah terbuka.
“Aku cari kerja lain saja ya, Mak,” kataku mencengkeram uang hasil peluhnya. “Sayang.”
“Ada kesempatan bekerja mengapa tidak diambil. Mamake masih sanggup kok bantu kamu.”
“Tapi, kalau kerja harus bayar-bayar begini. Tidak sesuai dengan hati.” Aku mendesah berat.
“Itu tidak cuma-cuma. Kamu harus ganti ke Bapake-Mamake nanti.” senyum merekah di mulut Mamake. “Gajimu nanti kan besar, pasti bisa lekas mengembalikan.”
Aku diam sambil menghitung dalam hati. Gaji satu juta lima ratus, mungkin aku bisa mencicil satu juta per bulan selama 2 bulan lebih sedikit. Sisanya selama proses pengembalian bisa untuk membeli keperluan pribadi. Dan aku masih bisa membantu membeli keperluan dapur mamake. Yah, meski sedikit-sedikit.
“Sudah cepat ganti baju trus berangkat!” kata mamake menggugah lamunku.
“Hehe... iya, ya.” aku manggut-manggut. Baiklah, kalau Bapake-Mamake sudah rida segala akan baik-baik saja.
Ada harapan baru mencerahkan ruang pikir yang kemarin meremang. Aku sangat bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mendukung usaha anaknya. Apa pun itu, meski harus kembali berpeluh darah. Jika saatnya tiba aku pasti akan membalasnya. Yah, mungkin semua nanti tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan, tetapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik.
Kantor Batramas terletak di Bancar Kembar. Sebuah bangunan besar lebih mirip rumah terletak melesak 200 meter di sudut jalan buntu. Tidak ada bangunan lain pada jalan yang bisa dibilang gang besar. Jadi kantor megah itu terlihat mentereng dari arah jalan utama.